PTK MODEL JIGSAW SDNBADALUNGGA HILIR

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar  Belakang  Masalah
Kompetensi dasar untuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidayah (MI), bahwa pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung dapat dikembangkan melalui sejumlah keterampilan proses, keterampilan proses dapat diperoleh dengan memecahkan masalah sehari-hari perlu diajarkan pembelajaran yang berhubungan dengan lingkungan kehidupan siswa (Fasilitator, 2007:78).
Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan kualitas hasil pendidikan adalah proses kegiatan belajar mengajar (KBM) yang selama ini dikembangkan cenderung teoritis dan tidak terkait dengan lingkungan anak. (Fasilitator, 2007:78).
Menyadari problematika serta tantangan masa depan yang memerlukan perbaikan maka berbagai inovasi dan perbaikan dibidang pendidikan yang saat ini dikembangkan tentang penyempurnaan kurikulum yang dapat memberikan kecakapan hidup (life skill), baik bersifar umum (general) maupun khusus (special) bagi siswa sekolah dasar (SD) sampai perguruan tinggi (Fasilitator, 2006:6).
1

Pengalaman selama ini, permasalahan yang dihadapi dan menjadi beban guru khususnya kelas III SD Negeri Badalungga Hilir diantaranya adalah rendahnya nilai siswa dan kecendrungan guru dalam  memilih dan mengelola pembelajaran. Guru  dalam  melaksanakan   pembelajaran  hanya menggunakan metode ceramah .  Salah satu kelemahan metode ceramah  jika diterapkan secara murni adalah anak tidak terlibat secara  aktif dalam proses pembelajaran, akibatnya anak menjadi pasif, pembelajaran menjadi monoton dan cepat bosan sehingga motivasi anak untuk belajar IPA menjadi berkurang, materi yang diajarkan tersebut sulit dikuasai oleh siswa. Hal   ini  menyebabkan   nilai siswa mejadi rendah tidak sesuai yang diharapkan.
Mata pelajaran IPA dengan konsep makhluk hidup merupakan salah satu konsep yang dipelajari siswa kelas III SD Negeri Badalungga Hilir kecamatan Awayan, diketahui hasil belajar siswa kelas III mata pelajaran IPA dengan konsep makhluk hidup masih rendah. Hanya 50% siswa tuntas pada materi ini.  Guru di sekolah ini menjelaskan bahwa konsep ini hanya diajarkan melalui penjelasan guru di dalam kelas. Siswa belum pernah dibimbing untuk belajar secara aktif,, kreatif, mandiri, dan menyenangkan. Pembelajaran masih sangat abstrak dan siswa pasif sehingga siswa mengalami kesulitan untuk mencari dan menguasai matari pelajaran.
Permasalahan ini jika tidak segera dicarikan solusinya akan mengakibatkan siswa pintar secara teoritis, tetapi gagal dalam menerapkan konsep yang dipelajari dalam kehidupan nyata. Menurut Sanjaya (2007:1) salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kemampuan anak untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika anak lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, tetapi mereka miskin secara aplikasi.
Proses pembelajaran harus berlangsung dengan baik dan kondusif sebagai upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pelajaran dikelas yang membutuhkan guru profesional. Untuk mewujudkan profesionalisme guru, dibutuhkan sikap kreatif dan inovatif yang selalu berorientasi pada perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran di kelas. Pembelajaran di kelas dapat diperbaiki dan ditingkatkan antara lain melalui penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam rangka pemecahan masalah di kelas ( Iskandar, 2009 :2)
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka peneliti tertarik melaksanakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada siswa kelas III SD Negeri Badalungga Hilir yang berjudul:
“Meningkatkan    hasil    belajar   siswa   kelas   III   SD   Negeri Badalungga Hilir  terhadap konsep makhluk hidup dengan  penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw”.

B.     Rumusan dan Rencana Pemecahan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah Apakah terdapat peningkatan hasil belajar siswa kelas III SD Negeri Badalungga Hilir terhadap konsep makhluk hidup dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw”.
           Dalam usaha mengatasi rendahnya hasil belajar mata pelajaran IPA kelas III SDN Badalungga Hilir  tersebut, rencana pemecahannya dilaksanakan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam proses pembelajaran sebagai alternatif pemecahannya. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw  ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Siklus 1 dilaksanakan 3 kali pertemuan, sedangkan siklus II dilaksanakan 1 kali pertemuan, sehingga terdapat 4 kali pertemuan untuk siklus-siklus tersebut. Setiap siklus terdiri dari 4 tahapan (langkah / action ), yaitu: perencanaan–pelaksanaan - observasi -  refleks.
Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw (tim ahli) merupakan strategi belajar melalui kegiatan mengajar teman. Pada pembelajaran ini siswa berperan sebagai guru, menggantikan peran guru untuk mengajar teman-temannya. Sementara itu guru lebih berperan  sebagai model yang menjadi contoh, fasilitator yang memberi kemudahan serta sebagai pembimbing.  
C.     Tujuan Penelitian
Dari permasalahan diatas, maka tujuan penelitian adalah “untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA terhadap konsep  makhluk hidup kelas III SD Negeri Badalungga Hilir dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw”.





