PTK ACTIVE LEARNING SDN PULAU KEMBANG

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Matematika merupakan  ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran  penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi, informasi, dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika (Depdiknas, 2008 : 134).
Matematika melatih dan meningkatkan kemampuan berpikir logis, avalitis, sistematis, krtis dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Peserta didik sejak dari sekolah dasar perlu dibekali dengan kemampuan-kemampuan tersebut.
Proses belajar/mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatu berarti, setiap kata, pikiran, tindakan dan asosiasi, dan sejauh guru mengubah lingkungan, persentasi dan rancangan pengajaran, sejauh itu pula proses belajar berlangsung (Lozanov, 1978  dalam Quantum Teaching, 2007 : 3). Pembelajaran matematika akan menarik minat siswa dan menjadi pelajaran yang disenangi siswa apabila pembelajaran itu dirancang dan disajikan secara menarik, menantang, dan melibatkan seluruh siswa secara aktif. Guru harus memikirkan dan mengupayakan suatu siasat tertentu dalam proses interaksi pembelajaran, atau mengatur suatu strategi pembelajaran . dalam pembelajaran matematika perlu adanya keterampilan guru agar siswa tidak hanya sekedar menerima informasi dan menghafal suatu konsep. Keterampilan tersebut dapat berupa pemanfaatan atau penerapan model pembelajaran, metode mengajar sampai pada penggunaan media pengajaran yang sesuai.
Kenyataan saat ini menunjukkan  bahwa pembelajaran di sekolah dasar dalam upaya mencapai tujuan masih belum memenuhi harapan. Indikasinya terlihat dari rendahnya nilai hasil belajar siswa. Dari data laporan hasil belajar  kelas IV SDN Pulau Kembang pada semester genap tahun ajaran 2009/2010 diketahui nilai rata-rata 54 di bawah nilai ketuntasan belajar 65 seperti yang disyaratkan kurikulum.
Hal ini apabila dibiarkan dan tidak segera diatasi akan berakibat pada lemahnya kemampuan (skill) siswa pada pemecahan masalah matematika yang berlangsung pada rendahnya prestasi belajar siswa.
Latar belakang inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan menerapkan strategi active learning.

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.      Apakah strategi active learning dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar materi satuan ukuran waktu, panjang dan berat di kelas IV SDN Pulau Kembang Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan?
2.      Apakah strategi active learning dapat meningkatkan aktivitas guru  dalam pembelajaran materi satuan ukuran waktu, panjang dan berat di kelas IV SDN Pulau Kembang Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan?
3.      Apakah strategi active learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam terhadap  materi satuan ukuran waktu, panjang dan berat di kelas IV SDN Pulau Kembang Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan?

C.  Rencana Pemecahan
Untuk memecahkan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan 2 siklus dengan 4 kali pertemuan. Kegiatan pembelajaran yang dilakuakn adalah penerapan strategi active learning terhadap materi satuan ukuran pada pelajaran matematika kelas IV SDN Pulau kembang Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan.

D.  Tujuan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk:
1.        Mengetahui aktivitas pembelajaran yang dilakukan guru dalam menerapkan strategi active learning.
2.        Mengetahui aktivitas siswa dalam menerima pembelajaran  menerapkan strategi active learning.
3.        Mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan strategi activ learning.

E.  Manfaat Penelitian
1.        Bagi siwa diharapkan meningkatkan aktivitas belajarnya sehingga prestasi belajarnya pun meningkat.
2.        Bagi guru, hasil penelitian diharapkan memberikan manfaat sebagai bahan masukan dan pilihan bagi upaya peningkatan kualitas pembelajaran.
3.        Bagi kepala sekolah, hasil penelitian ini diharapkan berguna sebagai informasi dan memberikan motivasi bagi guru dalam memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan tingkat perkembangan peserta didik.








BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.  Kerangka Teori
1.    Belajar Aktif
Belajar aktif merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan strategi-strategi pembelajaran yang komprehensif. Belajar aktif meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik aktif sejak awal pembelajaran melelui aktifitas-aktifitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran. Juga terdapat teknik-teknik memimpin belajar bagi seluruh kelas, bagi kelompok kecil, merangsang diskusi dan debat, mempraktekkan keterampilan-keterampilan, mendorong adanya pertanyaan, bahkan membuat peserta didik dapat saling mengajar satu sama lain (Siberman, 2007 : xxii).
Belajar yang paling baik adalah dengan cara melakukan, artinya peserta didik dituntut untuk terlibat aktif dari panca indra, nalar, rasa, dan karsanya untuk dapat memperoleh hasil yang optimal. (Silberman, 2007:xii)
Salah satu prisip dalam “Quantum Learning” karya Bobby De Porter adalah bahwa belajar itu harusnya mengasyikkan dan berlangsung dalam suasana gembira. Sehingga pintu masuk untuk informasi baru akan lebih lebar dan terkam dengan baik.
Konsep ini akan mudah terlihat dalam cara belajar anak-anak dan dalam dunia olahraga. Mereka melakukan aktivitasnya dengan gembira. Mereka belajar dengan spontan dan tanpa beban, hasilnya sangat efektif.
Begitu pula dengan dunia olahraga. Sebuah kegagalan atau kekalahan dalam bertanding akan diterima dengan wajar dan dijadikan umpan balik positif dan dijadikan motivasi kearah pencapaian yang lebih baik dipertandingan berikutnya. Ini bisa terjadi karena telah menyatunya antara perasaan dan aktivitas bermain, belajar dan bekerja yang tidak bisa lagi dipisahkan. Jika suasana batin seperti ini bisa ditumbuhkan dalam proses pendidikan maka hasilnya akan positif dan belajar menjadi hal yang menyenangkan (De Porter, 1999: 73).
Setiap siswa adalah sebuah dunia yang unik yang perlu dipahami secara individual. Seseorang akan menjadi dirinya berdasarkan kepribadiannya yang unik itu. Dengan demikian seorang guru harus memiliki kemampuan perbedaan individual siswa, berempati, menjadi pendengar yang baik dan bisa menjadi fasilitator bagi anak didik dalam memecahkan problem mereka oleh mereka sendiri (De Porter, 1999: 78).
Pada saat belajar itu aktif, siswa melakukan berbagai hal tidak sekedar menyerap informasi dari guru. Mereka mempergunakan otak mereka, mempelajari gagasan-gagasan, memecahkan berbagai masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari.
Belajar aktif merupakan langkah cepat, menyenangkan, mendukung dan secara pribadi menarik hati. Kadangkala peserta didik berpindah-pindah, berarti tidak hanya di tempat duduk mereka (Silberman,2007: xiii).
Kegiatan belajar aktif perlu diadakan untuk dapat mempelajari sesuatu dengan lebih baik, siswa lebih membantu melihat, mendengar mengajukan pertanyaan dan mendiskusikan dengan temannya. Yang paling penting siswa perlu melakukannya, memecahkan masalah sendiri, menemukan contoh-contoh, mencoba keterampilan dan melakukan tugas yang harus mereka capai.
Belajar aktif merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan strtegi-strategi pembelajaran yang komprehensif.
Belajar aktif meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik aktif sejak awal melalui aktivtas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran. Juga teknik-teknik memimpin belajar bagi seluruh kelas, bagi kelompok kecil, merangsang diskusi dan debat, mempraktekkan keterampilan-keterampilan, mendorong adanya pertanyaan bahkan membuat peserta didik dapat saling mengajar satu sama lain (Siberman, 2007 : xxii).
Belajar bukan meruppakan konsekuensi otomatis dari penyampaian informasi kepada peserta didik. Belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan pelajaran itu sendiri. Penjelasan dan peragaan oleh guru tidak akan maju ke arah belajar yang sebenarnya.
Anda dapat memberitahu para peserta didik tentang apa yang perlu mereka ketahui dengan sangat cepat. Tetapi mereka bahkan lebih cepat melupakan apa yang anda beritahu kepada mereka (Siberman, 2007 : xxi) .
Belajar paling baik adalah dengan cara melakukan (learning by doing). Belajar dengan melakukan adalah belajar dengan aktif. Belajar aktif merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan strategi pembelajaran yang komprehensif. Belajar aktif sejak awal melalui aktivitas-aktivitas dengan membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran. Juga terdapat teknik-teknik memimpin belajar bagi seluruh kelas bagi kelompok kecil, merangsang diskusi dan debat, mempraktekkan keterampilan-keterampilan mendorong adanya pertanyaan-pertanyaan, bahkan membuat peserta didik dapat mengajar satu sama lain.
