BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Maju tidaknya pendidikan di Indonesia sangat bergantung pada
sistem pendidikan yang tertata dengan teratur, agar rakyatnya memiliki
keterampilan dan pengetahuan yang mantap guna mencerdaskan kehidupan bangsa
seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945. sementara itu, pada peraturan
pemerintah no. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab V Standar
Kelulusan pada pasal 25 ayat (3) dijelaskan bahwa kompetensi lulusan untuk mata
pelajaran Bahasa Indonesia menekankan pada kemampuan membaca dan menulis.
Dalam ruanglingkup mata pelajaran bahasa Indonesia
mencakup kemampuan berbahasa dan bersastra yang meliputi empat aspek yaitu
berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis. Dari empat aspek tersebut,
keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang sangat
penting karena keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan berupa
hasil karya yang menghasilkan dan memberi informasi lisan atau menyampaikan
tanpa mengabaikan tiga aspek lainnya yaitu menulis, membaca dan mendengarkan.
Berbicara merupakan suatu keterampilan berbahasa yang
dipergunakan untuk berkomunikasi secara langsung secara tatap muka dengan orang
lain. Berbicara adalah suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Kegiatan
berbicara menuntut kompetensi yang terampil untuk memanfaatkan struktur bahasa
dan kosa kata. Untuk itu, keterampilan berbicara ini tidak akan datang secara
otomatis, melainkan harus melalui proses belajar, pelatihan dan praktik yang
banyak.
Dengan
berbicara seseorang dapat dengan bebas mengungkapkan perasaan atau ide-ide. Selain
itu, berbicara juga dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi, siswa dapat
dilatih melalui pembelajaran keterampilan-keterampilan berbahasa yang lain ketika pelaksanaan
pembelajaran di kelas.
Dalam proses
pembelajaran di kelas khususnya di SD, dilihat dari keempat aspek keterampilan
berbahasa, siswa cenderung lemah pada aspek berbicara. Hal tersebut dapat
diketahui dari hasil latihan-latihan siswa ketika pelajaran berlangsung. Siswa
cenderung mengalami kesulitan dalam mengembangkan kerangka berfikirnya karena
kurangnya pengetahuan siswa tentang sesuatu hal, susunan kalimat utama dan
kalimat penjelas sering tidak padu, pengucapan ejaan dan tanda baca masih belum
tepat dan topik yang dibahas sering tidak fokus.
Dari
pengalaman mengajar guru Bahasa Indonesia pada tahun sebelumnya pada
keterampilan berbahasa masih ada siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau
Panggang yang belum tuntas belajar, yaitu siswa yang tuntas secara klasikal
hanya sebesar 64%, jadi belum memenuhi target 85% ketuntasan secara klasikal.
Selain itu,
kegiatan pembelajaran berbahasa Indonesia khususnya keterampilan berbicara
masih kurang komunikatif. Sehingga siswa tidak terampil menggunakan
kemampuannya. Oleh sebab itu, perlu dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Menurut Elliot (Wiriaatmaja (2006:12) bahwa penelitian tindakan kelas
dapat dilihat sebagai kajian dari sebuah
situasi sosial dengan memungkinkan tindakan untuk memperbaiki kualitas sosial
tersebut. Dalam konteks ini, penelitian
tindakan kelas dilakukan untuk memecahkan permasalahan dalam kegiatan belajar
mengajar di kelas.
Dalam upaya
memecahkan permasalahan tentang rendahnya kemampuan siswa dalam pembelajaran berbicara.
Maka, peneliti memilih menggunakan pendekatan Role Playing (Bermain Peran).
Role Playing (Bermain Peran) sebagai cara atau teknik belajar sungguh besar
peranannya, sebab dengan teknik ini disamping pengangkatan suatu keadaan atau
kejadian ke dalam ruang kelas juga sebagai perasaan, keadaan, dan perbuatan
daripada hal tersebut akan turut
dirasakan atau dialami oleh siswa sebagai pelakunya (Sumoatmojo dan Nursid,
2005 : 44).
Dengan teknik
ini siswa lebih tertarik perhatiannya pada pelajaran, karena masalah-masalah
sosial sangat berguna bagi mereka. Karena mereka bermain
perannnya sendiri, maka mudah memahami masalah-masalah sosial itu. Bagi siswa
dengan berperan seperti orang lain, maka ia dapat menempatkan dirinya seperti
watak orang lain itu, ia dapat merasakan perasaan orang lain, dapat mengakui
pendapat orang lain, sehingga menumbuhkan sikap saling pengertian, tenggang
rasa, toleransi dan cinta kasih terhadap sesama makhluk akhirnya siswa dapat berperan dan menimbulkan diskusi
yang hidup, karena merasa menghayati sendiri permasalahannya. Juga penonton
tidak pasif, tetapi aktif mengamati dan mengajukan saran dan kritik (Roestiyah,
2001 : 93).
Oleh karena
peran siswa dalam proses belajar mengajar sangat membantu dirinya untuk
memecahkan sendiri permasalahan yang dihadapinya, juga berdasarkan pandangan
para ahli tersebut di atas, maka perlu dilakukan apakah metode bermain peran ini dapat
dipergunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SD.
Berdasarkan
uraian di atas, peneliti melakukan penelitian dengan judul “ Meningkatkan
Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Melalui
Kegiatan Bermain Peran”
B.
Rumusan Masalah
Rumusan
masalah yang akan diteliti adalah: Apakah terjadi peningkatan keterampilan
berbicara melalui kegiatan bermain peran pada
siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara
Tahun Pelajaran 2008/2009?
C.
Rencana Pemecahan
Untuk meningkatkan
keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang
Kabupaten Hulu Sungai Utara dilakukan kegiatan bermain peran dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Menetapkan masalah-masalah yang menarik perhatian siswa
untuk dibahas.
2.
Menceritakan kepada siswa mengenai isi dari
masalah-masalah dalam konteks cerita tersebut.
3.
Menetapkan siswa yang dapat atau bersedia untuk
memainkan perannya di depan kelas.
4. Menjelaskan kepada pendengar mengenai
peran mereka pada waktu bermain peran sedang berlangsung.
5. Memberi kesempatan kepada para pelaku untuk berunding beberapa menit sebelum mereka
memainkan perannya.
6. Mengakhiri kegiatan bermain peran pada
saat situasi pembicaraan mencapai ketegangan.
7. Mengakhiri bermain peran dengan diskusi
kelas untuk bersama-sama memecahkan masalah persoalan yang ada pada saat
bermain peran dilaksanakan.
8. Memperhatikan dan merefleksi hasil
kegiatan bermain peran untuk perbaikan pada pertemuan berikutnya.
D.
Tujuan Penelitian
Tujuan
Penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan berbicara melalui kegiatan bermain peran pada siswa kelas V SDN Baru Kecamatan
Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun Pelajaran 2008/2009.