D.    Manfaat  Hasil Penelitian
      Hasil dari penelitian tindakan kelas ini diharapkan bermanfaat:
1.      Bagi siswa
Hasil penelitian ini berdampak langsung terhadap siswa dengan adanya keterlibatan siswa dan meningkatkan prestasi belajar IPA, khususnya pada konsep makhluk hidup.
2.      Bagi guru
a.       Untuk memperbaiki proses pembelajaran
b.      Dapat memberikan dan meningkatkan pembelajaran IPA di kelas sehingga permasalahan yang dihadapi siswa maupun oleh guru dapat diminimalkan.
c.       Dengan PTK guru mendapat kesempatan untuk berperan aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sendiri.
3.      Bagi Kepala Sekolah
Hasil penelitian ini dapat menambah serta meningkatkan kemampuannya dalam membimbing dan mensupervisi guru-guru di sekolahnya agar lebih kreatif dalam melaksanakan pembelajaran.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Kajian Teori
1.        Pengertian IPA
IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) atau sering disebut Sains, dalam Bahasa Inggris “Science” mempunyai berbagai macam pengertian. Beberapa ahli di berbagai bidang merumuskan suatu definisi science yang operasional.  Ilmu alam (Inggris:natural science) atau ilmu pengetahuan alam adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dimana pun. Sains (science) diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses (Pinggiralas, 2010). Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. "Real Science is both product and process, inseparably Joint" (Agus. S. sains4kidz. wordpress.com).
6
Sains sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan akhimya menyimpulkan. Dari sini tampak bahwa karakteristik yang mendasar dari Sains ialah kuantifikasi artinya gejala alam dapat berbentuk kuantitas.
Ilmu alam mempelajari aspek-aspek fisik & nonmanusia tentang Bumi dan alam sekitarnya. Ilmu-ilmu alam membentuk landasan bagi ilmu terapan, yang keduanya dibedakan dari ilmu sosial, humaniora, teologi, dan seni.
Matematika tidak dianggap sebagai ilmu alam, akan tetapi digunakan sebagai penyedia alat/perangkat dan kerangka kerja yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam. Istilah ilmu alam juga digunakan untuk mengenali "ilmu" sebagai disiplin yang mengikuti metode ilmiah, berbeda dengan filsafat alam. Di sekolah, ilmu alam dipelajari secara umum di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam(biasa disingkat IPA).
Tingkat kepastian ilmu alam relatif tinggi mengingat obyeknya yang kongkrit, karena hal ini ilmu alam lazim juga disebut ilmu pasti. Di samping penggunaan secara tradisional di atas, saat ini istilah "ilmu alam" kadang digunakan mendekati arti yang lebih cocok dalam pengertian sehari-hari. Dari sudut ini, "ilmu alam" dapat menjadi arti alternatif bagi biologi, terlibat dalam proses-proses biologis, dan dibedakan dari ilmu fisik (terkait dengan hukum-hukum fisika dan kimia yang mendasari alam semesta).
Menurut Andi (2010) pengerttian science adalah kumpulan pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode-metode yang berdasarkan observasi. Kata sains berasal dari bahasa latin ” scientia ” yang berarti pengetahuan. berdasarkan webster new collegiate dictionary definisi dari sains adalah “pengetahuan yang diperolehmelalui pembelajaran dan pembuktian” atau “pengetahuan yang melingkupi suatu kebenaran umum dari hukum – hukum alam yang terjadi misalnya didapatkan dan dibuktikan melalui metode ilmiah. Sains dalam hal ini merujuk kepada sebuah sistem untuk mendapatkan pengetahuan yang dengan menggunakan pengamatan dan eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena – fenomena yang terjadi di alam. pengertian sains jugamerujuk kepada susunan pengetahuan yang orang dapatkan melalui metode tersebut. atau bahasa yanglebih sederhana, sains adalah cara ilmu pengetahuan yang didapatkan dengan menggunakan metode tertentu. Sains dengan definisi diatas seringkali disebut dengan sains murni, untuk membedakannya dengan sains terapan, yang merupakan aplikasi sains yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manusia. ilmu sains biasanya diklasifikasikan menjadi dua yaitu  Natural sains atau Ilmu pengetahuan Alam dan Sosial sains atau ilmu pengetahuan sosial berikut ini adalah contoh dari begitu banyak pembagian bidang – bidang sains, khususnya natural sains atau IPA
1)      BIOLOGI (Biology) : Anatomi,biofisika,genetika, Ekologi, Fisiologi, taksonomi, virulogi, zoologi, dll.
2)      KIMIA (Chemistry) : Kimia Analitik, Elektrokimia, Kimia organik, kimia anorganik, ilmu material, kimia polimer, thermokimia.
3)      Fisika (Physics) : Astronomi, fisika nuklir, kinetika, dinamika, fisika material, optik, mekanika quantum, thermodinamika.
4)      Ilmu Bumi (Earth Science) : Ilmi lingkungan, geodesi, geologi, hydrologi, meteorologi, paleontologi, oceanografi.
2.        Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
Menurut Mulyasa (2006:12), berdasarkankan Kurikulum Sains SD, sains merupakan cara mencari tahu tentang alam sekitar secara sistematis untukmenguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsep-konsep,prinsip-prinsip, proses penemuan dan memiiki sikap ilmiah. Pendidikan sains bermanfaat bagi siswauntuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar. Pendidikan sains menekankanpada pemberian pengalaman langsungdan kegiatan praktisuntuk mengembangkan kompetensiagar siswamemahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan sains diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu siswauntuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Idealnya,pembelajaran sains digunakansebagai wahana bagi siswa untuk menjadi ilmuan,terutama siswa Sekolah Dasar. Melalui pembelajaran sains di sekolah siswa dilatih berpikir,membuat konsep ataupun daliil melalui pengamatan dan percobaan.
