PTK Model Roll Playing Materi Keterampilan berbicara Bidang Bahasa Indonesia



BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang

Maju tidaknya pendidikan di Indonesia sangat bergantung pada sistem pendidikan yang tertata dengan teratur, agar rakyatnya memiliki keterampilan dan pengetahuan yang mantap guna mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945. sementara itu, pada peraturan pemerintah no. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab V Standar Kelulusan pada pasal 25 ayat (3) dijelaskan bahwa kompetensi lulusan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia menekankan pada kemampuan membaca dan menulis.
Dalam ruanglingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup kemampuan berbahasa dan bersastra yang meliputi empat aspek yaitu berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis. Dari empat aspek tersebut, keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang sangat penting karena keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan berupa hasil karya yang menghasilkan dan memberi informasi lisan atau menyampaikan tanpa mengabaikan tiga aspek lainnya yaitu menulis, membaca dan mendengarkan.
Berbicara merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara langsung secara tatap muka dengan orang lain. Berbicara adalah suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Kegiatan berbicara menuntut kompetensi yang terampil untuk memanfaatkan struktur bahasa dan kosa kata. Untuk itu, keterampilan berbicara ini tidak akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui proses belajar, pelatihan dan praktik yang banyak.
Dengan berbicara seseorang dapat dengan bebas mengungkapkan perasaan atau ide-ide. Selain itu, berbicara juga dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi, siswa dapat dilatih melalui pembelajaran keterampilan-keterampilan  berbahasa yang lain ketika pelaksanaan pembelajaran di kelas.
Dalam proses pembelajaran di kelas khususnya di SD, dilihat dari keempat aspek keterampilan berbahasa, siswa cenderung lemah pada aspek berbicara. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil latihan-latihan siswa ketika pelajaran berlangsung. Siswa cenderung mengalami kesulitan dalam mengembangkan kerangka berfikirnya karena kurangnya pengetahuan siswa tentang sesuatu hal, susunan kalimat utama dan kalimat penjelas sering tidak padu, pengucapan ejaan dan tanda baca masih belum tepat dan topik yang dibahas sering tidak fokus.
Dari pengalaman mengajar guru Bahasa Indonesia pada tahun sebelumnya pada keterampilan berbahasa masih ada siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang yang belum tuntas belajar, yaitu siswa yang tuntas secara klasikal hanya sebesar 64%, jadi belum memenuhi target 85% ketuntasan secara klasikal.
Selain itu, kegiatan pembelajaran berbahasa Indonesia khususnya keterampilan berbicara masih kurang komunikatif. Sehingga siswa tidak terampil menggunakan kemampuannya. Oleh sebab itu, perlu dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Elliot (Wiriaatmaja (2006:12) bahwa penelitian tindakan kelas dapat  dilihat sebagai kajian dari sebuah situasi sosial dengan memungkinkan tindakan untuk memperbaiki kualitas sosial tersebut.  Dalam konteks ini, penelitian tindakan kelas dilakukan untuk memecahkan permasalahan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
Dalam upaya memecahkan permasalahan tentang rendahnya kemampuan siswa dalam pembelajaran berbicara. Maka, peneliti memilih menggunakan pendekatan Role Playing (Bermain Peran).
Role Playing (Bermain Peran) sebagai  cara atau teknik belajar sungguh besar peranannya, sebab dengan teknik ini disamping pengangkatan suatu keadaan atau kejadian ke dalam ruang kelas juga sebagai perasaan, keadaan, dan perbuatan daripada  hal tersebut akan turut dirasakan atau dialami oleh siswa sebagai pelakunya (Sumoatmojo dan Nursid, 2005 :  44).
Dengan teknik ini siswa lebih tertarik perhatiannya pada pelajaran, karena masalah-masalah sosial  sangat  berguna bagi mereka. Karena mereka bermain perannnya sendiri, maka mudah memahami masalah-masalah sosial itu. Bagi siswa dengan berperan seperti orang lain, maka ia dapat menempatkan dirinya seperti watak orang lain itu, ia dapat merasakan perasaan orang lain, dapat mengakui pendapat orang lain, sehingga menumbuhkan sikap saling pengertian, tenggang rasa, toleransi dan cinta kasih terhadap sesama makhluk akhirnya  siswa dapat berperan dan menimbulkan diskusi yang hidup, karena merasa menghayati sendiri permasalahannya. Juga penonton tidak pasif, tetapi aktif mengamati dan mengajukan saran dan kritik (Roestiyah, 2001 : 93).
Oleh karena peran siswa dalam proses belajar mengajar sangat membantu dirinya untuk memecahkan sendiri permasalahan yang dihadapinya, juga berdasarkan pandangan para ahli tersebut di atas, maka perlu dilakukan  apakah metode bermain peran ini dapat dipergunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SD. 
Berdasarkan uraian di atas, peneliti melakukan penelitian dengan judul “ Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Melalui Kegiatan Bermain Peran”

B.     Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan diteliti adalah: Apakah terjadi peningkatan keterampilan berbicara melalui kegiatan bermain peran pada siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun Pelajaran 2008/2009?