E. Manfaat
Penelitian
Hasil dari
penelitian ini diharapkan akan dapat
memberikan manfaat bagi perorangan maupun
institusi di bawah ini :
1. Bagi guru, guru dapat mengetahui pola dan
strategi pembelajaran yang tepat dalam
upaya memperbaiki pengajaran.
2. Bagi siswa, dengan penggunaan kegiatan
bermain peran dapat meningkatkan
pemahaman siswa terhadap keterampilan berbicara.
3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini akan
memberikan kontribusi terhadap perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas
V, khususnya keterampilan berbicara.
4. Untuk penelitian selanjutnya, hasil
penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk penelitian
berikutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Kondisi Belajar Mengajar yang Efektif
Menurut Usman (2001:21) bahwa guru memiliki peran
yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang
dilaksanakannya. Oleh sebab itu, guru harus memikirkan dan membuat perencanaan
secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswanya dan
memperbaiki kualitas belajarnya.
Hal ini
menuntut perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas, penggunaan metode
mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam
mengelola proses belajar mengajar, bertindak selaku fasilitator yang berusaha
menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif sehingga memungkinkan proses
belajar-mengajar, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, dan meningkatkan
kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan
yang harus mereka capai. Memenuhi tuntutan tersebut di atas, maka guru harus
mampu mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa
sehingga ia mau belajar karena memang siswalah subjek utama dalam belajar.
Mengajar
adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga ia mau belajar. Dengan
demikian, aktivitas siswa sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar
sehingga siswalah yang seharusnya banyak aktif, sebab siswa sebagai subjek
didik adalah yang merencanakan, dan ia sendiri yang melaksanakan belajar.
Pada
kenyataannya di sekolah-sekolah sering kali guru yang aktif sehingga siswa
tidak diberi kesempatan untuk aktif. Betapa pentingnya aktivitas belajar siswa
dalam proses belajar mengajar, sehingga John Dewey dalam Usman (2001 : 21)
mengemukakan pentingnya prinsip ini melalui metode proyeknya dengan semboyan learning by doing. Berikut ini
dikemukakan sistem belajar mengajar yang merupakan salah satu upaya dalam
menciptakan belajar mengajar yang efektif dan efisien, yakni dengan sistem
belajar siswa aktif atau CBSA.
B. Prinsip-Prinsip Mengaktifkan Siswa
Menurut Usman (2001 : 88-89) bahwa guru dapat
mengaktifkan siswa dalam belajar mengajar dengan membuat pelajaran itu menjadi
menantang, merangsang daya cipta untuk menemukan serta mengesankan bagi siswa.
Menurut Usman (2001 : 88-89) guna
menciptakan CBSA, kita perlu mengenal dan menghayati sejumlah prinsip sebagai
berikut :
1.
Prinsip Motivasi
Motif
ialah daya atau kemauan dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu. Sedangkan
motivasi adalah usaha membangkitkan motif-motif sehingga menjadi suatu
perbuatan. Guru perlu mengetahui motivasi yang terdapat pada diri siswanya.
2.
Prinsip latar atau konteks
Guru
perlu mengetahui tentang pengetahuan, keterampilan, sikap, dan peran serta
pengalaman yang dimiliki oleh para siswanya. Perolehan ini perlu perlu
dihubungkan dengan pelajaran baru yang hendak diajarkan guru kepada siswanya.
Apa-apa yang telah diketahui anak akan lebih menarik minat anak apabila
dikaitkan dengan pelajaran baru, akibatnya siswa akan lebih mudah menangkap dan
cepat memahami bahan pelajaran.
3.
Prinsip fokus (pemusatan perhatian)
Penyusunan
suatu pelajaran maupun pelaksanaan proses belajar mengajar hendaknya difokuskan
pada satu arah atau pola tertentu.
4.
Prinsip sosialisasi
Dalam
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk bekerja sama dengan rekan-rekan
sebayanya karena adakalanya kegiatan dapat dikerjakan dengan baik bila
dikerjakan bersama-sama. Dengan
prinsip ini para siswa akan dapat membedakan hubungan dengan guru, dengan
sesama teman, dan hubungan dengan masyarakat.
5.
Prinsip belajar sambil bekerja
Pada hakikatnya siswa senang bila belajar
sambil bekerja atau melakukan aktifitas. Mereka akan merasa punya harga
diri bila diberi kesempatan untuk berbuat atau melakukan sesuatu.
6.
Prinsip individualisasi
Setiap
siswa pada hakikatnya memiliki perbedaan tersendiri baik dalam hal bakat,
minat, kecerdasan, sikap, maupun kebiasaan. Maka guru hendaklah tidak
memperlakukan siswa seolah-olah semua sama.
7.
Prinsip menemukan
Guru hendaknya
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau mencari informasi, jadi
guru tidak perlu menjejali informasi.
C. Metode Bermain Peran (Role Playing)
1.
Pengertian
Bermain Peran (Role Playing)
Bermain
Peran ((Role Playing) adalah dimana
siswa bisa berperan atau memainkan peranan dalam dramatisasi masalah
sosial/psikologis (Roestiyah, 2001 : 90).
Metode Bermain Peran ((Role Playing) disebut juga dengan metode
sosiodrama. Sosiodrama pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya
dengan masalah sosial. Sosiodrama adalah sandiwara tanpa naskah (script) dan tanpa latihan terlebih
dahulu, sehingga dilakukan secara spontan (Djamarah, dan Zain, 2002 : 115).
Bermain peran (Role Playing) sebagai metode mengajar merupakan suatu cara penyampaian
yang meminta siswa untuk mendramatisasikan sekaligus memecahkan masalah-masalah
dalam kehidupan di masyarakat. Agar
pelaksanaan metode bermain peran (Role
Playing) dapat berjalan dengan baik dapat dilakukan dengan jalan, yaitu :
a. Mengalami sendiri suatu bermain peran (Role Playing).
b.
Mengikuti penuturan terjadinya bermain peran (Role Playing).
c.
Mengikuti langkah-langkah guru pada saat memimpin
bermain peran (Role Playing) (Sri
Anitah, W, Suwaini, S, dan Suyatmi, 1998 : 38).
2.
Tujuan penggunaan metode Bermain Peran (Role Playing)
Tujuan
yang diharapkan dengan penggunaan metode Bermain Peran (Role Playing) adalah :
a.
Agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan
orang lain.
b. Dapat belajar bagaimana membagi tanggung
jawab.
c. Dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi
kelompok secara spontan.
d. Merangsang kelas untuk berpikir dan
memecahkan masalah.
3. Langkah-langkah penggunaan metode Bermain
Peran (Role Playing)
Langkah-langkah dalam pelaksanaan
penggunaan metode Bermain Peran (Role
Playing) adalah sebagai berikut:
a. Tetapkan terlebih dahulu masalah-masalah
yang akan dibahas.
b. Jelaskan kepada siswa mengenai maksud dan
tujuan pelaksanaan pembelajaran yang diinginkan.
c.
Tetapkan siswa yang dapat atau bersedia untuk memainkan
peran di depan kelas.
d.
