PTK DENGAN TEKNIK PERMAINAN SDN MAYANAU KECAMATAN TEBING TINGGI

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Konsep perkalian merupakan salah satu materi pelajaran di kelas 4 Sekolah Dasar yang menuntut kemampuan optimal siswa untuk memahaminya dengan baik. Jika bakal pengetahuan siswa tidak mapan tentunya akan mengalami kesulitan dalam mempelajari konsep perkalian.
Kenyataan tersebut di atas dialami oleh para siswa kelas 4 seperti yang dikemukakan oleh guru kelas 4 SDN Mayanau, yang menyatakan hanya 29 % siswa yang dapat tuntas menguasai konsep tersebut, sedangkan 71 % siswa masih belum dapat menguasai komsep tersebut dengan baik. Kesulitan-kesulitan yang dialami siswa antara lain dalam menemukan hasil perkalian bilangan yang lebih besar dari pada bilangan 5, contohnya ; 6 x 7 = ......., 7 x 8 = ....... 8 x 9 = ....... dan seterusnya. Maka dari itu perlu kiranya dicari terobosan oleh para guru agar penguasaan siswa terhadap perkalian di atas dapat dioptimalkan.
Peter Kline, dikutip oleh Gordon Dryden dan Jennetle Vos, (1999) bahwa ”Belajar akan efektif jika dilakukan dalam suasana menyenangkan”. Memang harus diakui, bahwa apabila siswa belajar dalam keadaan senang bahkan asyik, maka siswa akan mengaktualisasikan dan mendayagunakan seluruh potensi yang dimilikinya secara maksimal. (Depdiknas : 2003)
Dalam pengajaran konsep-konsep matematika, pembelajaran dengan menggunakan teknik permainan (metode game) sangat sesuai untuk diterapkan karena konsep-konsepnya yang sulit dan abstrak, serta usia siswa kelas 3 yang cenderung masih senang dalam permainan. Hal ini sesuai pendapat Sutrisman (1987). Metode / teknik permaian dalam pengajaran matematika menolong siswa meningkatkan motivasi dalam belajar. Metode permainan, jika didisain untuk tujuan belajar khusus dan digunakan secara tepat oleh guru dan siswa, dapat merupakan sumbu belajar mengajar yang efektif dalam upaya meningkatkan hasil belajar.
Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) melalui metode permainan dengan menggunakan papan permainan dan kartu bilangan dalam pembelajaran perkalian di kelas 4 SDN Mayanau 1 sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar yang dilakukan oleh peneliti.

B.     Perumusan Masalah dan Pemecahan Masalah
1.      Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : apakah dengan teknik permainan dapat meningkatkan hasil belajar perkalian siswa kelas 4 SDN Mayanau  Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Balangan.

2.      Pemecahan Masalah
Masalah tersebut di atas dapat diatasi dengan cara teknik permainan dengan menggunakan papan permaian dan kartu-kartu bilangan. Teknik permainan ini cara bermainnya adalah guru membentuk beberapa kelompok yang terdiri dari 5 – 6 orang, kemudian guru mengacak atau mengocok kartu bilangan, setelah dikocok kartu dibagikan kepada setiap kelompok kemudian salah satu siswa mewakili kelompoknya diberi tugas secara bergantian untuk meletakkan / memasangkan masing-masing sebanyak 5 kartu bilangan pada papan permainan yang sudah terpasang di depan kelas. Permainan ini dilakukan oleh semua siswa yang berjumlah 19 orang yang terdiri dari 6 orang laki-laki dan 13 orang perempuan.
Sedangkan permainanya adalah misalnya siswa yang mendapat kartu bilangan : 12, 18, 21 dan seterusnya akan memasangkan kartu 12 pada papan perkalian dari 2 x 6; 6 x 2; 3 x 4; 4 x 3, atau kartu 18 akan ditempatkan pada papan perkalian dari 3 x 6; 6 x 3; 2 x 9 atau 9 x 2 dan seterusnya .
Siswa yang memasang ditempat yang tepat / benar satu kartu diberi nilai “2” dan yang salah diberi nilai “0”. Setelah semua siswa sudah diberi tugas, dilanjutkan dengan mengumpulkan nilai menjadi nilai kelompok dan diberi penghargaan dengan sebutan juara atau peringkat. Kemudian tindakan diakhiri dengan tes akhir pelajaran.
Adapaun bentuk papan permainan fakta dasar perkalian adalah sebagai berikut





X
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1










2





2 X 6


2 X 9

3



3 X 4




4









5










6


6 X 3







7









8










9






*



10










12
 
18
 
63
 
 




Kartu bilangan                    Kotak  : 9 X 7 =

C.     Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada permasalahan di atas, maka tujuan penelitian tindakan ini adalah :
1.      Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar konsep perkalian dengan teknik permainan dikelas 4 SDN Mayanau Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Balangan.
2.      Untuk mengetahui penggunaan teknik permainan dengan menggunakan papan permainan dan kartu-kartu bilangan pada konsep perkalian di kelas 4 SDN Mayanau Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Balangan.