C.     Rencana Pemecahan
Untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara dilakukan kegiatan bermain peran dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Menetapkan masalah-masalah yang menarik perhatian siswa untuk dibahas.
2.      Menceritakan kepada siswa mengenai isi dari masalah-masalah dalam konteks cerita tersebut.
3.      Menetapkan siswa yang dapat atau bersedia untuk memainkan perannya di depan kelas.
4.      Menjelaskan kepada pendengar mengenai peran mereka pada waktu bermain peran sedang berlangsung.
5.      Memberi kesempatan kepada para pelaku  untuk berunding beberapa menit sebelum mereka memainkan perannya.
6.      Mengakhiri kegiatan bermain peran pada saat situasi pembicaraan mencapai ketegangan.
7.      Mengakhiri bermain peran dengan diskusi kelas untuk bersama-sama memecahkan masalah persoalan yang ada pada saat bermain peran dilaksanakan.
8.      Memperhatikan dan merefleksi hasil kegiatan bermain peran untuk perbaikan pada pertemuan berikutnya.

D.    Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan berbicara  melalui kegiatan bermain peran pada siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun Pelajaran 2008/2009.

E.     Manfaat  Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan  akan dapat memberikan manfaat bagi perorangan maupun  institusi di bawah ini :
1.      Bagi guru, guru dapat mengetahui pola dan strategi pembelajaran  yang tepat dalam upaya memperbaiki pengajaran.
2.      Bagi siswa, dengan penggunaan kegiatan bermain peran dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap keterampilan berbicara.
3.      Bagi sekolah, hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi terhadap perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V, khususnya keterampilan berbicara.
4.      Untuk penelitian selanjutnya, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk penelitian berikutnya.



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A.     Kondisi Belajar Mengajar yang Efektif
Menurut  Usman (2001:21) bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakannya. Oleh sebab itu, guru harus memikirkan dan membuat perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswanya dan memperbaiki kualitas belajarnya.
Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar, bertindak selaku fasilitator yang berusaha menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif sehingga memungkinkan proses belajar-mengajar, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai. Memenuhi tuntutan tersebut di atas, maka guru harus mampu mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa sehingga ia mau belajar karena memang siswalah subjek utama dalam belajar.
Mengajar adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga ia mau belajar. Dengan demikian, aktivitas siswa sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga siswalah yang seharusnya banyak aktif, sebab siswa sebagai subjek didik adalah yang merencanakan, dan ia sendiri yang melaksanakan belajar.
Pada kenyataannya di sekolah-sekolah sering kali guru yang aktif sehingga siswa tidak diberi kesempatan untuk aktif. Betapa pentingnya aktivitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar, sehingga John Dewey dalam Usman (2001 : 21) mengemukakan pentingnya prinsip ini melalui metode proyeknya dengan semboyan learning by doing. Berikut ini dikemukakan sistem belajar mengajar yang merupakan salah satu upaya dalam menciptakan belajar mengajar yang efektif dan efisien, yakni dengan sistem belajar siswa aktif atau CBSA.

B.     Prinsip-Prinsip Mengaktifkan Siswa
Menurut  Usman (2001 : 88-89) bahwa guru dapat mengaktifkan siswa dalam belajar mengajar dengan membuat pelajaran itu menjadi menantang, merangsang daya cipta untuk menemukan serta mengesankan bagi siswa. Menurut  Usman (2001 : 88-89) guna menciptakan CBSA, kita perlu mengenal dan menghayati sejumlah prinsip sebagai berikut :
1.      Prinsip Motivasi
Motif ialah daya atau kemauan dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi adalah usaha membangkitkan motif-motif sehingga menjadi suatu perbuatan. Guru perlu mengetahui motivasi yang terdapat pada diri siswanya.
2.      Prinsip latar atau konteks
Guru perlu mengetahui tentang pengetahuan, keterampilan, sikap, dan peran serta pengalaman yang dimiliki oleh para siswanya. Perolehan ini perlu perlu dihubungkan dengan pelajaran baru yang hendak diajarkan guru kepada siswanya. Apa-apa yang telah diketahui anak akan lebih menarik minat anak apabila dikaitkan dengan pelajaran baru, akibatnya siswa akan lebih mudah menangkap dan cepat memahami bahan pelajaran.
3.      Prinsip fokus (pemusatan perhatian)
Penyusunan suatu pelajaran maupun pelaksanaan proses belajar mengajar hendaknya difokuskan pada satu arah atau pola tertentu.
4.      Prinsip sosialisasi
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk bekerja sama dengan rekan-rekan sebayanya karena adakalanya kegiatan dapat dikerjakan dengan baik bila dikerjakan bersama-sama. Dengan prinsip ini para siswa akan dapat membedakan hubungan dengan guru, dengan sesama teman, dan hubungan dengan masyarakat.
5.      Prinsip belajar sambil bekerja
Pada hakikatnya siswa senang bila belajar sambil bekerja atau melakukan aktifitas. Mereka akan merasa punya harga diri bila diberi kesempatan untuk berbuat atau melakukan sesuatu.
6.      Prinsip individualisasi
Setiap siswa pada hakikatnya memiliki perbedaan tersendiri baik dalam hal bakat, minat, kecerdasan, sikap, maupun kebiasaan. Maka guru hendaklah tidak memperlakukan siswa seolah-olah semua sama.
7.      Prinsip menemukan
Guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau mencari informasi, jadi guru tidak perlu menjejali informasi.