Jelaskan kepada siswa lainnnya mengenai peranan mereka
pada waktu Bermain Peran (Role Playing)
sedang berlangsung.
e.
Beri kesempatan kepada para pelaku untuk berunding
beberapa menit sebelum mereka memainkan peranannya.
f.
Akhiri Bermain Peran (Role Playing) pada waktu situasi pembicaraan mencapai ketegangan.
g.
Akhiri Bermain Peran (Role Playing) dengan diskusi kelas bersama-sama memecahkan masalah
persoalan yang ada pada Bermain peran
tersebut
h.
Lakukan penilaian terhadap pelaksanaan pelaksanaan
Bermain peran (Role Playing) untuk
pertimbangan lebih lanjut.
(Djamarah, 2002 : 100).
4. Kelebihan dan kelemahan Metode Bermain
Peran (Role Playing)
a. Kelebihan Metode Bermain Peran (Role Playing)
1)
Siswa dapat melatih dirinya untuk melatih, memahami,
dan mengingat isi bahan yang akan diperankan. Sebagai pemain harus memahami,
menghayati isi cerita secara keseluruhan, terutama untuk materi yang harus
diperankannya. Dengan demikian, daya ingatan siswa harus tajam dan tahan lama.
2)
Siswa akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif. Pada waktu main drama para pemain dituntut
untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan waktu yang tersedia.
3)
Bakat yang terdapat pada siswa dapat dipupuk sehingga
dimungkinkan akan muncul atau tumbuh bibit seni drama di sekolah. Jika seni
drama mereka dibina dengan baik kemungkinan besar mereka akan menjadi pemain
yang lebih baik.
4)
Kerjasama antara pemain dapat ditumbuhkan dan dibina
dengan sebaik-baiknya.
5)
Siswa memperoleh kebiasaan untuk mnerima dan membagi
tanggung jawab dengan sesamanya.
6)
Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang
baik agar mudah dipahami orang lain.
(Djamarah, 2002 : 101).
b. Kelemahan
Metode Bermain Peran (Role Playing)
1) Sebagian besar anak yang tidak ikut
bermain peran mereka menjadi kurang kreatif.
2) Banyak
memakan waktu, baik waktu persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan
pertunjukan.
3) Memerlukan tempat yang cukup luas, jika
tempat bermain sempit menjadi kurang bebas.
4) Sering kelas lain terganggu oleh suara
para pemain dan para penonton yang kadang-kadang bertepuk tangan, dan
sebaginya.
(Djamarah,
2002 : 101).
D. Materi
Keterampilan Berbicara
1. Berbicara
Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa
Menurut
Tarigan (1986:3) bahwa berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang
berkembang pada kehidupan anak, yang hanya didahului oleh keterampilan
menyimak, dan pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar
dipelajari. Berbicara sudah barang tentu erat hubungannya dengan perkembangan
kosa kata yang diperoleh oleh sang anak melalui kegiatan menyimak dan membaca.
2. Berbicara Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi
Ujaran
sebagai suatu cara berkomunikasi sangat mempengaruhi kehidupan-kehidupan
individual. Dalam sistem
inilah kita saling bertukar pendapat, gagasan, perasaan, keinginan, dengan
bantuan lambang-lambang yang disebut kata-kata. Sistem inilah yang memberi
keefektifan bagi individu dalam mendirikan hubungan mental dan emosional dengan
anggota-anggota lainnya (Tarigan, 1986:13).
3. Tujuan Berbicara
Tujuan utama
dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran
secara efektif, maka seyogyanya sang pembicara memahami makna segala sesuatu
yang ingin dikomunikasikan, dia harus mampu mengevaluasi efek komunikasinya
terhadap para pendengarnya, dan dia harus mengetahui prinsip-prinsip yang
mendasari segala situasi pembicaraan, baik secara umum maupun perorangan
(Tarigan, 1986:23).
4. Materi
Keterampilan Berbicara Melalui Bermian Peran
Tema Persoalan faktual yang terjadi di
lingkungan sekitar.
Hal-hal yang
perlu diperhatikan saat memainkan peran, yaitu:
a. Intonasi
Kalimat
demi kalimat dibaca dengan intonasi (lagu kalimat) yang sesuai.
b. Jeda
Pemenggalan frasa atau klausa harus tepat
agar tidak menimbulkan makna ganda. Selain itu, agar dapat dipahami oleh
pendengar.
c. Lafal
Kata-kata harus dilafalkan dengan tepat
dan jelas. Jika tidak jelas, akan mengurangi pemahaman terhadap isi drama.
Kalimat-kalimat dalam kurung tidak perlu
dibaca. Kalimat tersebut
merupakan petunjuk laku.
d. Volume suara
Keras lemahnya suara disesuaikan dengan
banyaknya pendengar dan luasnya tempat. Jangan sampai suara terlalu keras atau
terlalu lemah.
e. mimik dan gerak
kalimat-kalimat yang diucapkan saat
bermain peran disertai dengan mimik dan gerak-gerik tubuh yang sesuai dengan
isi percakapan dan watak tokoh.
E. Kerangka
Berpikir
Kemampuan berbicara adalah salah satu dari
keterampilan berbahasa. Keterampilan berbicara
siswa akan meningkat apabila dilakukan latihan-latihan. Siswa kelas V SD
khususnya di SDN SDN Baru Kecamatan Danau Panggang pada umumnya belum terbiasa
dalam keterampilan berbicara, terutama untuk berbicara di depan kelas. oleh
karena itu untuk melatih siswa dalam keterampilan berbicara perlu dilakukan
secara terus menerus agar kemampuan siswa dapat meningkat. Dengan penggunaan
metode bermain peran adalah satu metode yang tepat untuk melatih keterampilan
berbicara siswa. Dengan bimbingan guru maka siswa dapat memerankan dirinya
dalam suatu pembicaraan, yang pada akhirnya siswa terbiasa dan terlatih dalam
keterampilan berbicara.
F. Hipotesis
Dengan menggunakan
kegiatan bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V
SDN Baru Kecamatan Danau Panggang.
BAB III
METODE
PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian
tindakan kelas ini menekankan kepada kegiatan (tindakan) dengan mengujicobakan
suatu ide ke dalam praktek atau situasi nyata dalam skala mikro, yang
diharapkan kegiatan tersebut mampu memberbaiki dan meningkatkan kualitas proses
belajar mengajar.
Penelitian
ini dilakukan dalam satu siklus dengan tiga kali pertemuan. Diharapkan dalam 3
kali pertemuan, kemampuan siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang dalam
meningkatkan keterampilan berbicara dapat ditingkatkan.
Alur Pelaksanaan Tindakan Dalam Penelitian Tindakan Kelas
![]() |
||||||||||||
|
|
|||||||||||
![]() |
||||||||||||
|
||||||||||||
|
|
|
1. Perencanaan
a. Mengkaji silabus bahasa Indonesia untuk SD
Kelas V
b. Membuat skenario pembelajaran dengan
menggunakan langkah-langkah kegiatan bermain peran.
c. Membuat instrumen penelitian, berupa: tes
awal dan tes akhir, format observasi aktivitas siswa dan guru, serta angket.