Pembelajaran akan menarik siswa apabila dilakukan dalam suasana yang menyenangkan atau menggembirakan. Kegembiraan di sini berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, terciptanya makna  (penguasaan atas materi yang dipelajari) dan nilai yang membahagiakan si pembelajar. Penciptaan kegembiraan jauh lebih penting daripada segala teknik atau metode yang mungkin dipilih untuk digunakan  (Hernowo, 2005 : 17).
2.    Pembelajaran Matematika
Matematika merupakan disiplin ilmu yang mendasari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mempunyai peran yang sangat penting dalam memajukan daya piker manusia. Peran matematika juga mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari teknologi, pertahanan, ekonomi, komunikasi dan lain-lain.
Pembelajaran matematika yang diuraikan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP 2006) bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
1.    Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan menghasilkan konsep atau logaritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.
2.    Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
3.    Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model,  dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
4.      Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel , diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
5.    Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah (Depdiknas, 2006 : 417).
Dalam mengajarkan matematika perlu adanya keterampilan guru agar siswa tidak hanya sekedar menerima informasi dan menghafal suatu kosep. Keterampilan tersebut dapat berupa penggunaan model pembelajaran, metode mengajar sampai pada penggunaan media pengajaran yang sesuai. Pengoptimalan komponen dalam pembelajaran tersebut, maka akan tercipta suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan.
“Strategi pembelajaran  aktif ditandai dengan optimalisasi interaksi antar semua elemen pembelajaran (guru, siswa, media) dan optimlisasi keikutsertaan seluruh sense siswa (panca indera, nalar, rasa, dan karsa)” (Tisna, 2005 : 87). Strategi ini menekankan peran siswa yang aktif membangun sendiri pengetahuannya. Dengan demikian siswa dapat menemukan sendiri informasi kompleks sehingga belajar tidak lagi hanya bersifat mengingat informasi yang deiberikan oleh guru. Merka harus belajar untuk menemukan suatu informasi dan menggunakannya untuk memecahkan masalah.
Salah satu upaya agar tercipta sebuah pembelajaran yang melibatkan interaksi semua elemen yang ada dalam pembelajaran adalah dengan pembelajaran aktif.
Pada dasarnya objek pembicaraan matematika adalah objek abstrak, metodologinya adalah deduktif, yaitu berawal dari pengertian dan pernyataan lain yang diturunkan dari pengertian dan pernyataan pokok tadi untuk dibuktikan  kebenarannya. Dengan demikian, hubungan antar pengertian atau antar pernyataan selalu konsisten, tidak bertentangan satu sama lain.
Untuk kepentingan pendidikan di tingkat dasar dan menengah, dengan pertimbangan pedagogic, pokok bahasan dipilih-pilih sesuai dengan tahap perkembangan intelektual siswa. Oleh karena itu banyak dilakukan penyesuaian, misalnya objeknya tidak mutlakdeduktif, melainkan dikenalkan juga metode ekspremental dan induktif yaitu mulai dari pengalaman belajar siswa menuju ke pengambilan kesimpulan atas kasus-kasus tertentu. Matematika yang telah dipilah-pilah dan disesuaikan pada tahap perkembangan intelektual ini disebut matematika sekolah.
Pembelajaran matematika di SD lebih diutamakan kepekaan terhadap bilangan. Pengertian kepekaan terhadap bilangan lebih luas dari pada sekedar keterampilan berhitung. Ini juga meliputi aspek perkiraan hasil hitungan, kelayakan penggunaan bilangan dan satuan dalam pengukuran, serta penghargaan terhadap manfaat bilangan dan keindahan pola-pola bilangan.
Adapun karateristiksebagai ciri-ciri khas matematika yang membedakannya dari mata pelajaran lain, dikemukakan oleh Soleh, 2000 : 6. sebagai berikut :
1.    Objek pembicaraanya abstrak. Sekalipun dalam pengajaran di sekolah suatu konsep dikenalkan melalui benda kongkret, siswa tepat didorong untuk melakukan proses abstrksi, yaitu mengabaikan atribut-atribut yang tidak penting, menangkap kesamaan-kesamaaan (abstraksi) dari objek-objek contoh tadi, kemudian melakukan penyempurnaan (idealisasi) untuk mempertajam pengertian, dan akhirnya menangkap pengertian itu sebagai konsep yang abstrak.