Berdasarkan hal tersebut, tergambar jelas tugas yang harus diemban guru-guru sains di sekolah dasar. Untuk mewujudkan keinginan pembelajaran Sains di Sekolah Dasar yang tertuang didalam  kurikulum,gugu-guru Sains mengemban amanat yang sangat besar. Untuk mencapai pembelajaran yang diinginkan kurikulum, guru harus mampu menjadi fasilitator dalam pembelajaran Sains, dan mampu menciptakan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswanya. Menurut Darliana (2004:13) alam pembelajaran,guru harus sebanyak mungkin melibatkan peserta didik secara aktif agar siswa mampu bereksplorasi untuk membentuk kompetensidengan menggali berbagai potensi,dan kebenaran ilmiah.
Saat ini,guru sebagai ujung tombak yang menentukan keberhasilan pendidikan dan pengajaran di sekolah, sepertinya belum dapat mengantisipasi keadaan dan keperluan siswa.Sebagian guru SD masih menggunakan pembelajaran pola lama,yaitu proses pembelajaran satu arahyang didominasi oleh guru melalui metode cemarah dan masih kurang melibatkan siswa untuk aktifdalam proses belajar mengajar. Dalam pembelajaran,guru hanya bersikap sebagai pelaksana tuggas dalam pembelajaran,bukan memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada siswanya. Guru pun jarang menciptakan model pembelajaransains dengan pengamatan langsung,percobaan, ataupun simulasi. Akibatnya, sains dianggap sebagai pelajaran hafalan. Padahal,pembelajaran sains dapat menjadi wahanabagi siswa untuk berlatih menjadi ilmuan, mengembangkan menumbuhkan motivasi, inovasi,dan kreativitas sehingga siswa mampu menghadapi masa depan yang penuh tantangan melalui penguasaan sains. Untuk mencapai tujuan tersebut,guru tidak boleh mendominasi pembelajaran di dalam kelas, dengan menganggap siswa tidak memiliki pengetahuan awal. Siswa tidak boleh dicekoki dengan hafalan, melalui transfer hal-hal yang tercantum dalam buku teks. Akan tetapi, siswa harus dilatih berpikir dan membuat konsep berdasarkan pengamatan dan percobaan. Jika siswamemberi infut, guru harus mau menerimanya dan jangan memutus proses eksplorasi berfikir siswa hanya karena tidak sesuai dengan buku pegangan. Untuk menjadi ilmuan ataupun untuk belajar diperlukan independensi berfikir. Oleh karena itu, guru seharusnya kreatif dan inovatif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga mampu memenuhi keperluan pembelajaran untuuk setiap siswanya (Sulaeman, 2007:ipotes.wordpress.com).
Salah satu metode pembelajaran sains yang dapat dilakukan di Sekolah Dasar adalah pembelajaran dengan metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan sarana yang dapaat dipakai untuk melakukan pendekatan pembelajaran sains interaktif karena siswa tidak hanya sekedar menerima informasi dari guru,tetapi siswa dapat mengemukakan hal-hal yang dibutuhkan dalam percobaan, misalnya mengajukan masalah dan membuat hipotesis. Pembelajaran dengan merode ilmiah ini dapat melatih siswa berpikir dan bekerja dengan mengikuti langkah-langkah yang sistemik dan ilmiah untuk membentuk gagasan atau memecahkan suatu masalah. Hal ini karena metode ilmiah adalah proses mengenali masalah melalui fakta-fakta yang diamati,memungkinkan pemecahannya, dan menguji setiap kemungkinan untuk mendapatkan pemecahan yang terbaik. Metode ilmiah meliputi hal-hal riset (proses pengumpulan data yang sesuai dengan pokok bahasan yang dipelajari), masalah (pertanyaan ilmiah yang harus dipecahkan), hipotesis (gagasan tentang pemecahan masalah berdasarkan pengetahuan dan riset), percobaan (proses menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan ilmiah), dan kesimpulan (ringkasan hasil percobaan dan bagaimana hasil-hasil tersebut berhubungan dengan hipotesis atau bagaimana hipotesis tersebut menjawab pertanyaan).
Metode ilmiah untuk siswa Sekolah Dasar merupakan metode ilmiah yang disederhanakan sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir siswa SD. Langkah-langkah metode ilmiah ini memang disusun dalam urutan khusus, tetapi ilmuan tidak selalu mengikuti urutan tersebut. Riset ditempatkan sebagai langkah pertama dalam metode ilmiah, tetapi riset merupakan bagian yang harus dilakukan terus menerus selama penelitian. Tidak semua langkah dalam metode ilmiah dapat dipakai dalam setiap penelitian yang dilakukan di kelas. Misalnya, banyak percobaan di kelas mempunyai permasalahan, tetapi tidak memerlukan hipotesis tertulis, gagasan-gagasan tentang jawaban terhadap masalah umumnya hanya dalam pikiran. Sebagian penelitian tidak membutuhkan percobaan, misalnya penelitian untuk mengamati perilaku hewan, yang dilakukan di kelas hanyalah pengamatan, kemudian kesimpulan ditarik berdasarkan data yang terkumpul. Pembelajaran sains di Sekolah Dasar melalui metode ilmiah melibatkan siswa untuk berpikir dan terlibat dalam pengumpulan data sehingga siswa memperoleh kesimpulan dari topik yang dipelajari.
Pembelajaran yang melibatkan siswa untuk aktif berpikir memiliki keuntungan, diantaranya siswa mampu berpikir logis dan ilmiah,kemampuan berpikirnya meningkat, jenis ketrampilan berpikir lebih banyak, serta mampu memahami dan menggunakan konsep-konsep sains. Pembelajaran sains di kelas melalui metode ilmiah dirancang untuk membantu para siswa mengembangkan enam keterampilan, yaitu;(1) bertanya(mengajukan masalah); (2) memperkirakan hal yang akan mereka harapkan (atau membuat hipotesis); (3) merencanakan dan melakukan penelitian (termasuk penelitian-penelitian untuk menguji hipotesis mereka); (4) mengumpulkan hasil pengamatan (mengumpulkan data); (5) mengatur, menguji, dan mengevaluasi data dengan membuat table, grafik, gambar, dan peta; (6) menarik kesimpulan dengan membandingkan antara hipotesis sisswa (pengamatan yang sebenarnya). Jika hipotesis tidak diperlukan, kesimpulan akan menjadi ringkasan dari hasil-hasil percobaan,termasuk jawaban untuk pertanyaan yang disampaikan.