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan
direncanakan 2 siklus, dimana masing-masing siklus terdiri dua kali pertemuan,
dan satu kali pertemuan 2 jam pelajaran.
3. Observasi dan Evaluasi
Observasi
dilakukan untuk mengumpulkan data, dan evaluasi untuk melihat keberhasilan yang dilakukan
4. Analisis dan Refleksi
Analisis dilakukan untuk mendeskripsikan temuan data di lapangan, dan
refleksi dilakukan untuk mengkaji, dan memahami kelebihan dan kelemahan
tindakan yang dilaksanakan guna perbaikan untuk pertemuan berikutnya.
B. Setting Penelitian
Lokasi yang dijadikan tempat penelitian tindakan kelas
ini dilaksanakan di SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupetan Hulu Sungai
Utara. Siswa yang diteliti adalah siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau
Panggang Kabupetan Hulu Sungai Utara Tahun Pelajaran 2008/2009. Jumlah siswa
ada 23 orang terdiri dari 12 orang siswa laki-laki, dan 11 orang siswa
perempuan.
C. Faktor yang Diteliti
Keterampilan berbicara siswa
kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang.
D. Skenario Tindakan
1. Persiapan
Pada tahap persiapan peneliti mengadakan refleksi awal. Berdasarkan hasil
observasi peneliti dan hasil konsultasi
dengan guru pengajar di sekolah dapat diuraian refleksi awal seperti di bawah
ini:
a.
Siswa telah
memiliki pengetahuan awal keterampilan berbicara yang akan dikaji di kelas V
yang diperoleh dari hasil belajar dari kelas sebelumnya. Di antara pengetahuan
awal tersebut ada yang masih kurang tepat.
b.
Siswa kurang
mampu memahami pada keterampilan berbicara.
c.
Penggunaan LKS sangat sedikit yang berkaitan dengan
aplikasi konsep yang dipelajari.
d.
Siswa belum
terbiasa dalam keterampilan berbicara.
2. Pelaksanaan Tindakan
a.
Pertemuan ke 1 (satu)
Pelaksanaan penelitian tindakan pada siklus I adalah sebagai berikut:
1) Tahap Perencanaan
a) Merancang skenario pembelajaran yang
dijabarkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
b) Menyiapkan LKS pembelajaran sesuai dengan
kegiatan bermain peran.
c) Menyusun instrumen penelitian berupa tes (tes
hasil belajar), format observasi perilaku siswa dalam proses belajar mengajar,
dan kuesioner tanggapan siswa terhadap tindakan yang dilakukan.
2) Tahap Pelaksanaan Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan dilakukan kegiatan sebagai berikut :
a)
Menetapkan
masalah-masalah yang menarik perhatian siswa untuk dibahas.
b)
Menceritakan
kepada siswa mengenai isi dari masalah-masalah dalam konteks cerita tersebut.
c)
Menetapkan siswa yang dapat atau bersedia untuk
memainkan perannya di depan kelas.
d)
Menjelaskan
kepada pendengar mengenai peran mereka pada waktu bermain peran sedang
berlangsung.
e)
Memberi
kesempatan kepada para pelaku untuk
berunding beberapa menit sebelum mereka memainkan perannya.
f)
Mengakhiri
kegiatan bermain peran pada saat situasi pembicaraan mencapai ketegangan.
g)
Mengakhiri
bermain peran dengan diskusi kelas untuk bersama-sama memecahkan masalah
persoalan yang ada pada saat bermain peran dilaksanakan.
h)
Memperhatikan
dan merefleksi hasil kegiatan bermain peran untuk perbaikan pada pertemuan
berikutnya.
3) Observasi dan Evaluasi Tindakan
Pada tahap ini
dilakukan observasi terhadap aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar
dengan menggunakan lembar observasi meliputi aktivitas siswa, dan guru,
efektivitas penggunaan sumber belajar, hambatan dan kesulitan siswa dan guru.
4) Tahap Refleksi
Berdasarkan
hasil belajar siswa dan evaluasi hasil belajar dan angket siswa dengan menggunakan instrumen dan hasil
tes, maka hal-hal ini digunakan sebagai pertimbangan untuk memasuki siklus ke
II.
b.
Pertemuan ke 2 (dua)
1) Tahap perencanaan
a) Merancang skenario pembelajaran yang dijabarkan dalam Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
b)
Menyiapkan LKS
dengan menggunakan kegiatan bermain peran.
c)
Menyusun
instrument penelitian berupa tes (tes hasil belajar), format observasi perilaku
siswa dalam proses belajar mengajar, dan kuesioner tanggapan siswa terhadap
tindakan yang dilakukan.
2) Tahap Pelaksanaan Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan dilakukan kegiatan sebagai berikut:
a)
Menetapkan
masalah-masalah yang akan dibahas.
b)
Menceritakan
kepada siswa mengenai isi dari masalah-masalah dalam konteks cerita tersebut.
c)
Menetapkan siswa yang dapat atau bersedia untuk
memainkan perannya di depan kelas.
d)
Menjelaskan
mengenai peran mereka pada waktu bermain peran sedang berlangsung.
e)
Memberi
kesempatan kepada para pelaku untuk
berunding beberapa menit sebelum mereka memainkan perannya.
f)
Mengakhiri
kegiatan bermain peran pada saat situasi pembicaraan mencapai ketegangan.
g)
Mengakhiri
bermain peran dengan diskusi kelas untuk bersama-sama memecahkan masalah
persoalan yang ada pada saat bermain peran dilaksanakan.
h)
Memperhatikan
dan merefleksi hasil kegiatan bermain peran untuk perbaikan pada pertemuan
berikutnya.
3) Refleksi
Berdasarkan atas
hasil belajar siswa, observasi, dan evaluasi dengan menggunakan instrumen dan
hasil tes, maka ditemukan hal-hal yang menjadi pertimbangan untuk memperbaiki
pada tindakan berikutnya.
c. Pertemuan ke 3 (tiga)
1) Tahap perencanaan
a) Merancang skenario pembelajaran yang dijabarkan dalam Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
b)
Menyiapkan LKS dengan menggunakan kegiatan bermain peran.
c) Menyusun instrument penelitian berupa tes
(tes hasil belajar), format observasi perilaku siswa dalam proses belajar
mengajar, dan kuesioner tanggapan siswa terhadap tindakan yang dilakukan.