D.    Manfaat Penelitian
Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini diharapkan dapat bermanfaat :

1.      Bagi Guru




2.      Bagi Siswa



3.      Bagi Sekolah
:




:



:
dengan pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini, sebagai bahan masukan dalam upaya memilih strategi pelaksanaan pembelajaran matematika yang tepat dan meningkat, sehingga kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya bertambah baik serta peningkatan profesionalisme guru.
dengan penelitian ini diharapkan bermanfaat, agar siswa secepatnya dapat memahami operasi perkalian serta peningkatan prestasi hasil belajar khususnya mata pelajaran matematika.
hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik pada sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran mata pelajaran matematika khususnya.








BAB II
KAJIAN TEORI DAN PUSTAKA

1.      Pentingnya Pembelajaran Matematika
Matematika sebagai salah satu ilmu dasar dewasa ini telah berkembang cukup pesat baik materi maupun kegunaannya. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena matematika merupakan salah satu pengetahuan dasar terpenting bagi sains dan teknologi yang sangat perlu bagi pembangunan, lebih dari itu dalam kehidupan sehari-hari tidak ada orang yang terbebas dari hubungannya dengan hitng menghitung / matematika. Dirasakan pentingnya pelajaran matematika bagi berhitung perlu dipahami dan dikuasai anak sejak dini, sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya (Depdikbud, 1992).

2.      Tujuan Pelajaran Berhitung Di Sekolah Dasar
a.       Menanmkan pengertian, bilangan dan kecakapan dasar berhitung.
b.      Memupuk dan mengembangkan kemampuan berpikir logis dan teoritis dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, baik pada masa sekarang maupun masa yang akan datang.
c.       Mengembangkan kemampuan dan sikap rasional, ekonomis dan menghargai waktu.
d.      Meletakkan landasan berhitung yang kuat untuk mempelajari pengetahuan lebih lanjut. (Depdikbud, 1992/1993).

3.      Fungsi Pelajaran Matematika
a.       Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan simbol-simbol.
b.      Keragaman penalaran yang dapat membantu memperjelas dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
c.       Di Sekolah Dasar diutamakan agar siswa mengenal memahami serta mahir menggunakan bilangan dalam kaitannya dengan praktek kehidupan sehari-hari. (Depdikbud, 1993 : 95)

4.      Fungsi Tujuan Pengajaran Matematika Di Sekolah Dasar
Tujuan pengajaran matematika di Sekolah Dasar sejalan dengan fungsi matematika di Sekolah Dasar maka tujuan pengajaran matematika di Sekolah Dasar disebutkan dalam berhitung adalah :
a.       Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung.
b.      Menanamkan pengertian bilangan dan kecakapan dasar berhitung.
c.       Meletakkan landasan berhitung yang kuat untuk mempelajari pengetahuan lebih lanjut.
d.      Menumbuhkan kemampuan siswa yang dapat dialih gunakan.
e.       Memberikan bekal kemampuan dasar matematika serta membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin.
f.        Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika (Depdikbud,1993 : 96)

5.      Karakteristik Pengajaran Matematika
a.       Diajarkan secara bertahap yaitu mulai dari yang kongrit ke abstrak, dari itu yang paling dekat ke yang jauh, dari hal yang sederhana ke hal yang sulit.
b.      Mengikuti metode spiral, yaitu dalam memperkenalkan konsep baru selalu mengaitkannya pada konsep yang telah dipelajari, karena konsep baru merupakan perluasan dan pendalaman konsep sebelumnya.
c.       Matematika berpola pikir dedukatif, yaitu memahami suatu konsep melalui pemahaman definisi umum, kemudian ke contoh, tetapi pengajaran matematika di SD digunakan pola pendekatan induktif yaitu mengenal konsep melalui contoh karena secara psikologi siswa SD diwarnai tarap pikir kongkrit.
d.      Pengajaran matematika menganut kebenaran konsestensi yaitu kebenaran yang  konsestensi atau tetap, tidak ada pertegangan antara konsep yang satu dengan yang lain, suatu pernyataan yang dianggap benar bila didasarkan atas pernyataan sebelumnya yang sudah dianggap benar. (Depdikbud, 1993 : 95)