2.    Pembahasannya mengandalkan nalar. Informasi awal berupa pengertian atau pernyataan merupakan pangkal dibuat konsep yang efisien. Pengertian atau pernyataan lain harus dijelaskan atau ditunjukkan kebenarannya dengan tata nalar yang logis. Di tingkat SD dan SLTP tata nalar ini masih dalam bentuk penarikan kesimpulan berdasarkan pola atau induktif.
3.    Pengetian/konsep atau penyitaan/sifat sangat jelas berjenjang sehingga terjaga konsistensinya. Sebagai akibat dari ciri kedua di atas (b), maka pengertia /konsep atau pernyataan/sifat sangat jelas berjenjang sehingga terjaga konsistensinya. Konsep yang satu diterangkan oleh konsep sebelumnya. Untuk memahami perkalian tidak dapat sebelum dipelajari operasi hitung penjumlahan, dan seterusnya. 
4.    Melibatkan perhitungan atau pengerjaan (operasi). Objek pelajaran selain berupa pengertian dan pernyataan yang harus dipahami, juga melibatkan perhitungan atau operasi (pengerjaan) yang prosedurnyadisusun sesuai dengan tata yang logis tadi.
5.    Dapat dialihgunakan dalam berbagai aspek keilmuan maupun kehidupan sehari-hari. Karena sifatnya yang abstrak, maka matematika dapat dialihgunakan dalam berbagai aspek keilmuan maupun kehidupan sehari-hari, ia menjadi pelayan dalam pengembangan ilmu dan teknologi.
Berdasarkan karateristik itulah guru seharusnya menjelaskan kepada siswa tentang arti, fungsi dan kegunaan dari pelajaran matematika, sehigga mereka termotivasi untuk mempelajarinya. Hal ini dapat diterapkan dengan melibatkan siswa secara langsung berinteraksi mengenal, memahami, dan menyelesaikan operasi-operasi pengerjaan matematika sehingga siswa terasa mudah  menemukan hasil belajarnya. Proses belajar- mengajar, tak terkecuali proses pembelajaran mattematika merupakan suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponenyang saling terkait, aanyara lain tujuaninstruksional, materi pelajaran, metode dan media pembelajaran serta evaluasi hasil belajar.
3.    Teori Belajar Matematika dalam Pembelajaran Matematika di SD
Dalam kesempatan ini kita akan membicarakan tentang kesiapan siswa untuk belajar serta pembelajarannya dalam mata pelajaran matematika di SD. Kita akan melihat secara sepintas beberapa teori belajar yang sering disebut-sebut dalam pembelajaran matematika.
Namun dalam kenyataannya di antar para ahli teori belajar itu masih belum ada kesepahaman tentang bagaimana anak belajar dan cara-cara pembelajarannya. Walaupun demikian bukanlah suatu kendala bagi kita untuk mempelajarinya, sebab banyak faedahnya dalam pembelajaran matematika khususnya di SD. Selain itu pada umumnya penyampaian bahan ajar kepada para siswa termasuk pembelajaran matematika biasanya didasarkan pada teori-teori belajar yang dianggap sesuai oleh  para guru, para pengelola pendidikan termasuk para penyusun dan pengembang kurikulum.
4.    Teori belajar Dienes
Zoltan P. Dienes adalah seorang guru matematika (pendidikan di Hongaria, di Inggris, dan Perancis), telah mengembangkan minatnya dan dan pengalamannya dalam pendidikan matematika. Ia telah mengembangkan system pengajaran matematika yang berusaha agar pengajaran matematika jadi lebih menarik dan lebih mudah dipelajari. Dasar teorinya sebagian didasarkan atas Teori Piaget.
Dienes memandang matematika sebagai pelajaran struktur, klasifikasi struktur, dan mengklasifikasikan relasi-relasi antara struktur. Ia percaya bahwa setiap konsep matematika akan dapat dipahami dengan baik oleh siswa apabila disajikan dalam bentuk konkret dan beragam. Menurut pengamatan dan pengalaman umumnya anak-anak menyenangi hanya pada permulaan mereka berkenalan dengan matematika sederhana. Meskipun banyak pula anak-anak yang setelah belajar matematika sederhana banyak pula yang tidak dipahaminya, atau banyak konsep yang dipakai secara keliru. Di sisni mereka melihat matematika dianggap sebagai ilmu yang sukar, ruwet, dan memperdayakan.
Selanjutnya Dienes menggunakan istilah konsep dalam artian struktur matematika yang mempunyai arti lebih luas daripada pengertian Konsep Gagne. Menurut Gagne, konsep adalah ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan benda-benda ke dalam contoh dan bukan contoh, seperti suatu segitiga dengan yangbukan segitiga, antara bilangan asli dengan yang bukan asli, dan seterusnya. Sedangkan menurut Dienes konsep adalah struktur matematika yang mencakup konsep murni, konsep notasi, dan konsep terapan.