3.        Rambu-Rambu Pembelajaran Sains (IPA) Dalam Kurikulum
Dari berbagai buku layanan profesional yang dikeluarkan oleh Pusat Kurikulum Depdiknas (2003) untuk pelaksanaan Kurikulum 2004 atau sekarang disempurnakan menjadi kurikulum 2006, diperoleh rambu-rambu pembelajaran IPA di SD sebagai berikut.
a.       Bahan kajian sains untuk kelas I, II dan III tidak diajarkan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, tetapi diajarkan dengan pendekatan tematis.
b.      Aspek kerja ilmiah bukanlah bahan ajar, melainkan cara untuk menyampaikan bahan pembelajaran yang terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran. Pengembangan aspek ini disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak artinya tidak harus seluruh aspek serta merta ada pada setiap kegiatan. Aspek kerja ilmiah disusun bergradasi untuk kelas I dan II, kelas III dan IV, serta kelas V dan VI.
c.       Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran IPA berorientasi pada siswa. Peran guru bergeser dari menentukan “apa yang akan dipelajari” ke ‘bagai-mana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa”. Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif dengan teman, lingkungan, dan narasumber lain. Ada 6 pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan pembelajaran IPA yang berorientasi pada siswa, yaitu:
1)    Empat pilar pendidikan yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk melakukan (learning to do), belajar untuk hidup dalam kebersamaan (learning to live together), belajar untuk menjadi dirinya sendiri (learning to be).
2)    Inkuiri IPA.
3)    Konstruktivisme.
4)    Sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat (Salingtemas).
5)    Pemecahan Masalah.
6)    Pembelajaran IPA yang bermuatan nilai.