C.  Metode Bermain Peran (Role Playing)
1.      Pengertian  Bermain Peran (Role Playing)
Bermain Peran ((Role Playing) adalah dimana siswa bisa berperan atau memainkan peranan dalam dramatisasi masalah sosial/psikologis (Roestiyah, 2001 : 90).
Metode Bermain Peran ((Role Playing) disebut juga dengan metode sosiodrama. Sosiodrama pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial. Sosiodrama adalah sandiwara tanpa naskah (script) dan tanpa latihan terlebih dahulu, sehingga dilakukan secara spontan (Djamarah, dan Zain, 2002 : 115).
Bermain peran (Role Playing) sebagai metode mengajar merupakan suatu cara penyampaian yang meminta siswa untuk mendramatisasikan sekaligus memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan di masyarakat.  Agar pelaksanaan metode bermain peran (Role Playing) dapat berjalan dengan baik dapat dilakukan dengan jalan, yaitu :
a.       Mengalami sendiri suatu bermain peran (Role Playing).
b.      Mengikuti penuturan terjadinya bermain peran (Role Playing).
c.       Mengikuti langkah-langkah guru pada saat memimpin bermain peran (Role Playing) (Sri Anitah, W, Suwaini, S, dan Suyatmi, 1998 : 38).

2.      Tujuan penggunaan metode Bermain Peran (Role Playing)
Tujuan yang diharapkan dengan penggunaan metode Bermain Peran (Role Playing) adalah :
a.       Agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain.
b.      Dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab.
c.       Dapat belajar  bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan.
d.      Merangsang kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah.

3.      Langkah-langkah penggunaan metode Bermain Peran (Role Playing)
Langkah-langkah dalam pelaksanaan penggunaan metode Bermain Peran (Role Playing) adalah sebagai berikut:
a.       Tetapkan terlebih dahulu masalah-masalah yang akan dibahas.
b.      Jelaskan kepada siswa mengenai maksud dan tujuan pelaksanaan pembelajaran yang diinginkan.
c.       Tetapkan siswa yang dapat atau bersedia untuk memainkan peran di depan kelas.
d.      Jelaskan kepada siswa lainnnya mengenai peranan mereka pada waktu Bermain Peran (Role Playing) sedang berlangsung.
e.       Beri kesempatan kepada para pelaku untuk berunding beberapa menit sebelum mereka memainkan peranannya.
f.        Akhiri Bermain Peran (Role Playing) pada waktu situasi pembicaraan mencapai ketegangan.
g.       Akhiri Bermain Peran (Role Playing) dengan diskusi kelas bersama-sama memecahkan masalah persoalan yang ada pada Bermain peran  tersebut
h.       Lakukan penilaian terhadap pelaksanaan pelaksanaan Bermain peran (Role Playing) untuk pertimbangan lebih lanjut.
(Djamarah, 2002 : 100).
4.      Kelebihan dan kelemahan Metode Bermain Peran (Role Playing)
a.   Kelebihan Metode Bermain Peran (Role Playing)
1)      Siswa dapat melatih dirinya untuk melatih, memahami, dan mengingat isi bahan yang akan diperankan. Sebagai pemain harus memahami, menghayati isi cerita secara keseluruhan, terutama untuk materi yang harus diperankannya. Dengan demikian, daya ingatan siswa harus tajam dan tahan lama.
2)      Siswa akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif.  Pada waktu main drama para pemain dituntut untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan waktu yang tersedia.
3)      Bakat yang terdapat pada siswa dapat dipupuk sehingga dimungkinkan akan muncul atau tumbuh bibit seni drama di sekolah. Jika seni drama mereka dibina dengan baik kemungkinan besar mereka akan menjadi pemain yang lebih baik.
4)      Kerjasama antara pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya.
5)      Siswa memperoleh kebiasaan untuk mnerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya.
6)      Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami orang  lain.
(Djamarah, 2002 : 101).
b.  Kelemahan Metode Bermain Peran (Role Playing)
1)      Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain peran mereka menjadi kurang kreatif.
2)      Banyak memakan waktu, baik waktu persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan pertunjukan.
3)      Memerlukan tempat yang cukup luas, jika tempat bermain sempit menjadi kurang bebas.
4)      Sering kelas lain terganggu oleh suara para pemain dan para penonton yang kadang-kadang bertepuk tangan, dan sebaginya.
(Djamarah, 2002 : 101).

D.  Materi Keterampilan Berbicara
1.  Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa
Menurut Tarigan (1986:3) bahwa berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak, yang hanya didahului oleh keterampilan menyimak, dan pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari. Berbicara sudah barang tentu erat hubungannya dengan perkembangan kosa kata yang diperoleh oleh sang anak melalui kegiatan menyimak dan membaca.
2.      Berbicara Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi
Ujaran sebagai suatu cara berkomunikasi sangat mempengaruhi kehidupan-kehidupan individual. Dalam sistem inilah kita saling bertukar pendapat, gagasan, perasaan, keinginan, dengan bantuan lambang-lambang yang disebut kata-kata. Sistem inilah yang memberi keefektifan bagi individu dalam mendirikan hubungan mental dan emosional dengan anggota-anggota lainnya (Tarigan, 1986:13).

3.      Tujuan Berbicara
Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka seyogyanya sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan, dia harus mampu mengevaluasi efek komunikasinya terhadap para pendengarnya, dan dia harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala situasi pembicaraan, baik secara umum maupun perorangan (Tarigan, 1986:23).