Dengan prinsipnya yang disebut penyajian beragam, bahwa kesiapan siswa untuk mempelajari konsep-konsep matematika itu dapat dipercepat. Menerut Dienes, agar anak bisa memahami konsep-konsep matematika dengan mengerti maka haruslah diajarkan secara berurutan mulai dari konsep murni, konsep notasi dan berakhir dengan konsep tahapan.
Dienes (Karso, 2000 : 18) mengemukakan bahwa konsep-konsep matematika itu akan lebih berhasil dipelajari bila melalui tahapan tertentu. Seperti halnya perkembangan mental dari Piaget, bahwa mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir berkembang berkelanjutan. Tahapan belajar menurut Dienes itu ada enam tahapan secara berurutan, yaitu sebagai berikut :
1.Tahap 1 .bermain Bebas. Pada tahap awal ini anak-anak bermain bebas tanpa diarahkan dengan menggunakan benda-benda matematika konkrit. Siswa belajar konsep matematika melalui mengotak-atik atau memanipulasi benda-benda konkrit. Tugas guru adalah menyediakan benda-benda kongkrit yang bisa menyajikan konsep-konsep matematika. Pada tahap ini guru tidak seperti biasa mengajar matematika, denga cara terstruktur dan pengarahan, namun demikian ini tetap penting bagi anak dalam belajar konsep matematika.
Disini anak pertama kali mengalami banyak komponen konsep melalui interaksi dengan lingkungan belajar yang berisi penyajian konkretdari konsep. Anak membentuk dan mental sebagai persiapan memahami struktur matematika dari konsep.
2.Tahap 2. permainan. Pada tahap kedua ini anak mulai mengamati keteraturanyang terdapat dalam konsep. Mereka akan memperhatikan bahwa ada aturan tertentu yang terdapat dalam konsep tertentu, tetapi tidak terdapat dalam konsep-konsep lainnya. Melalui permainan, siswa diajak untuk mulai mengenal dan memikirkan struktur-struktur matematika. Dengan berbagai permainan untuk penyajian konsep-konsep yang berbeda, akan menolong anak bersifat logis dan matematis dalam mempelajari konsep-konsep tersebut. Misalnya, bermain berjajar membentuk garis lurus, berjajar membetuk lingkaran, mundur untuk menanamkan konsep bilangan positif dan negativ, mengumpulkan bangun-bangun segitiga dari sekumpulan bangun-bangun geometridan sebagainya.
3.Tahap 3. Penelaahan Kesamaan Sifat. Pada tahap ini siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang diikuti. Dalam melatih mencari kesamaan sifat ini, guru perlu mengarahkan mereka dengan mentrnslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan lain.
Pada tahap ini siswa mulai belajar abstraksi tentang pola, keteraturan, sifat-sifat bersama yang dimiliki dari model-model yang disajikan. Misalnya dari berbagai benda segitiga, segitiga dari kawat, segitiga dari karet pada papan berpaku, dengan berbagai ukuran dan berbagai bentuk segitiga (sembarang, tumpul, lancip, sama sisi, sama kaki, siku-siku), siswa membuat abstraksi tenteng konsep segitiga.
4.Tahap 4. Representasi. Pada tahap keempat, para siswa mulai belajar membuat pernyataan atau representasi tenteng sifat-sifat kesamaan suatu konsep matematika yang diperoleh pada tahap penelaahan kesamaan sifat. Representasi ini dapat dalam bentuk gambar, diagram, atau verbal (dengan kata-kata atau ucapan). Dalam penyajian konsep segitiga itu siswa dapat menggunakan gambar segitiga atau mengucapkannya bahwa segitga itu sisinya ada tiga buah. Bilangan genap itu adalah bilangan yang dibagi oleh 2  sisanya nol.
5.Tahap 5. Simbolisasi. Pada tahap ini kelima siswa ini perlu menciptakan simbol matematika atau rumusan verbal yang cocok untuk menyatakan konsep yang representasinya sudah diketahuinya pada tahap keempat. Simbol segitiga adalah           , symbol untuk bilangan genap adalah 2n dengan n adalah bilangan bulat.
6. Tahap 6. Formalisasi. Tahap formalisasi merupakan tahap terakhir dari konsep belajar menurut dienes. Pada tahap ini siswa belajar mengorganisasikan konsep-konsep membentuk secara formal dan harus sampai pada pemahaman aksioma, sifat, aturan, dalil, sehingga menjadi struktur dari sistem yang dibahas.
Dalam tahapan ini anak bukan hanya sekedar mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif, tetapi harus pada suatu sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan beserta beberapa sifatnya seperti tertutup, pengelompokkan, adanya unsure satuan (identitas) dan mempunyai unsur lawan (invers) membentuk sebuah sistem matematika. Tahap keenam ini di luar jangkauan anak usia SD.