4.        Pengertian Hasil Belajar
Menurut Dimyati (Indra, 2010), hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar.
Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran. Sedangkan menurut Oemar Hamalik (2003:30) hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Sudjana, 2004:13).
Proses pembelajaran itu merupakan rangkaian kegiatan yang melibatkan komponen. Itulah pentingnya setiap guru memahami system pembelajaran. Melalui pemahaman sistem pembelajaran diharapkan minimal guru akan memahami tujuan, pembelajaran atau hasil yang diharapkan, proses kegiatan pembelajaran yang dilakukan, pemanfaatan setiap komponen dalam proses kegiatan mencapai tujuan, dan bagaimana mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan tersebut (Sanjaya, 2007:49).

5.        Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Telah dikatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku dan atau kecakapan. Sampai di manakah perubahan itu dapat tercapai atau dengan kata lain, berhasil baik atau tidaknya belajar itu tergantung kepada bermacam-macam faktor. Adapun faktor itu dapat dibedakan dua golongan:
a.       Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang disebut faktor individual, dan
b.      Faktor yang ada di luar individu yang disebut faktor sosial
Yang termasuk faktor individual antara lain :
1.      Kematangan / pertumbuhan
2.      Kecerdasan / intelegensi
3.      Latihan dan ulangan
4.      Motivasi
5.      Sifat-sifat pribadi seseorang
Sedangkan yang termasuk faktor sosial antara lain:
1.      Keluarga / keadaan rumah tangga
2.      Guru dan cara mengajarnya
3.      Alat-alat yang dipergunakan dalam belajar mengajar
4.      Lingkungan dan kesempatan yang tersedia, dan
5.      Motivasi sosial (Ngalim Purwanto, 2007:102).
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Seperti yang dikemukakan  oleh Clark bahwa hasil belajar siswa disekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan. Adanya pengaruh dari dalam diri siswa, merupakan hal yang logis dan wajar, sebab hakikat perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang diniati dan disadarinya. Selain harus merasakan adanya suatu kebutuhan untuk belajar dan berprestasi (Indra, 2010).
Salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar di sekolah ialah kualitas pengajaran. Yang dimaksud kualitas pengajaran ialah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar-mengajar dalam mencapai tujuan pengajaran (Sudjana ,2004:39).