2) Tahap Pelaksanaan Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan dilakukan kegiatan sebagai berikut:
a)
Menetapkan
masalah-masalah yang akan dibahas.
b)
Menceritakan
kepada siswa mengenai isi dari masalah-masalah dalam konteks cerita tersebut.
c)
Menetapkan siswa yang dapat atau bersedia untuk
memainkan perannya di depan kelas.
d)
Menjelaskan
mengenai peran mereka pada waktu bermain peran sedang berlangsung.
e)
Memberi
kesempatan kepada para pelaku untuk
berunding beberapa menit sebelum mereka memainkan perannya.
f)
Mengakhiri
kegiatan bermain peran pada saat situasi pembicaraan mencapai ketegangan.
g)
Mengakhiri
bermain peran dengan diskusi kelas untuk bersama-sama memecahkan masalah
persoalan yang ada pada saat bermain peran dilaksanakan.
h)
Memperhatikan
dan merefleksi hasil kegiatan bermain peran untuk perbaikan pada pertemuan
berikutnya.
4) Refleksi
Berdasarkan atas
hasil belajar siswa, observasi, dan evaluasi dengan menggunakan instrumen dan
hasil tes, maka ditemukan hal-hal yang menjadi pertimbangan untuk memperbaiki
pada tindakan berikutnya.
E. Cara Penggalian Data
Cara penggalian data yang digunakan adalah menggunakan
hasil tes awal dan tes akhir kegiatan setiap siklus dengan menggunakan kegiatan
bermain peran.
Analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan teknik persentase. Teknik ini
digunakan untuk menganalisis data hasil belajar siswa berupa hasil tes yang
diberikan. Analisis data diawali dengan kegiatan penskoran terhadap sejumlah
pertanyaan atau soal yang diajukan. Selanjutnya skor yang diperoleh dianalisis
dengan sistem penilaian agar diketahui tingkat pemahaman atau ketuntasan
belajar siswa pada konsep keterampilan berbicara. Rumus yang digunakan adalah:
N = 
Hasil
analisis skor ini berupa nilai standar dengan skala 1 – 100 dengan ketuntasan
minimal 65. Sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal minimal 85% dari
jumlah siswa, menggunakan rumus, yaitu:
Jumlah siswa yang tuntas
Jumlah siswa keseluruhan
F. Indikator Keberhasilan
Ukuran yang
dijadikan indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah
apabila siswa secara individu memperoleh ketuntasan minimal 65 (KKM Bahasa
Indonesia untuk kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Tahun Pelajaran
2008/2009), dan ketuntasan secara klasikal minimal 85%.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Deskripsi Setting/Lokasi Penelitian
Penelitian
dilaksanakan di SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Jumlah rombongan belajar ada 6, yang terdiri dari kelas I, kelas II, kelas III,
kelas IV, kelas, V, dan kelas VI.
Prestasi
belajar dalam tiga tahun terakhir terjadi penurunan, khususnya pelajaran Bahasa
Indonesia.
Masalah
yang dihadapi sekolah adalah kurangnya sarana dan prasarana pendukung proses
belajar mengajar, baik media pembelajaran dan buku pegangan siswa dan guru. Dan pada sekolah ini belum pernah
dilaksanakan penelitian tindakan kelas.
B.
Persiapan Penelitian
Persiapan
untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas ini meliputi surat izin
penelitian. Untuk mendapatkan surat ijin penelitian, peneliti menempuh
langkah-langkah sebagai berikut:
(1) Peneliti mengajukan surat tertulis yang
ditujukan kepada Ketua PGSD S1 FKIP Unlam Banjarmasin.
(2) Peneliti menerima surat pengantar atau ijin penelitian dari Ketua PGSD S1
FKIP Unlam Banjarmasin yang ditujukan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu
Sungai Utara.
(3) Peneliti mengantar surat pengantar atau
ijin penelitian dari Ketua PGSD S1 FKIP Unlam Banjarmasin ke kantor Dinas
Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Utara.
(4) Peneliti menerima surat ijin penelitian
dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Uatara.
(5) Untuk selanjutnya surat tersebut
diserahkan kepada kepala sekolah SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten
Hulu Sungai Utara.
(6) Sekolah membuatkan Surat Rekomentasi
melakukan penelitian dari kepala sekolah.
C.
Pelaksanaan Tindakan Kelas
Penelitian
dilaksanakan di kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai
Utara. Bertindak sebagai
peneliti adalah guru kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu
Sungai Utara tersebut, dan sebagai subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas
V.
Penelitian
dilakukan pada waktu pembelajaran Bahasa Indonesia berlangsung dengan materi ”keterampilan
berbicara” dengan melalui kegiatan bermain peran.
Dengan
adanya penelitian ini diharapkan nantinya siswa mampu menguasai materi
pelajaran yang disajikan. Penelitian ini berbentuk penelitian tindakan kelas
yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar efektivitas siswa dalam menerima
pelajaran tersebut terhadap proses dan hasil pembelajaran.
Pada
pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga pembelajaran direncanakan menggunakan
melalui kegiatan bermain peran, dan diupayakan dalam bentuk tindakan kelas yang
sesuai dengan skenario tindakan. Jadwal penelitian sebagai berikut:
Tabel 4.1 Jadwal Penelitian
|
No
|
Hari /
Tanggal
|
Jam
Pelajaran
|
Kegiatan
|
Waktu
|
|
1
|
Selasa, 28 April 2009
|
4 – 5
10.00 s/d
11.10
|
Pelaksanaan drama pendek
dengan tema kisah pengembara
|
2 jam
pelajaran
|
|
2
|
Rabu, 29 April 2009
|
1 – 2
8.00 s/d
9.10
|
Drama pendek dengan tema gara-gara tali pramuka
|
2 jam
pelajaran
|
|
3
|
Kamis, 30 April 2009
|
1 – 2
8.00 s/d
9.10
|
Drama pendek dengan
tema pahlawan tanpa tanda jasa
|
2 jam
pelajaran
|
Dalam
pelaksanaan penelitian ini, peneliti mempersiapkan rencana pelaksanaan
pembelajaran pada setiap kali pertemuan yang diharapkan dapat tercapai dalam tiga
kali pertemuan
1. Pertemuan Pertama ( 1 )
a.
Jalannya penelitian
Dihari
pertama, Selasa, 28 April 2009 pelaksanaan tindakan kelas pertemuan pertama
di kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Mula-mula peneliti
masuk kelas sambil memberi salam, selanjutnya menyuruh anak berdoa bersama
sebelum memulai pelajaran. Setelah itu peneliti mengabsen siswa. Langkah
selanjutnya menjelaskan maksud peneliti memasuki ruang kelas dan menjelaskan
tentang maksud pelaksanaan penelitian.
Dilanjutkan dengan
penjelasan metode bermain peran, dan bagaimana cara memaiankan peran, khususnya
dalam memainkan peran tokoh yang dibebankan kepada masing-masing siswa.
Pada tahap
berikutnya membagi siswa dalam beberapa kelompok, dan menyuruh siswa agar duduk
sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan, dilanjutkan guru membagikan LKS
pada masing-masing kelompok. Guru mempersilahkan siswa untuk memilih salah satu
peran sesuai dengan LKS yang diberikan.