4.  Materi Keterampilan Berbicara Melalui Bermian Peran
Tema Persoalan faktual yang terjadi di lingkungan sekitar.

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat memainkan peran, yaitu:
a.       Intonasi
Kalimat demi kalimat dibaca dengan intonasi (lagu kalimat) yang sesuai.
b.      Jeda
Pemenggalan frasa atau klausa harus tepat agar tidak menimbulkan makna ganda. Selain itu, agar dapat dipahami oleh pendengar.
c.       Lafal
Kata-kata harus dilafalkan dengan tepat dan jelas. Jika tidak jelas, akan mengurangi pemahaman terhadap isi drama.
Kalimat-kalimat dalam kurung tidak perlu dibaca. Kalimat tersebut merupakan petunjuk laku.
d.      Volume suara
Keras lemahnya suara disesuaikan dengan banyaknya pendengar dan luasnya tempat. Jangan sampai suara terlalu keras atau terlalu lemah.
e.       mimik dan gerak
kalimat-kalimat yang diucapkan saat bermain peran disertai dengan mimik dan gerak-gerik tubuh yang sesuai dengan isi percakapan dan watak tokoh.

E.  Kerangka Berpikir
Kemampuan berbicara adalah salah satu dari keterampilan berbahasa. Keterampilan berbicara  siswa akan meningkat apabila dilakukan latihan-latihan. Siswa kelas V SD khususnya di SDN SDN Baru Kecamatan Danau Panggang pada umumnya belum terbiasa dalam keterampilan berbicara, terutama untuk berbicara di depan kelas. oleh karena itu untuk melatih siswa dalam keterampilan berbicara perlu dilakukan secara terus menerus agar kemampuan siswa dapat meningkat. Dengan penggunaan metode bermain peran adalah satu metode yang tepat untuk melatih keterampilan berbicara siswa. Dengan bimbingan guru maka siswa dapat memerankan dirinya dalam suatu pembicaraan, yang pada akhirnya siswa terbiasa dan terlatih dalam keterampilan berbicara.

F.  Hipotesis
Dengan menggunakan kegiatan bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang.











BAB III
METODE  PENELITIAN


A.     Desain Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas ini menekankan kepada kegiatan (tindakan) dengan mengujicobakan suatu ide ke dalam praktek atau situasi nyata dalam skala mikro, yang diharapkan kegiatan tersebut mampu memberbaiki dan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.
Penelitian ini dilakukan dalam satu siklus dengan tiga kali pertemuan. Diharapkan dalam 3 kali pertemuan, kemampuan siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang dalam meningkatkan keterampilan berbicara dapat ditingkatkan.
Alur Pelaksanaan Tindakan Dalam Penelitian Tindakan Kelas




















Terselesaikan
 


Siklus I
 








Siklus II
 




Pelaksanaan tindakan I
 
Alternatif Pemecahan (rencana Tindakan) I
 
Permasalahan
 











1.      Perencanaan
a.       Mengkaji silabus bahasa Indonesia untuk SD Kelas V
b.      Membuat skenario pembelajaran dengan menggunakan langkah-langkah kegiatan bermain peran.
c.       Membuat instrumen penelitian, berupa: tes awal dan tes akhir, format observasi aktivitas siswa dan guru, serta angket.
2.      Pelaksanaan
Pelaksanaan direncanakan 2 siklus, dimana masing-masing siklus terdiri dua kali pertemuan, dan satu kali pertemuan 2 jam pelajaran.
3.      Observasi dan Evaluasi
Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data, dan evaluasi untuk melihat  keberhasilan yang dilakukan
4.      Analisis dan Refleksi
Analisis dilakukan untuk mendeskripsikan temuan data di lapangan, dan refleksi dilakukan untuk mengkaji, dan memahami kelebihan dan kelemahan tindakan yang dilaksanakan guna perbaikan untuk pertemuan berikutnya.

B.     Setting Penelitian

Lokasi yang dijadikan tempat penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupetan Hulu Sungai Utara. Siswa yang diteliti adalah siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupetan Hulu Sungai Utara Tahun Pelajaran 2008/2009. Jumlah siswa ada 23 orang terdiri dari 12 orang siswa laki-laki, dan 11 orang siswa perempuan.

C.     Faktor yang Diteliti

Keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang.

D.    Skenario Tindakan

1.      Persiapan
Pada tahap persiapan peneliti mengadakan refleksi awal. Berdasarkan hasil observasi  peneliti dan hasil konsultasi dengan guru pengajar di sekolah dapat diuraian refleksi awal seperti di bawah ini:
a.       Siswa  telah memiliki pengetahuan awal keterampilan berbicara yang akan dikaji di kelas V yang diperoleh dari hasil belajar dari kelas sebelumnya. Di antara pengetahuan awal tersebut ada yang masih kurang tepat.
b.      Siswa  kurang mampu memahami pada keterampilan berbicara.
c.       Penggunaan LKS sangat sedikit yang berkaitan dengan aplikasi konsep yang dipelajari.
d.      Siswa  belum terbiasa dalam keterampilan berbicara.