6.        Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Alliot Aronson’s. model pembelajaran ini di desain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajaran sendiri dan pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada kelompoknya (Adi, …. Ady-ajuz.blogspot.com)
Sesuai dengan namanya, teknis penerapan tipe pembelajaran ini maju mundur seperti gergaji, model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw diajarkan dengan menerapkan pembelajaran berkelompok. Adapun tahapan pembelajaran dalam mengajarkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah sebagai berikut:
Langkah-langkah:
1.    Siswa dikelompokkan ke dalam 4 anggota tim
2.    Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
3.    Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
4.    Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub    bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
5.    Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
6.    Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
7.    Guru memberi evaluasi
8.    Penutup
Hal yang penting perlu diperhatikan di dalam membelajarkan siswa mengenai pembelajaran ini adalah pada saat penjelasan. Model yang dilakukan guru harus jelas, tahap dami tahap siswa harus dipastikan telah memahami semua tahapan yang dilakukan.
Untuk menjamin modeling dilakukan dengan baik, menurut teori sosial  Bandura ada empat tahap modeling, yaitu atensi, retensi, produksi dan motivasi. Atensi (perhatian) siswa dapat terjadi dan terpusat pada apa yang dimodelkan jika guru melakukannya dengan baik, menarik serta tahap demi tahap. Agar siswa dapat meniru keterampilan yang dilatihkan, maka siswa harus dapat mengingat tahapan yang dilatihkan itu. Oleh kerena itu perlu dilakukan aktivitas-aktivitas agar siswa dapat mengingatnya (retensi). Retensi dapat dilakukan dengan jalan mengulang-ulang keterampilan tersebut. Produksi adalah memberi kesempatan kepada siswa untuk mendemonstrasikan/ meragakan keterampilan yang sudah dilatih. Siswa cenderung melakukan reproduksi kalau mereka termotivasi. Salah satu cara membangkitkan motivasi adalah dengan menunjukkan kepada siswa bahwa keterampilan yang mereka pelajari itu sangat diperlukan oleh mereka dalam rangka belajarnya (Fasilitator, 2007:60).
Dalam pelaksanaannya guru sebagai fasilitaor dan memotivasi pelajar dalam menguasai konsep, menumbuhkan kreativitas dan mendapatkan mental kompetensi.
kepada kelompoknya.
7.        Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Faiq (2009) kelebihan model pembelajaran kooperatif yaitu:
a.       Meningkatkan harga diri tiap individu
b.       Penerimaan terhadap perbedaan individu yang lebih besar.
c.       Konflik antar pribadi berkurang
d.      Sikap apatis berkurang
e.       Pemahaman yang lebih mendalam
f.        Retensi atau penyimpanan lebih lama
g.        Meningkatkan kebaikan budi,kepekaan dan toleransi.
h.       Model pembelajaran kooperatif dapat mencegah keagresivan dalam sistem kompetisi dan keterasingan dalam sistem individu tanpa mengorbankan aspek kognitif.
i.         Meningkatkan kemajuan belajar(pencapaian akademik)
j.        Meningkatkan kehadiran siswa dan sikap yang lebih positif
k.      Menambah motivasi dan percaya diri
l.         Menambah rasa senang berada di sekolah serta menyenangi temanteman sekelasnya
m.     Mudah diterapkan dan tidak mahal

B.       Kerangka Berpikir
Pembelajaran adalah kegiatan terencana untuk membelajarkan seseorang atau sekelompok orang melalui satu atau lebih strategi, metode, dan pendekatan tertentu kearah pencapaian tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Oleh sebab itu, unsur utama pembelajaran adalah siswa bukan guru.
Pada penelitian ini model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang digunakan. Guru lebih berperan sebagai model yang menjadi contoh, fasilitator yang memberikan kemudahan, dan sebagai pembimbing dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini merupakan strategi belajar melalui kegiatan mengajar teman. Guru merupakan salah satu faktor penting dalam proses belajar siswa. Oleh karena itu guru harus mampu menjadi  fasilitator dan pembimbing yang baik sehingga dapat mandorong terjadinya perbuatan belajar siswa yang aktif dan menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. 

C.       Hipotesis 
Berdasarkan kajian pustaka tersebut di atas, maka hipotesis tindakan kelas ini adalah: “Bila digunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam proses belajar mengajar maka, hasil belajar IPA siswa kelas III SD Negeri Badalungga Hilir pada materi konsep makhluk hidup dapat ditingkatkan”.





BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.       Pendekatan dan Jenis Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu dengan mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas III SD Negeri Badalungga Hilir pada konsep makhluk hidup dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
Menurut Rustam dan Mundilarto (Asrori, 2008:5) Penelitian ini menggunakan metode tindakan kelas (Classroom Action Research) yaitu: “Sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitan tindakan kelas (PTK) adalah suatu bentuk tindakan yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara lebih berkualitas sehingga siswa dapat memperoleh hasil belajar yang lebih baik.
22
Penelitian  tindakan  kelas  ini  akan  dilaksanakan  selama  2  bulan dengan   rangkaian  tindakan ( siklus-siklus )  yakni 2 siklus. Siklus I dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan dan siklus II dilaksanakan dalam 1 kali pertemuan, sehingga terdapat  4 kali pertemuan untuk siklus-siklus tersebut. Setiap siklus terdiri dari  4 tahapan), yaitu : Perencanaan -  pelaksanaan – observasi - refleksi.
Pelaksanaan
SIKLUS I
Observasi
Refleksi
Perencanaan
Perencanaan
Pelaksanaan
SIKLUS II
Observasi
Refleksi
?
Menurut Kemmes dan Mc. Taggart (Suharsimi A. 2006:3) penelitian tindakan kelas dilakukan melalui proses yang dinamis yang  terdiri atas tahapan-tahapan sebagai berikut:









Gambar 3.1. Bagan Tahapan Penelitian Tindakan Kelas (Suharsimi A. 2006 )
Tahapan-tahapan penelitian tindakan kelas dimulai dari merencanakan kegiatan, melakukan tindakan, melakukan pengamatan dan refleksi setelah kegiatan berakhir. Keempat tahap tersebut merupakan satu siklus atau daur. Oleh karena itu, setiap tahap akan berulang kembali (Winardi, 2007:2.3).
Keempat langkah ini merupakan langkah yang berurutan, artinya langkah pertama harus dkerjakan lebih dulu sebelum langkah kedua, demikian seterusnya. Langkah pertama dan kedua merupakan bagian awal dari perencanaan perbaikan, sedang langkah yang  ketiga merupakan prasyarat untuk langkah yang keempat.