Langkah
selanjutnya adalah pemeranan masing-masing kelompok, guru mengadakan pengamatan
dan penilaian dari masing-masing tampilan. Dilanjutkan pada tahap diskusi untuk
mengevaluasi (mengkaji ketepatan pemeranan, mendiskusikan fokus utama, serta
mengembangkan pemeranan ulang). Untuk selanjutnya melakukan kesimpulan bersama
siswa. Penilaian dilakukan secara individu sesuai dengan perannya
masing-masing.
b. Hasil Observasi
Berdasarkan pelaksanaan pertemuan 1,
diperoleh nilai hasil belajar dapat dilihat pada Tabel di bawah ini:
Tabel 4.2. Hasil Belajar Pertemuan 1
|
No
|
N a m a
|
Nilai Hasil
Belajar
|
Ketuntasan
|
|
|
1
|
Abdur Rahman
|
60
|
Tuntas
|
|
|
2
|
Ajibannor
|
60
|
Tuntas
|
|
|
3
|
Alfiyani
|
60
|
Tuntas
|
|
|
4
|
Annisa
|
50
|
tidak
|
|
|
5
|
Barkatullah
|
60
|
Tuntas
|
|
|
6
|
Budiyani
|
60
|
Tuntas
|
|
|
7
|
Fahrul
|
60
|
Tuntas
|
|
|
8
|
Herlina
|
60
|
Tuntas
|
|
|
9
|
Hermawan
|
60
|
Tuntas
|
|
|
10
|
Hj. Jamilah
|
60
|
Tuntas
|
|
|
11
|
Laina Sari
|
50
|
tidak
|
|
|
12
|
Lisna
|
60
|
Tuntas
|
|
|
13
|
M. Anshari
|
60
|
Tuntas
|
|
|
14
|
Mahmud Zaini
|
50
|
tidak
|
|
|
15
|
Misran
|
50
|
tidak
|
|
|
16
|
Norsyaidah
|
60
|
Tuntas
|
|
|
17
|
Santi
|
60
|
Tuntas
|
|
|
18
|
Shadik
|
60
|
Tuntas
|
|
|
19
|
Syarifah
|
60
|
Tuntas
|
|
|
20
|
Tuti Alawiyah
|
50
|
tidak
|
|
|
21
|
Ulfah
|
60
|
Tuntas
|
|
|
22
|
Yanti
|
60
|
Tuntas
|
|
|
23
|
Zainuddin
|
60
|
Tuntas
|
|
|
Jumlah
|
1330,0
|
18
|
||
|
Rata-Rata
|
57,8
|
|
||
|
Ketuntasan
|
|
78%
|
||
Pada Tabel 4.2 di
atas dapat dilihat bahwa hasil kemampuan siswa pada pertemuan pertama pada
materi drama pendek dengan tema kisah
pengembara melalui kegiatan bermain peran pada hasil belajar diperoleh
rata-rata 57,8 dengan ketuntasan 78%.
Pencapaian nilai hasil belajar pada kegiatan pertemuan
1 berdasarkan nilai hasil post test di atas masih berada di bawah standar
ketuntasan 85%, karena ketuntasan klasikal baru mencapai 78%. Hal ini
disebabkan siswa belum terbiasa bermain peran, sehingga penggunaan intonasi,
jeda, lafal, volume suara, serta mimik dan gerak belum bisa menyesuaikan dengan
peran yang sebenarnya. Oleh karena itu perlu adanya perbaikan-perbaikan pada pertemuan
berikutnya.
c. Refleksi
Tindakan
Berdasarkan temuan
dari hasil penelitian tindakan pertama pada materi drama pendek dengan tema kisah pengembara dapat direfleksikan sebagai berikut:
1) Secara keseluruhan siswa mengalami
kesulitan dalam hal pemilihan peran. Jadi guru mengalami kesulitan untuk
membagi siswa sesuai dengan peran yang diharapkan.
2) Siswa yang ditunjuk sebagai pengamat belum
memahami fungsinya dengan baik.
3) Siswa masih terlihat kebingungan untuk
menentukan taha-tahap dalam bermain peran.
4) Sebagian siswa masih ragu akan
kemampuannya dalam bermain peran.
2. Pertemuan kedua ( 2 )
a.
Jalannya penelitian
Pertemuan ke dua dilaksanakan
pada hari Rabu, 29 April 2009 yang pelaksanaannya dilakukan di kelas V SDN Baru
Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Mula-mula peneliti
masuk kelas sambil memberi salam, selanjutnya menyuruh anak berdoa bersama sebelum
memulai pelajaran. Setelah itu peneliti mengabsen siswa. Langkah selanjutnya
menjelaskan tentang manfaat bermain peran.
Pada pertemuan
kedua ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pertemuan pertama, namun
pembahasan materi yang berbeda serta tema yang berbeda.
Pada tahap
berikutnya membagi siswa dalam beberapa kelompok, dan menyuruh siswa agar duduk
sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan, dilanjutkan guru membagikan LKS
pada masing-masing kelompok. Guru mempersilahkan siswa untuk memilih salah satu
peran sesuai dengan LKS yang diberikan.
Langkah
selanjutnya adalah pemeranan masing-masing kelompok, guru mengadakan pengamatan
dan penilaian dari masing-masing tampilan. Dilanjutkan pada tahap diskusi untuk
mengevaluasi (mengkaji ketepatan pemeranan, mendiskusikan fokus utama, serta
mengembangkan pemeranan ulang). Untuk selanjutnya melakukan kesimpulan bersama
siswa. Penilaian dilakukan secara individu sesuai dengan perannya
masing-masing.
b. Hasil
Observasi
Berdasarkan pelaksanaan pertemuan 2,
diperoleh nilai hasil belajar dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.3 Hasil Belajar Pertemuan 2
|
No
|
N a m a
|
Nilai Hasil Belajar
|
Ketuntasan
|
|
|
1
|
Abdur Rahman
|
80
|
Tuntas
|
|
|
2
|
Ajibannor
|
70
|
Tuntas
|
|
|
3
|
Alfiyani
|
70
|
Tuntas
|
|
|
4
|
Annisa
|
90
|
Tuntas
|
|
|
5
|
Barkatullah
|
80
|
Tuntas
|
|
|
6
|
Budiyani
|
80
|
Tuntas
|
|
|
7
|
Fahrul
|
70
|
Tuntas
|
|
|
8
|
Herlina
|
80
|
Tuntas
|
|
|
9
|
Hermawan
|
80
|
Tuntas
|
|
|
10
|
Hj. Jamilah
|
70
|
Tuntas
|
|
|
11
|
Laina Sari
|
90
|
Tuntas
|
|
|
12
|
Lisna
|
80
|
Tuntas
|
|
|
13
|
M. Anshari
|
80
|
Tuntas
|
|
|
14
|
Mahmud Zaini
|
90
|
Tuntas
|
|
|
15
|
Misran
|
90
|
Tuntas
|
|
|
16
|
Norsyaidah
|
70
|
Tuntas
|
|
|
17
|
Santi
|
70
|
Tuntas
|
|
|
18
|
Shadik
|
70
|
Tuntas
|
|
|
19
|
Syarifah
|
80
|
Tuntas
|
|
|
20
|
Tuti Alawiyah
|
90
|
Tuntas
|
|
|
21
|
Ulfah
|
70
|
Tuntas
|
|
|
22
|
Yanti
|
70
|
Tuntas
|
|
|
23
|
Zainuddin
|
80
|
Tuntas
|
|
|
Jumlah
|
1800,0
|
23
|
||
|
Rata-Rata
|
78,3
|
|
||
|
Ketuntasan
|
|
100%
|
||
Pada Tabel 4.3 di
atas dapat dilihat bahwa hasil kemampuan siswa pada pertemuan kedua pada materi
drama pendek dengan tema gara-gara tali
pramuka melalui kegiatan bermain peran diperoleh nilai hasil belajar rata-rata
78,3 dengan ketuntasan 100%.