6.      Prinsip-prinsip Pengajaran Matematika Di Sekolah Dasar
1.      Prinsip belajar dalam berhitung seperti latihan (drill), menghafal dan ulangan memang memadai tetapi akan lebih efektif apabila guru mendorong kreativitas murid dengan membantu menanamkan pengertian ide dasar dan prinsip-prinsip berhitung melalui kegiatan-kegiatan tersebut.
Pengajaran berhitung yang dilandasi pengertian akan mengakibatkan daya ingat dan daya transfer yang lebih besar.
2.      Pengalaman-pengalaman sosial anak dan penggunaan benda-benda kongkrit perlu dilakukan guru untuk membantu pemahaman anak-anak terhadap pengertian-pengertian dalam berhitung.
3.      Setiap langkah dalam pengajaran berhitung hendaknya diusahakan melalui penyajian yang menarik untuk menghindarkan terjadinya tekanan atau ketegangan pada diri anak.
4.      Latihan-latihan sangat penting untuk memantapkan pengertian dan keterampilan. Latihan akan sangat efektif apabila dilakukan dengan mengikuti prinsip-prinsip penciptaan suasana yang menarik.
5.      Relevansi berhitung dengan kehidupan sehari-hari perlu ditekankan. Dengan demikian pelajaran berhitung yang didapatkan anak-anak akan lebih bermakna baginya dan lebih jauh lagi mereka dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

7.      Alat Peraga Dalam Pengajaran Matematika
Apabila kita menanamkan suatu konsep (pengertian) tentang suatu pembelajaran atau suatu pokok bahasan, perlu kita menggunakan alat peraga sebagai alat bantu mengajar. Alat peraga, yaitu alat untuk menerangkan atau mewujudkan konsep matematika. Dalam pengajaran matematika di SD diperlukan alat peraga dengan alasan sebagai berikut :
1.      Dengan alat peraga siswa akan lebih senang mengikuti pelajaran matematika, karena ada sesuatu yang diamati dan dimanipulasi (diotak-atik).
2.      Konsep matematika yang abstrak disajikan dalam bentuk (nyata) mudah dipahami siswa pada tingkat-tingkat yang lebih rendah (kelas 1, 2, 3).
3.      Alat peraga membantu daya tilik ruang, karena siswa tidak perlu membayangkan bentuk-bentuk geometri terutama geometri ruang (dikutip dari Implementasi kurikulum pendidikan dasar 1994, pelajaran matematika SD).

8.      Pengertian Media
Kata Media berasal dari bahasa latin yang bentuk jamak kata Medium yang secara harfiah berarti Perantara atau Pengantar Pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan. Media berarti segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim kepada penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan dan minat sedemikian rupa agar terjadi proses belajar mengajar.
Berikut ini dikemukakan pengertian media menurut beberapa pengarang seperti diartikan dari buku Zainuri dan Endang Rohayadi (1994 : 13-14).
-         Gagne (1970) mengemukakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar.
-         Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah alat fisik yang menyajikan pesan serta rangsangan siswa untuk belajar.
-         Wilkinson (1980) mengartikan media sebagai alat dan bahan selain buku teks yang dapat dipergunakan untuk informasi penyampaian informasi dalam situasi belajar.
Berdasarkan beberapa pengertian media dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim kepada penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat sedemikian rupa agar terjadi proses belaiar mengajar.

a.       Media Pembelalaran.
Menurut pandangan Decorte, media pembelajaran diartikan sebagai suatu sarana non personal (bukan manusia) yang disediakan (digunakan oleh tenaga pengajar untuk memegang peran dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan instruksional.
Menurut Hamid Joyo dalam (Syaiful Bahri Djamarah : 1986 : 123). media pembelajaran adalah media yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pengajaran, yang biasanya sudah dituangkan dalam GBPP, dan dimaksudkan untuk mempertinggi kegiatan belajar mengajar.
Dari pendapat-pendapat tersebut di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala wujud yang dapat dipakai sebagai sumber belajar
yang dapat merangsang pikiran, dan perhatian, serta keamanan siswa sehingga mendorong terjadinya proses belajar mengajar ketingkat yang lebih efektif dan efisien.

b.      Fungsi Media Dalam Pcmbelajaran
Secara umum media pengajaran mempunyai fungsi sebagai berikut :
1.      Memperjelas penyajian pesan (dari konsep yang abstrak ke yang konkrit).
2.      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan dan daya indera.
3.      Dapat mengatasi secara tepat dan bervariasi sikap pasif anak didik.