2.      Pelaksanaan Tindakan
a.       Pertemuan ke 1 (satu)
Pelaksanaan penelitian tindakan pada siklus I adalah sebagai berikut:
1)      Tahap Perencanaan
a)      Merancang skenario pembelajaran yang dijabarkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
b)      Menyiapkan LKS pembelajaran sesuai dengan kegiatan bermain peran.
c)      Menyusun instrumen penelitian berupa tes (tes hasil belajar), format observasi perilaku siswa dalam proses belajar mengajar, dan kuesioner tanggapan siswa terhadap tindakan yang dilakukan.
2)      Tahap Pelaksanaan Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan dilakukan kegiatan sebagai berikut :
                                    a)      Menetapkan masalah-masalah yang menarik perhatian siswa untuk dibahas.
                                    b)      Menceritakan kepada siswa mengenai isi dari masalah-masalah dalam konteks cerita tersebut.
                                    c)      Menetapkan siswa yang dapat atau bersedia untuk memainkan perannya di depan kelas.
                                    d)      Menjelaskan kepada pendengar mengenai peran mereka pada waktu bermain peran sedang berlangsung.
                                    e)      Memberi kesempatan kepada para pelaku  untuk berunding beberapa menit sebelum mereka memainkan perannya.
                                      f)      Mengakhiri kegiatan bermain peran pada saat situasi pembicaraan mencapai ketegangan.
                                    g)      Mengakhiri bermain peran dengan diskusi kelas untuk bersama-sama memecahkan masalah persoalan yang ada pada saat bermain peran dilaksanakan.
                                    h)      Memperhatikan dan merefleksi hasil kegiatan bermain peran untuk perbaikan pada pertemuan berikutnya.


3)      Observasi dan Evaluasi Tindakan
Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan lembar observasi meliputi aktivitas siswa, dan guru, efektivitas penggunaan sumber belajar, hambatan dan kesulitan siswa dan guru.
4)      Tahap Refleksi
Berdasarkan hasil belajar siswa dan evaluasi hasil belajar dan angket  siswa dengan menggunakan instrumen dan hasil tes, maka hal-hal ini digunakan sebagai pertimbangan untuk memasuki siklus ke II.
b.      Pertemuan ke 2 (dua)
1)      Tahap perencanaan
a) Merancang skenario pembelajaran yang dijabarkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
b)       Menyiapkan LKS dengan menggunakan kegiatan bermain peran.
c)       Menyusun instrument penelitian berupa tes (tes hasil belajar), format observasi perilaku siswa dalam proses belajar mengajar, dan kuesioner tanggapan siswa terhadap tindakan yang dilakukan.

2)      Tahap Pelaksanaan Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan dilakukan kegiatan sebagai berikut:
                                    a)                                                                                                                              Menetapkan masalah-masalah yang akan dibahas.
                                    b)      Menceritakan kepada siswa mengenai isi dari masalah-masalah dalam konteks cerita tersebut.
                                    c)      Menetapkan siswa yang dapat atau bersedia untuk memainkan perannya di depan kelas.
                                    d)      Menjelaskan mengenai peran mereka pada waktu bermain peran sedang berlangsung.
                                    e)      Memberi kesempatan kepada para pelaku  untuk berunding beberapa menit sebelum mereka memainkan perannya.
                                      f)      Mengakhiri kegiatan bermain peran pada saat situasi pembicaraan mencapai ketegangan.
                                    g)      Mengakhiri bermain peran dengan diskusi kelas untuk bersama-sama memecahkan masalah persoalan yang ada pada saat bermain peran dilaksanakan.
                                    h)      Memperhatikan dan merefleksi hasil kegiatan bermain peran untuk perbaikan pada pertemuan berikutnya.
3)      Refleksi
Berdasarkan atas hasil belajar siswa, observasi, dan evaluasi dengan menggunakan instrumen dan hasil tes, maka ditemukan hal-hal yang menjadi pertimbangan untuk memperbaiki pada tindakan berikutnya.

c.   Pertemuan ke 3 (tiga)
1)      Tahap perencanaan
a) Merancang skenario pembelajaran yang dijabarkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
 b)  Menyiapkan LKS dengan menggunakan kegiatan bermain peran.
c)      Menyusun instrument penelitian berupa tes (tes hasil belajar), format observasi perilaku siswa dalam proses belajar mengajar, dan kuesioner tanggapan siswa terhadap tindakan yang dilakukan.

2)      Tahap Pelaksanaan Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan dilakukan kegiatan sebagai berikut:
                                    a)                                                                                                                              Menetapkan masalah-masalah yang akan dibahas.
                                    b)      Menceritakan kepada siswa mengenai isi dari masalah-masalah dalam konteks cerita tersebut.
                                    c)      Menetapkan siswa yang dapat atau bersedia untuk memainkan perannya di depan kelas.
                                    d)      Menjelaskan mengenai peran mereka pada waktu bermain peran sedang berlangsung.
                                    e)      Memberi kesempatan kepada para pelaku  untuk berunding beberapa menit sebelum mereka memainkan perannya.
                                      f)      Mengakhiri kegiatan bermain peran pada saat situasi pembicaraan mencapai ketegangan.
                                    g)      Mengakhiri bermain peran dengan diskusi kelas untuk bersama-sama memecahkan masalah persoalan yang ada pada saat bermain peran dilaksanakan.
                                    h)      Memperhatikan dan merefleksi hasil kegiatan bermain peran untuk perbaikan pada pertemuan berikutnya.


4)      Refleksi
Berdasarkan atas hasil belajar siswa, observasi, dan evaluasi dengan menggunakan instrumen dan hasil tes, maka ditemukan hal-hal yang menjadi pertimbangan untuk memperbaiki pada tindakan berikutnya.