B.       Setting  Penelitian
Subjek penelitian pada tindakan kelas adalah  seluruh siswa  kelas  III(tiga) semester I SD Negeri Badalungga Hilir Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan. Dengan jumlah siswa laki-laki sebanyak 7  orang dan  siswa perempuan 8 orang, jumlah seluruhnya sebanyak 15 orang. Mata pelajaran yang dijadikan sebagai bahan penelitian adalah IPA dengan materi konsep makhuk hidup. Dengan dasar penelitian meningkatkan hasil belajar IPA dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Dengan suasana belajar pada pagi hari.

C.       Faktor-Faktor yang Diteliti
Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah di atas , maka   faktor yang ingin diteliti dalam penelitian tindakan kelas ini adalah :
a.     Faktor siswa, yaitu dengan memperhatikan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Aspek yang diamati adalah keaktifan, kemampuan siswa dalam memberikan penjelasan dan berkomunikasi kepada temannya, mengajukan pertanyaan dan mengomentari jawaban teman yang lain.
b.    Faktor guru, guru memperhatikan pengelolaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang persiapan mengajar dituangkan dalam RPP dan pelaksanaan kagiatan belajar mengajar ( KBM ) yang sesuai dengan tahapan-tahapan yang direncanakan dan disepakati bersama, dengan alokasi waktu yang digunakan dalam 1 kali pertemuan adalah 2 x 35 menit.
c.     Faktor hasil belajar, yaitu mengukur hasil belajar siswa setelah proses belajar mengajar yang dilaksanakan peneliti terhadap materi konsep makhluk hidup melalui model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.

D.      Skenario Tindakan
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus yang dijabarkan dalam kegiatan seperti berikut ini :
1.    Perencanaan
a.       Membuat skenario pembelajaran tentang cara  meningkatkan kemampuan siswa  dalam  menguasai   pelajaran  IPA pada materi konsep makhluk hidup dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang dituangkan  dalam RPP.
b.      Membuat lembar observasi siswa  untuk  melihat   kondisi   belajar  siswa ketika tindakan dilakukan.
c.       Membuat   lembar observasi guru  untuk melihat   afektivitas   cara   guru memberikan   pelajaran  dengan   menggunakan  model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
d.       Membuat  alat  bantu  yang    diperlukan  dalam  tindakan  kelas.
e.       Membuat  alat  evaluasi  untuk  mengukur   hasil   belajar   siswa  sebagai dampak dari tindakan yang dlakukan.
2.    Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan  tahap  ini  adalah   melakukan   proses  belajar   mengajar dengan menggunakan   model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang   telah dirancang dan tertuang  dalam  RPP pada  tahap  perencanaan. Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus yang dijabarkan dalam kegiatan sebagai berikut :
a.       Siklus 1      : ( 2 x pertemuan )     4   x   35   menit
Pembukaan :
Guru melakukan appersepsi dan motivasi terhadap materi pelajaran yang akan dilaksanakan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali pengetahuan anak sampai sejauh mana anak telah mengetahui materi konsep makhluk hidup. Guru menyampaikan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran yang dilaksanakan sehingga anak termotivasi untuk belajar.
Kegiatan Inti         
1.        Siswa dikelompokkan ke dalam 4 anggota tim
2.        Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
3.        Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
4.        Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub    bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
5.        Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
6.        Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
7.        Guru memberi evaluasi
8.        Guru memberikan penghargaan kepada tugas kelompok dan tugas
9.        Individual
b.      Siklus  II     :   ( 2 x pertemuan ) 4  x  35  menit
Siklus kedua dilaksanakan setelah melakukan refleksi tindakan pada siklus 1 dari hasil observasi kegiatan siswa dan nilai hasil belajar. Apabila belum memenuhi indikator ketuntasan belajar yang telah  ditetapkan akan dilakukan proses perbaikan pembelajaran sesuai dengan pokok bahasan yang perlu mendapat tindakan perbaikan.
3.     Observasi
Pada tahap ini dilakukan  observasi  dengan  menggunakan  lembar observasi  yang telah  dipersiapkan  guna   menganalisa pendekatan pembelajaran yang digunakan, apakah pendekatan pembelajaran tersebut dapat meningkatan  hasil belajar siswa sehingga tujuan yang diharapkan dapat  terlaksana  dengan  baik serta dapat  melihat efektivitas guru   dalam   menyampaikan pelajaran dengan menggunakan  pendekatan  pembelajaran tersebut.