Selanjutnya dipertegas pendapat (Syaiful Bahri Djamarah. 1995 : 153). Fungsi media adalah :
1)      Media yang digunakan sebagai memperjelas dari keterangan terhadap suatu bahan yang disampaikan.
2)      Media dapat memunculkan permasalahan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan oleh para siswa dalam proses belajar mengajar.
3)      Media sebagai bahan konkrit berisikan bahan-bahan yang harus dipelajari para siswa, baik individu maupun kelompok.

Kernudian Nana Sudjana (1991) dalam (Syaiful Bahri Djamarah. 1995 : 153) merumuskan fungsi media pengajaran sebagai berikut :
1.      Sebagai alat bantu mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
2.      Merupakan salah satu yang harus dikembangkan.
3.      Untuk melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.
4.      Untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap materi yang diberikan guru.
5.      Untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.

c.       Media Sebagai Alat Bantu Pembelajaran
Media sebagai alai bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Media akan sangat membantu tugas guru dalam menyampaikan pesan-pesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada anak didik. Guru sadar bahwa bantuan media sangat penting, maka bahan pengajaran yang sukar dicerna dan dipahami oleh setiap anak didik, terutama bahan pelajaran yang rumit dan kompleks, jadi media sangat membantu guru dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pengajaran.

d.      Media Sebagai Sumber Belajar
Belajar mengajar adalah suatu proses yang mengolah sejumlah nilai untuk dikonsumsi oleh anak didik. Nilai-nilai itu tidak datang sendirinya, tetapi dari sumber belajar.
Sumber belajar yang sesungguhnya banyak sekali terdapat dimana­mana termasuk media pengajaran. Udin Saripuddin danWinataputra (1991: 65) dalam (Syaiful Bahri Djamarah, 195 : 134), mengelompokkan sumber­sumber belajar menjadi lima kategori, yaitu manusia, buku/perpustakaan, media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan.
Media pendidikan sebagai salah satu sumber belajar itu membantu guru memperkaya wawasan anak didik. Aneka macam bentuk dan jenis media pendidikan yang digunakan oleh guru menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi anak didik. Dalam menjelaskan suatu konsep perkalian dapat dipergunakan media papan dan kartu bilangan. Dengan menghadirkan media papan dan kartu bilangan tersebut dapat memperjelas materi pelajaran yang diinformasikan kepada anak didik. Jadi papan permainan dan kartu bilangan merupakan sumber belajar yang dapat merangsang minat, motivasi, perhatian dan kemauan siswa sehingga terjadi proses belajar mengajar yang efektif dan efisien.

e.       Apakah Media Papan dan Kartu Bilangan Itu ?
Media papan dan kartu bilangan merupakan suatu “Strategi” dalam pembelajaran matematika. Pada dasarnya strategi ini mirip dengan strategi­strategi lain dalam pelajaran matematika seperti : strategi hapalan dalam perkalian dasar. Strategi ini merupakan upaya untuk dapat mempermudah anak dalam perhitungan / operasi hitung.
Keunikan dari strategi pembelajaran ini cukup mendasar, logis dan praktis. Cara kerjanya tidak terlalu sulit, tidak menuntut persyaratan dan peralatan yang banyak. Peralatan yang digunakan sifatnya praktis, yaitu hanya menggunakan kartu bilangan hasil perkalian dan papan tabel perkalian. Dengan pemberian tugas kepada siswa untuk memasangkan kartu bilangan pada tabel perkalian, siswa akan terlatih dan selalu mengingat dan menghapal hasil perkalian terutama perkalian dasar khususnya dan operasi perkalian umumnya.
Salah satu dari prinsip pengajaran berhitung di sekolah dasar menyebutkan “setiap langkah dalam pengajaran berhitung hendaknya diusahakan melalui penyajian yang menarik., untuk menghindarkan terjadinya tekanan atas ketegangan pada diri anak” (Depdikbud, 1992/1993). Untuk itulah dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, guru hendaknya memilih dan menggunakan metode atau strategi pembelajaran yang banyak melibatkan siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
Ada dua hal penting yang merupakan bagian dari tujuan pengajaran matematika adalah : “berpikir kritis” dan “kreatif”. Modal dasar vang dimiliki oleh siswa yang harus dikembangkan adalah daya imajinasi dan rasa ingin tahu. Dua hal tersebut harus dipupuk dan ditumbuhkembangkan, karena dari dua hal tersebut proses belajar mengajar siswa akan lebih bermakna dan hidup.

9.      Hipotesis Tindakan
Berdasarkan dari kajian pustaka atau teoritik sebagaimana diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut :

“Dengan menggunakan teknik permainan dapat meningkatkan hasil belajar perkalian siswa kelas 4 SDN Mayanau Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Balangan”.

Komentar