5.    Materi Satuan Ukuran di Kelas  IV.
Materi Satuan Ukuran waktu, panjang dan berat di kelas IV termasuk dalam Standar Kompetensi 3.Menggunakan pengukuran sudut, panjang dan berat dalam pemecahan masalah. Hal ini di rinci dalam Kompetensi Dasar:
3.2       Menentukan hubungan antar satuan waktu, antarsatuan panjang, dan      antarsatuan berat.
3.3       Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan satuan waktu, panjang dan berat. 
B. Kerangka Berpikir
Berbagai upaya dapat dilakukan guru untuk meningkatakan hasi belajar siswa, diantaranya adalah dengan melaksanakan pembelajaran aktif. Pembelajaran aktif merupakan cara terbaik dalam belajar yang ditandai dengan optimalisasi interaksi semua elemen pembelajaran (guru, siswa, media, dan lingkungan).
Materi satuan ukuran waktu, panjang dan berat adalah salah satu materi pelajaran bidang studi matematika yang terdapat di kelas IV, yakni standar kompetisi 3. Menggunakan pengukuran sudut, panjang dan berat dalam pemecahan masalah. Peneliti mencoba menyajikan materi tersebut dengan menerapkan strategi Active Learning yang diharapkan dapat mengoptimalkan aktufitas siswa dalam pembelajaran sehingga meningkatkan prestasi hasil belajar.


C. Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir dan hasil-hasil penelitian yang relevan, maka hipotesis penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan sebagai berukut “Jika diterapkan strategi pembelajaran active learning terhadap materi satuan ukuran, maka hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN Pulau Kembang Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan akan lebih meningkat.”


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.  Pendekatan Dan Jenis Penelitian
Perencanaan Tindakan
 
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitinan tindakan kelas (classroom action research). Menurut Kemmis dan Mc.Togart (Arikunto, S, 2006 : 3) penelitian tindakan kelas dilakukan melalui proses dinamis yang terdiri dari tahapan-tahapan berikut :
 












Gambar  1 : Bagan Pelaksanaan Tindakan Kelas (Arikunto, S, : 2006).
Menurut Wardani (2004 : 4) tahapan-tahapan penelitian tindakan kelas dimulai dari merencakan kegiatan, melaksanakan tindakan, melakukan pengamatan dan refleksisetelah kegiatan berakhir. Keempat tahapan di atas merupakan satu siklus atau daur, oleh karena itu setiap tahap akan berulang kenbali. Pada tahap merencanakan dan melakukan tindakan dilakukan melalui empat langkah utama yaitu : 1. Mengidentifikasi masalah, 2. Menganalisa dan merumuskan masalah, 3. Merencanakan PTK, serta, 4. Melaksanakan PTK.
Keempat langkah ini merupakan langkah yang berurutan, artinya langkah pertama harus dikerjakan terlebih dahulu sebelum langkah kedua dilaksanakan, demikian seterusnya. Langkah pertama dan kedua merupakan bagian awal dari merencanakan perbaikan, sedangkan langkah ketiga merupakan prasyarat untuk langkah yang keempat.
Menurut Kemmis dan Mc. Toggart (Wardani, 2004 : 420) apabila pada upaya perbaikan pertama masih ditemukan hal-hal yang kurang tepat (setelah proses refleksi) maka perbaikan kedua masih dimungkinkan.
B. Setting Penelitian
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah semua siswa kelas IV SDN Pulau Kambang Kabupaten Balangan dengan jumlah siswa 20 orang, terdiri dari 9 laki-laki dan 11 orang perempuan, pada semester 1 tahun ajaran 2010/2011.
Mata pelajaran yang dijadikan bahan penelitian adalah matematika, dengan dasar pemikiran lemahnya pemahaman siswa terhadap konsep-konsep matematika. Kemampuan dan pemahaman yang akan ditingkatkan diharapkan menjadi modal untuk naik kelas V yang akan menghadapi kenaikan kelas.