E.     Cara Penggalian Data

Cara penggalian data yang digunakan adalah menggunakan hasil tes awal dan tes akhir kegiatan setiap siklus dengan menggunakan kegiatan bermain peran.
Analisis data dilakukan secara kuantitatif  dengan menggunakan teknik persentase. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data hasil belajar siswa berupa hasil tes yang diberikan. Analisis data diawali dengan kegiatan penskoran terhadap sejumlah pertanyaan atau soal yang diajukan. Selanjutnya skor yang diperoleh dianalisis dengan sistem penilaian agar diketahui tingkat pemahaman atau ketuntasan belajar siswa pada konsep keterampilan berbicara. Rumus yang digunakan adalah:
N =
Hasil analisis skor ini berupa nilai standar dengan skala 1 – 100 dengan ketuntasan minimal 65. Sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal minimal 85% dari jumlah siswa, menggunakan rumus, yaitu:

        Jumlah siswa yang tuntas
K =                                            x 100
        Jumlah siswa keseluruhan




F.   Indikator Keberhasilan

Ukuran yang dijadikan indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah apabila siswa secara individu memperoleh ketuntasan minimal 65 (KKM Bahasa Indonesia untuk kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Tahun Pelajaran 2008/2009), dan ketuntasan secara klasikal minimal 85%.





































BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A.     Deskripsi Setting/Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara. Jumlah rombongan belajar ada 6, yang terdiri dari kelas I, kelas II, kelas III, kelas IV, kelas, V, dan kelas VI.
Prestasi belajar dalam tiga tahun terakhir terjadi penurunan, khususnya pelajaran Bahasa Indonesia.
Masalah yang dihadapi sekolah adalah kurangnya sarana dan prasarana pendukung proses belajar mengajar, baik media pembelajaran dan buku pegangan siswa dan guru. Dan pada sekolah ini belum pernah dilaksanakan penelitian tindakan kelas.

B.     Persiapan Penelitian
Persiapan untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas ini meliputi surat izin penelitian. Untuk mendapatkan surat ijin penelitian, peneliti menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
(1)   Peneliti mengajukan surat tertulis yang ditujukan kepada Ketua PGSD S1 FKIP Unlam Banjarmasin.
(2)   Peneliti menerima surat pengantar atau ijin penelitian dari Ketua PGSD S1 FKIP Unlam Banjarmasin yang ditujukan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Utara.
(3)   Peneliti mengantar surat pengantar atau ijin penelitian dari Ketua PGSD S1 FKIP Unlam Banjarmasin ke kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Utara.
(4)   Peneliti menerima surat ijin penelitian dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Uatara.
(5)   Untuk selanjutnya surat tersebut diserahkan kepada kepala sekolah SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara.
(6)   Sekolah membuatkan Surat Rekomentasi melakukan penelitian dari kepala sekolah.

C.     Pelaksanaan Tindakan Kelas
Penelitian dilaksanakan di kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara. Bertindak sebagai peneliti adalah guru kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara tersebut, dan sebagai subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas V.
Penelitian dilakukan pada waktu pembelajaran Bahasa Indonesia berlangsung dengan materi ”keterampilan berbicara” dengan melalui kegiatan bermain peran.
Dengan adanya penelitian ini diharapkan nantinya siswa mampu menguasai materi pelajaran yang disajikan. Penelitian ini berbentuk penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar efektivitas siswa dalam menerima pelajaran tersebut terhadap proses dan hasil pembelajaran.
Pada pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga pembelajaran direncanakan menggunakan melalui kegiatan bermain peran, dan diupayakan dalam bentuk tindakan kelas yang sesuai dengan skenario tindakan. Jadwal penelitian sebagai berikut:
Tabel  4.1  Jadwal Penelitian
No
Hari / Tanggal
Jam Pelajaran
Kegiatan
Waktu
1
Selasa, 28 April 2009
4 – 5
10.00 s/d 11.10
  Pelaksanaan drama pendek dengan tema kisah pengembara
2 jam pelajaran
2
Rabu, 29 April 2009
1 – 2
8.00 s/d 9.10
Drama pendek dengan tema gara-gara tali pramuka
2 jam pelajaran
3
Kamis, 30 April 2009
1 – 2
8.00 s/d 9.10
Drama pendek dengan tema pahlawan tanpa tanda jasa
2 jam pelajaran

Dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran pada setiap kali pertemuan yang diharapkan dapat tercapai dalam tiga kali pertemuan

1.  Pertemuan Pertama ( 1 )
a.   Jalannya penelitian
Dihari pertama,  Selasa, 28 April 2009  pelaksanaan tindakan kelas pertemuan pertama di kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Mula-mula peneliti masuk kelas sambil memberi salam, selanjutnya menyuruh anak berdoa bersama sebelum memulai pelajaran. Setelah itu peneliti mengabsen siswa. Langkah selanjutnya menjelaskan maksud peneliti memasuki ruang kelas dan menjelaskan tentang maksud pelaksanaan penelitian.
Dilanjutkan dengan penjelasan metode bermain peran, dan bagaimana cara memaiankan peran, khususnya dalam memainkan peran tokoh yang dibebankan kepada masing-masing siswa.
Pada tahap berikutnya membagi siswa dalam beberapa kelompok, dan menyuruh siswa agar duduk sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan, dilanjutkan guru membagikan LKS pada masing-masing kelompok. Guru mempersilahkan siswa untuk memilih salah satu peran sesuai dengan LKS yang diberikan.
Langkah selanjutnya adalah pemeranan masing-masing kelompok, guru mengadakan pengamatan dan penilaian dari masing-masing tampilan. Dilanjutkan pada tahap diskusi untuk mengevaluasi (mengkaji ketepatan pemeranan, mendiskusikan fokus utama, serta mengembangkan pemeranan ulang). Untuk selanjutnya melakukan kesimpulan bersama siswa. Penilaian dilakukan secara individu sesuai dengan perannya masing-masing.
b.  Hasil Observasi