Pencapaian nilai hasil belajar pada kegiatan pertemuan 2 berdasarkan nilai
hasil post test di atas berada di atas
standar ketuntasan 85%. Ini berarti bahwa pembelajaran dikatakan berhasil
dengan baik.
c. Refleksi
Tindakan
Berdasarkan temuan
dari hasil penelitian tindakan pertemuan ke 2 pada materi drama pendek
dengan tema masalah gara-gara tali
pramuka dapat direfleksikan sebagai berikut:
1) Secara keseluruhan siswa sudah dapat
menentukan dalam hal pemilihan peran. Jadi guru tidak mengalami kesulitan untuk
membagi siswa sesuai dengan peran yang diharapkan.
2) Siswa yang ditunjuk sebagai pengamat sudah
memahami fungsinya dengan baik.
3) Siswa masih ada terlihat kebingungan untuk
menentukan tahap-tahap dalam bermain peran.
4) Semua siswa tidak merasa ragu lagi akan
kemampuannya dalam bermain peran.
3. Pertemuan ketiga ( 3 )
a.
Jalannya penelitian
Pertemuan ke tiga
dilaksanakan pada hari Kamis, 30 April 2009 yang pelaksanaannya dilakukan di
kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara pada jam
pelajaran ke 1 dan 2 mulai pukul 08.00 s/d 09.10.WITA.
Mula-mula peneliti
masuk kelas sambil memberi salam, selanjutnya menyuruh anak berdoa bersama
sebelum memulai pelajaran. Setelah itu peneliti mengabsen siswa. Langkah
selanjutnya kembali menjelaskan tentang manfaat bermain peran.
Pada pertemuan ketiga
ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pertemuan pertama dan pertemuan kedua,
namun pembahasan materi yang berbeda serta tema yang berbeda.
Pada tahap
berikutnya kembali membagi siswa dalam beberapa kelompok, dan menyuruh siswa
agar duduk sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan, dilajutkan guru
membagikan LKS pada masing-masing kelompok. Guru mempersilahkan siswa untuk
memilih salah satu peran sesuai dengan LKS yang diberikan.
Langkah
selanjutnya adalah pemeranan masing-masing kelompok, guru mengadakan pengamatan
dan penilaian dari masing-masing tampilan. Dilanjutkan pada tahap diskusi untuk
mengevaluasi (mengkaji ketepatan pemeranan, mendiskusikan fokus utama, serta
mengembangkan pemeranan ulang). Untuk selanjutnya melakukan kesimpulan bersama
siswa. Penilaian dilakukan secara individu sesuai dengan perannya
masing-masing.
b. Hasil
Observasi
Berdasarkan pelaksanaan pertemuan 3, diperoleh nilai hasil belajar
dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.4 Hasil Belajar Pertemuan 3
|
No
|
N a m a
|
Nilai Hasil Belajar
|
Ketuntasan
|
|
|
1
|
Abdur Rahman
|
90
|
Tuntas
|
|
|
2
|
Ajibannor
|
90
|
Tuntas
|
|
|
3
|
Alfiyani
|
90
|
Tuntas
|
|
|
4
|
Annisa
|
90
|
Tuntas
|
|
|
5
|
Barkatullah
|
80
|
Tuntas
|
|
|
6
|
Budiyani
|
80
|
Tuntas
|
|
|
7
|
Fahrul
|
90
|
Tuntas
|
|
|
8
|
Herlina
|
80
|
Tuntas
|
|
|
9
|
Hermawan
|
80
|
Tuntas
|
|
|
10
|
Hj. Jamilah
|
90
|
Tuntas
|
|
|
11
|
Laina Sari
|
90
|
Tuntas
|
|
|
12
|
Lisna
|
90
|
Tuntas
|
|
|
13
|
M. Anshari
|
90
|
Tuntas
|
|
|
14
|
Mahmud Zaini
|
90
|
Tuntas
|
|
|
15
|
Misran
|
90
|
Tuntas
|
|
|
16
|
Norsyaidah
|
90
|
Tuntas
|
|
|
17
|
Santi
|
90
|
Tuntas
|
|
|
18
|
Shadik
|
90
|
Tuntas
|
|
|
19
|
Syarifah
|
80
|
Tuntas
|
|
|
20
|
Tuti Alawiyah
|
90
|
Tuntas
|
|
|
21
|
Ulfah
|
90
|
Tuntas
|
|
|
22
|
Yanti
|
90
|
Tuntas
|
|
|
23
|
Zainuddin
|
90
|
Tuntas
|
|
|
Jumlah
|
2020,0
|
23
|
||
|
Rata-Rata
|
87,8
|
|
||
|
Ketuntasan
|
|
100%
|
||
Pada Tabel 4.4 di
atas dapat dilihat bahwa hasil kemampuan siswa pada pertemuan ketiga pada
materi drama pendek dengan tema pahlawan tanpa tanda jasa melalui kegiatan
bermain peran. Hasil belajar yang dicapai diperoleh rata-rata 87,8 dengan
ketuntasan 100%.
Pencapaian nilai hasil belajar pada kegiatan
pertemuan 3 berdasarkan nilai test di atas
berada di atas standar ketuntasan 85%. Ini berarti bahwa pembelajaran
dikatakan berhasil dengan baik.
c. Refleksi
Tindakan
Berdasarkan temuan
dari hasil penelitian tindakan kelas pertemuan ketiga pada materi drama pendek
dengan tema pahlawan tanpa tanda jasa
dapat direfleksikan sebagai berikut:
1) Secara keseluruhan siswa sudah dapat
menentukan dalam hal pemilihan peran. Jadi guru tidak mengalami kesulitan untuk
membagi siswa sesuai dengan peran yang diharapkan.
2) Siswa yang ditunjuk sebagai pengamat sudah
memahami fungsinya dengan baik.
3) Siswa sudah tidak ada masalah lagi dalam menentukan
tahap-tahap dalam bermain peran.
4) Semua siswa tidak merasa ragu lagi akan
kemampuannya dalam bermain peran.