4.    Refleksi
Setelah   hasil  observasi  dianalisis  dan  selanjutnya dilakukan refleksi sebagai  usaha  untuk    mengetahui  kelebihan  dan  kelemahan  yang terjadi   dari   pelaksanaan tindakan  kelas. Hasil  observasi  ingin digunakan sebagai  acuan  untuk  melakukan tindakan  ( action )  pada siklus    selanjutnya. Untuk meningkatkan    hasil     belajar siswa    dalam    materi konsep makhluk hidup dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.

E.       Data dan Cara Pengambilan Data
1.    Sumber Data
Sumber data penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas III  dan guru SD Negeri Badalungga Hilir, Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan semester I tahun pelajaran 2010 / 2011. Data tersebut adalah :
a.       Data hasil belajar diperoleh dari nilai tes tertulis dari akhir proses pembelajaran setiap pertemuan dan siklus.
b.      Data aktivitas siswa diperoleh dari hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
c.       Data pembelajaran guru diambil dari hasil observasi tahapan-tahapan proses belajar mengajar yang dilakukan guru dari pembukaan, kegiatan inti, evaluasi sampai akhir pembelajaran.

2.    Jenis data
Jenis data yang disajikan dalam penelitian ini adalah data yang bersifat kuantitatif dan data kualitatif yang terdiri dari tes hasil belajar dan lembar observasi.
a.       Data kuantitatif yaitu data yang bersifat angka-angka hasil belajar dengan alat penggali data tes tertulis dalam bentuk data hasil belajar diakhir siklus. Data tersebut diambil dengan memperhatikan presentasi ketuntasan belajar yang dihitung dengan cara sebagai berikut :
1.      Teknik penilaian individual, diawali dengan penskoran terhadap jumlah jawaban yang diberikan. Skor dianalisis dengan rumus :
                                   Jumlah jawaban benar
Persentase =                                                       X 100 %
                         Jumlah skor maksimal keseluruhan
2.      Teknik penilaian klasikal, digunakan untuk mengetahui presentasi dari bahan yang diberikan dapat dikuasai oleh siswa dalam kelas. Skor dianalisis dengan rumus :
         Jumlah siswa yang tuntas belajar
      Persentase =                                                        X 100 %
                                              Jumlah siswa keseluruhan
Data kuantitatif juga digunakan sebagai komponen utama dalam      penariikan kesimpulan atau sebagai dasar data kualitatif.
b.      Data kualitatif data yang bersifat kata-kata atau kriteria perilaku dengan alat penggali data berupa data observasi aktivitas siswa maupun cara guru mengelola pembelajaran. Data kulitatif diambil dari menyimpulkan atau mengklasifikasi data kuantitatif dari hasil observasi atau dari angka-angka kemudian diklasifikasikan menjadi kata-kata.
Tabel 1 kualifikasi hasil belajar siswa
No
Nilai
Huruf
Keterangan
1
86%-100%
A
Baik sekali
2
70%-85%
B
Baik
3
60%-75%
C
Cukup
4
40%-59%
D
Kurang
5
<39%
E
Kurang sekali

3.    Cara Pengambilan Data
a.       Data tentang situasi pembelajaran pada saat dilaksanakannya diambil dengan menggunakan lembar observasi.
b.      Data hasil belajar diperoleh dari nilai tes tertulis siswa pada saat dan akhir proses pembelajaran baik secara individual maupun kelompok.

F.        Indikator Keberhasilan
Untuk mengukur keberhasilan penelitian tindakan kelas adalah:
a.       Apabila hasil belajar secara individu mendapat kualifikasi nilai hasil tes tertulis menunjukkan 70 KKM Indikator konsep makhluk hidup kelas III SDN Badalungga Hilir tentang makhluk hidup adalah 70
b.      Hasil belajar  klasikal mencapai nilai tuntas belajar apabila 85 % dari jumlah siswa mendapat nilai ≥ 70 berdasarkan konsep belajar tuntas. Indikasi ini menunjukan aktivitas dan respon siswa dalam pembelajaran  konsep makhluk hidup dengan model kooperatif tipe Jigsaw sudah baik.


Komentar