    Berdasarkan pelaksanaan pertemuan 1, diperoleh nilai hasil belajar dapat dilihat pada Tabel di bawah ini:
Tabel 4.2. Hasil Belajar Pertemuan 1
No
N a m a
Nilai Hasil Belajar
Ketuntasan


1
Abdur Rahman
60
Tuntas

2
Ajibannor
60
Tuntas

3
Alfiyani
60
Tuntas

4
Annisa
50
tidak

5
Barkatullah
60
Tuntas

6
Budiyani
60
Tuntas

7
Fahrul
60
Tuntas

8
Herlina
60
Tuntas

9
Hermawan
60
Tuntas

10
Hj. Jamilah
60
Tuntas

11
Laina Sari
50
tidak

12
Lisna
60
Tuntas

13
M. Anshari
60
Tuntas

14
Mahmud Zaini
50
tidak

15
Misran
50
tidak

16
Norsyaidah
60
Tuntas

17
Santi
60
Tuntas

18
Shadik
60
Tuntas

19
Syarifah
60
Tuntas

20
Tuti Alawiyah
50
tidak

21
Ulfah
60
Tuntas

22
Yanti
60
Tuntas

23
Zainuddin
60
Tuntas

Jumlah
1330,0
18

Rata-Rata
57,8


Ketuntasan

78%



Pada Tabel 4.2 di atas dapat dilihat bahwa hasil kemampuan siswa pada pertemuan pertama pada materi drama pendek dengan  tema kisah pengembara melalui kegiatan bermain peran pada hasil belajar diperoleh rata-rata 57,8 dengan ketuntasan 78%.
 Pencapaian nilai hasil belajar pada kegiatan pertemuan 1 berdasarkan nilai hasil post test di atas masih berada di bawah standar ketuntasan 85%, karena ketuntasan klasikal baru mencapai 78%. Hal ini disebabkan siswa belum terbiasa bermain peran, sehingga penggunaan intonasi, jeda, lafal, volume suara, serta mimik dan gerak belum bisa menyesuaikan dengan peran yang sebenarnya. Oleh karena itu perlu adanya perbaikan-perbaikan pada pertemuan berikutnya.

c.  Refleksi Tindakan
Berdasarkan temuan dari hasil penelitian tindakan pertama pada materi drama pendek dengan  tema kisah pengembara dapat direfleksikan sebagai berikut:
1)      Secara keseluruhan siswa mengalami kesulitan dalam hal pemilihan peran. Jadi guru mengalami kesulitan untuk membagi siswa sesuai dengan peran yang diharapkan.
2)      Siswa yang ditunjuk sebagai pengamat belum memahami fungsinya dengan baik.
3)      Siswa masih terlihat kebingungan untuk menentukan taha-tahap dalam bermain peran.
4)      Sebagian siswa masih ragu akan kemampuannya dalam bermain peran.

2.  Pertemuan kedua  ( 2 )
a.   Jalannya penelitian
Pertemuan ke dua dilaksanakan pada hari Rabu, 29 April 2009 yang pelaksanaannya dilakukan di kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Mula-mula peneliti masuk kelas sambil memberi salam, selanjutnya menyuruh anak berdoa bersama sebelum memulai pelajaran. Setelah itu peneliti mengabsen siswa. Langkah selanjutnya menjelaskan tentang manfaat bermain peran.
Pada pertemuan kedua ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pertemuan pertama, namun pembahasan materi yang berbeda serta tema yang berbeda.
Pada tahap berikutnya membagi siswa dalam beberapa kelompok, dan menyuruh siswa agar duduk sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan, dilanjutkan guru membagikan LKS pada masing-masing kelompok. Guru mempersilahkan siswa untuk memilih salah satu peran sesuai dengan LKS yang diberikan.
Langkah selanjutnya adalah pemeranan masing-masing kelompok, guru mengadakan pengamatan dan penilaian dari masing-masing tampilan. Dilanjutkan pada tahap diskusi untuk mengevaluasi (mengkaji ketepatan pemeranan, mendiskusikan fokus utama, serta mengembangkan pemeranan ulang). Untuk selanjutnya melakukan kesimpulan bersama siswa. Penilaian dilakukan secara individu sesuai dengan perannya masing-masing.

b.  Hasil Observasi

    Berdasarkan pelaksanaan pertemuan 2, diperoleh nilai hasil belajar dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.3 Hasil Belajar Pertemuan 2
No
N a m a
Nilai Hasil Belajar
Ketuntasan