C. Faktor Yang Diteliti
Faktor-faktor yang akan diteliti dalam tindakan kelas ini adalah :
1.        Faktor siswa, yaitu aktivitas siswa dalam menerapkan  teknik active learning.
2.        Faktor guru, yaitu aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran.
3.        Faktor hasil  belajar, yaitu pengukuran hasil belajar siswa setelah dilaksanakan kegiatan belajar-mengajar dengan menerapkan teknik active learning.
D. Skenario Tindakan
Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan dalam 2 siklus dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1.    Siklus I
a.    Perencanaan Tindakan (Planning)
1)   Menyusun Rencana Pelakksanaan Pembelajaran (RPP) dengan materi satuan ukuran.
2)   Membuat lembar observasi untuk mengamati aktivitas guru dan siswa.
3)   Mempersiapkan alat peraga yang sesuai dengan materi dan menyiapkan alat pendukung lainnya.
4)   Mendesain instrumen evaluasi untuk mengukur hasil belajar berupa tes tertulis pada akhir pembelajaran dan akhir siklus.
b.   Pelaksanaan Tindakan (Action)
Tindakan kelas ini dilaksanakan dengan satu siklus terdiri dari 2 kali pertemuan, penerapan RPP yang telah direncanakan.
c.    Pelaksanaan Observasi (Observation)
Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan kelas dengan menggunakan instrumen yang disusun dan dibuat pada tahap perencanaan. Observasi dan evaluasi terhadap PTK dilakukan dengan menggunakan format tertentu.
Observasi berfungsi untuk mendokumentasikan proses dan pengaruh tindakan yang telah diberikan sejak awal tindakan sampai dengan hasil evaluasi yang dilaksanakan. Peneliti bersama guru observer berfungsi mengamati dan memcatat hasil atau dampak tindakan serta kekurangannya untuk dijadikan bahan acara dalam kegiatan refleksi.
d.   Refleksi (Reflection)
Setelah observasi dilakukan, maka dilaksanakan refleksi dengan mengkaji, menghasilkan, dan merenungkan kembali hasil atau dampak dari tindakan yang sudah dicatat dalam observasi.
Peneliti bersama observer menganalisis, menginterprestasi, dan menyimpulkan hasil dari tindakan. hasil analisis data merupakan dasar dalam merevisi rencana untuk diterapkan pada siklus berikutnya.
2.    Siklus II
a.    Perencanaan (Planning)
Merumuskan tindakan baru sesuai dengan temuan berdasarkan observasi. semua disusun dan dirumuskan dengan memperhatikan refleksi pada siklus pertama.
1)   Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk pembelajaran siklus II.
2)   Menyusun instrumen evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa setelah dilakukan suatu tindakan kelas.
3)   Merumuskan tindakan baru atau mengembangkan pembelajaran pada siklus pertama.
b.   Melaksanakan Tindakan (Action)
Melaksanakan tindakan seperti yang disusun atau dirumuskan pada siklus pertama dengan memberikan perbaikan dan penyempurnaan penerapan teknik active learning. Memberikan bimbingan bagi siswa secara individu dan klasikal.
c.    Observasi (Observation)
Mendokumentasikan proses dan dampak tindakan yang telah diberikan dari awal kegitan sampai hasil evaluasi yang dilaksanakan. Materi observasi dan evaluasi adalah pengamatan aktivitas siswa selama proses belajar-mengajar dan nilai-nilai hasil belajar siswa.
d.   Refleksi (Reflektion)
Refleksi terhadap tindakan pada siklus II ditetapkan berdasarkan observasi dan evaluasi yang telah dilakukan. Diharapkan permasalahan terselesaikan. Bila permasalahan sudah terselesaikan maka kegiatan dihentikan. Jika belum maka dapat dipertimbanagkan untuk dilanjutkan pada siklus berikutnya. Siklus berakhir apabila pada kesultan dari siklus sudah ditemukan dan dapat diatasi dengan kriteria yang telah ditentukan.
E. Teknik Pengumpulan Data
1. Sumber Data
Data penelitian tindakan kelas ini diperoleh dari guru kelas IV SDN Pulau  Kambang Kabupaten Balangan pada semester ganjil tahun pelajaran  2010 /2011.
2. Jenis Data
Data yang dianalisis dalam penelitian tindakan kelas ini berupa data kuantitatif dan data kualitatif yang terdiri dari :
a.         Hasil observasi terhadap aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung.
b.        Hasil observasi kegiatan guru selama menyajikan pembelajaran.
c.         Tes hasil belajar siswa baik berupa evaluasi setiap aktif kegiatan pembelajaran maupun hasil evaluasi pada akhir siklus.
3.    Cara Pengambilan Data
a.    Data aktivitas siswa diambil dengan alat penggali data berupa lembar obsevasi yang dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran langsung oleh guru observer yang telah ditunjuk.
b.    Data kegiatan guru diambil dengan mengisi lembar observasi, dilakukan oleh guru observer yang telah ditunjuk pada saat kegiatan pembelajaran.
c.    Data hasil belajar diperoleh dari nilai hasil evaluasi pada setiap akhir tindakan maupun evaluasi akhir siklus.


4.    Penunjukan observer
Observer yang ditunjuk adalah Syaifudin S. Pd, dengan pertimbangan guru tersebut merupakan guru bersertivikasi dan memiliki kwalivikasi pendidikan Sarjana (S 1).
F. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah apabila terdapat peningkatan aktivitas belajar siswa, dan peningkatan pemahaman siswa yang ditunjukkan dengan hasil evaluasi belajar siswa. Apabila nilai hasil belajar, baik secara individual maupun klasikal dapat mencapai ketuntasan belajar, maka penelitian ini dianggap berhasil.

Secara individual, ketuntasan belajar tercapai apabila siswa telah mendapat nilai lebih dari atau sama dengan 65. Ketuntasan belajar secara klasikal tercapai, apabila tercapai 85% siswa memiliki penguasaan minimal lebih besar atau sama dengan 65 (Depdiknas, 2008). 

Komentar