Dari paparan data berdasarkan nilai yang diperoleh pada kegiatan pertemuan
ke-1, pertemuan ke-2, dan pertemuan ke-3 dapat diuraikan perbandingan hasil belajar
siswa sebagai berikut:
Tabel 4.5 Perbandingan Hasil Belajar Pertemuan 1, 2,
dan 3
|
Kegiatan
|
Pertemuan 1
|
Pertemuan 2
|
Pertemuan 3
|
|
Nilai Hasil Belajar
|
57,8
|
78,3
|
87,8
|
|
Ketuntasan
|
78
|
100
|
100
|

Gbr. 4.1 Grafik Perbandingan
Hasil Belajar Siswa
Perbandingan
hasil belajar siswa dalam keterampilan berbicara melalui kegiatan bermain
peran, dimana pada pertemuan pertama diperoleh rata-rata nilai 57,8 dengan
ketuntasan klasikal 78%, pada pertemuan kedua diperoleh rata-rata nilai 78,3
dengan ketuntasan klasikal 100%, sedangkan pada pertemuan ketiga diperoleh
rata-rata nilai 87,8 dengan ketuntasan klasikal 100%.
Pembelajaran
bermain peran yang dilakukan siswa secara berkelompok dimulai dari pertemuan
pertama hasil yang dicapai siswa masih jauh berada di bawah indikator minimal,
namun setelah dilakukan pertemuan kedua, dan ketiga keterampilan berbicara
siswa sudah baik. Peran yang disajikan siswa sudah terarah, sesuai dengan apa
yang diharapkan. Oleh karena penampilan masing-masing kelompok baik, maka
memberikan kontribusi yang positif terhadap pencapaian nilai hasil belajar
siswa.
D. Pembahasan
Berdasarkan uraian dan paparan data di atas siswa secara bertahap
memiliki kemampuan dalam hal keterampilan berbicara. Bila memperhatikan
kemampuan siswa dari hasil penilaian yang dilakukan guru pada pertemuan pertama
diperoleh rata-rata 57,8 dengan ketuntasan 78%, pada pertemuan kedua diperoleh
rata-rata 78,3 dengan ketuntasan 100%, dan pertemuan ketiga diperoleh rata-rata
87,8 dengan ketuntasan klasikal 100%.
Peningkatan kemampuan keterampilan siswa yang diperoleh dari kemampuan
individu dalam memerankan tokoh sesuai dengan perannya masing-masing pada tiap
kelompok terlihat dari hasil penilaian yang diberikan guru, dimana kemampuan
siswa dalam hal keterampilan berbicara sudah baik. Pada pertemuan pertama siswa
masih malu-malu untuk memainkan peran sesuai dengan tema drama yang dimainkan,
namun setelah penjelasan guru tentang
bagaimana memainkan peran yang baik, siswa mulai antusias mengikuti
latihan-latihan, sehingga setelah penampilan di depan kelas secara keseluruhan
siswa sudah menguasai perannya masing. Dan pada pertemuan ketiga diperoleh
hasil yang maksimal, karena siswa benar-benar telah mampu menunjukkan
keterampilan berbicaranya di depan kelas dengan baik.
Apabila dikaitkan dengan hipotesis penelitian yang menyatakan dengan
menggunakan kegiatan bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara
siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang. Hasil penelitian menunjukkan
hasil yang mendukung hipotesis tersebut. Dengan demikian hasil penelitian ini
sesuai dengan hipotesis penelitian.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: Keterampilan berbicara siswa kelas V SDN
Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara dapat ditingkatkan
melalui kegiatan bermain peran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan
menggunakan kegiatan bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara
siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang.
B. Saran-Saran
1.
Hendaknya para guru, khususnya guru Bahasa Indonesia
di SD kelas V dapat menggunakan pembelajaran melalui bermain peran khususnya
materi meningkatkan keterampilan berbicara siswa, karena metode ini dapat memotivasi siswa,
siswa lebih antusias dalam belajarnya.
2.
Untuk siswa, hendaknya kegiatan bermain peran ini
dijadikan suatu permainan drama yang menarik, dan jangan merasa malu untuk
tampil, karena sebenarnya bila permainan ini dihayati akan menambah pengetahuan
kita dalam bermain peran.
3.
Kepada pihak sekolah, hendaknya hasil penelitian ini
dapat dijadikan bahan kajian untuk perbaikan pengajaran, khususnya mata
pelajaran Bahasa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Anipudin, dkk. 2005. Cermat Berbahasa 1 Pelajaran Bahasa dan
Sastra Indonesia untuk kelas V SD. Solo : Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Arikunto. 2006. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah, S.B dan Zain,
Aswan. 2002. Belajar dan Pembelajaran.
Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Depdiknas. 2002. Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi
Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta.
Depdiknas. 2006. Model
Silabus Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP. Jakarta : Dirjen Dikdasmen.
Djamarah. 2002. Strategi
Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Dimyati. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta :
Rineka Cipta.
Gintings, 2008. Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran.
Bandung : Humaniora.
Karsana.
Ano. 1986. Keterampilan Menulis.
Jakarta : Universitas Terbuka.
Karsidi.
2008. Inilah Bahasa Indonesiaku untuk SD
Kelas V. Solo: Platinum.
Kridalaksana, Harimukti.
2001. Kamus Linguistik. Jakarta : PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Musaba,
Zulkifli. 1989. Penuntun Tulis Menulis.
Banjarmasin : Aulia.
Musaba, Zulkifli. 1989. Terampil Menulis dalam Bahasa Indonesia yang
Benar. Banjarmasin : Sarjana Indonesia.
Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : Raja
Grafindo Persada.
Panduan, 2008. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi)
Khusus Untuk Penelitian Tindakan Kelas. Banjarmasin: Program Pendidikan
Guru Sekolah Dasar.
Roestiyah, N.K.
2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta
: PT. Rineka Cipta.
Sukidin, Basrowi, dan Suranto.2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Insan Cendekia.
Sardiman. 2004. Interaksi Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta
:PT Raja Grafindo Persada.
Sukidin, Basrowi, dan
Suranto.2002. Manajemen
Penelitian Tindakan Kelas. Insan Cendekia.
Suriansyah. 2002. Inovasi
Pendidikan di Sekolah. Banjarmasin : Proyek Peningkatan Mutu SLTP Kalsel.
Tarigan. 1986. Buku Materi Pokok Berbicara I. Jakarta:
Universitas Terbuka
Tarigan, Henry Guntur.
1984. Berbicara Sebagai Suatu
Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.
Tim Penyusun. 2008. Buku
Penunjang Mata Pelajaran Ujian Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SD.
Klaten: Cempaka Putih.
Usman. 2008. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT
Remaja Rosdakarya.
Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Edisi Kedua. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Usman, Moh. Uzer. 2001. Upaya Optimalisasi Belajar Mengajar.
Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Wardani.
2002. Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta : Universitas Terbuka.
Wiriaatmadja, Rochiati. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.


Komentar
Posting Komentar