1
Abdur Rahman
80
Tuntas

2
Ajibannor
70
Tuntas

3
Alfiyani
70
Tuntas

4
Annisa
90
Tuntas

5
Barkatullah
80
Tuntas

6
Budiyani
80
Tuntas

7
Fahrul
70
Tuntas

8
Herlina
80
Tuntas

9
Hermawan
80
Tuntas

10
Hj. Jamilah
70
Tuntas

11
Laina Sari
90
Tuntas

12
Lisna
80
Tuntas

13
M. Anshari
80
Tuntas

14
Mahmud Zaini
90
Tuntas

15
Misran
90
Tuntas

16
Norsyaidah
70
Tuntas

17
Santi
70
Tuntas

18
Shadik
70
Tuntas

19
Syarifah
80
Tuntas

20
Tuti Alawiyah
90
Tuntas

21
Ulfah
70
Tuntas

22
Yanti
70
Tuntas

23
Zainuddin
80
Tuntas

Jumlah
1800,0
23

Rata-Rata
78,3


Ketuntasan

100%


Pada Tabel 4.3 di atas dapat dilihat bahwa hasil kemampuan siswa pada pertemuan kedua pada materi drama pendek dengan  tema gara-gara tali pramuka melalui kegiatan bermain peran diperoleh nilai hasil belajar rata-rata 78,3 dengan ketuntasan 100%.
 Pencapaian nilai hasil belajar pada kegiatan pertemuan 2 berdasarkan nilai hasil post test di atas  berada di atas standar ketuntasan 85%. Ini berarti bahwa pembelajaran dikatakan berhasil dengan baik.

 c.  Refleksi Tindakan
Berdasarkan temuan dari hasil penelitian tindakan pertemuan ke 2 pada materi drama pendek dengan  tema masalah gara-gara tali pramuka dapat direfleksikan sebagai berikut:
1)      Secara keseluruhan siswa sudah dapat menentukan dalam hal pemilihan peran. Jadi guru tidak mengalami kesulitan untuk membagi siswa sesuai dengan peran yang diharapkan.
2)      Siswa yang ditunjuk sebagai pengamat sudah memahami fungsinya dengan baik.
3)      Siswa masih ada terlihat kebingungan untuk menentukan tahap-tahap dalam bermain peran.
4)      Semua siswa tidak merasa ragu lagi akan kemampuannya dalam bermain peran.

3.  Pertemuan ketiga ( 3 )
     a.  Jalannya penelitian
Pertemuan ke tiga dilaksanakan pada hari Kamis, 30 April 2009 yang pelaksanaannya dilakukan di kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara pada jam pelajaran ke 1 dan 2 mulai pukul 08.00 s/d 09.10.WITA.
Mula-mula peneliti masuk kelas sambil memberi salam, selanjutnya menyuruh anak berdoa bersama sebelum memulai pelajaran. Setelah itu peneliti mengabsen siswa. Langkah selanjutnya kembali menjelaskan tentang manfaat bermain peran.
Pada pertemuan ketiga ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pertemuan pertama dan pertemuan kedua, namun pembahasan materi yang berbeda serta tema yang berbeda.
Pada tahap berikutnya kembali membagi siswa dalam beberapa kelompok, dan menyuruh siswa agar duduk sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan, dilajutkan guru membagikan LKS pada masing-masing kelompok. Guru mempersilahkan siswa untuk memilih salah satu peran sesuai dengan LKS yang diberikan.
Langkah selanjutnya adalah pemeranan masing-masing kelompok, guru mengadakan pengamatan dan penilaian dari masing-masing tampilan. Dilanjutkan pada tahap diskusi untuk mengevaluasi (mengkaji ketepatan pemeranan, mendiskusikan fokus utama, serta mengembangkan pemeranan ulang). Untuk selanjutnya melakukan kesimpulan bersama siswa. Penilaian dilakukan secara individu sesuai dengan perannya masing-masing.

b.  Hasil Observasi

    Berdasarkan pelaksanaan  pertemuan 3, diperoleh nilai hasil belajar dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel  4.4 Hasil Belajar Pertemuan 3
No
N a m a
Nilai Hasil Belajar
Ketuntasan


1
Abdur Rahman
90
Tuntas

2
Ajibannor
90
Tuntas

3
Alfiyani
90
Tuntas

4
Annisa
90
Tuntas

5
Barkatullah
80
Tuntas

6
Budiyani
80
Tuntas

7
Fahrul
90
Tuntas

8
Herlina
80
Tuntas

9
Hermawan
80
Tuntas

10
Hj. Jamilah
90
Tuntas

11
Laina Sari
90
Tuntas

12
Lisna
90
Tuntas

13
M. Anshari
90
Tuntas

14
Mahmud Zaini
90
Tuntas

15
Misran
90
Tuntas

16
Norsyaidah
90
Tuntas

17
Santi
90
Tuntas

18
Shadik
90
Tuntas

19
Syarifah
80
Tuntas

20
Tuti Alawiyah
90
Tuntas

21
Ulfah
90
Tuntas

22
Yanti
90
Tuntas

23
Zainuddin
90
Tuntas

Jumlah
2020,0
23

Rata-Rata
87,8


Ketuntasan

100%


Pada Tabel 4.4 di atas dapat dilihat bahwa hasil kemampuan siswa pada pertemuan ketiga pada materi drama pendek dengan tema pahlawan tanpa tanda jasa melalui kegiatan bermain peran. Hasil belajar yang dicapai diperoleh rata-rata 87,8 dengan ketuntasan 100%.
 Pencapaian nilai hasil belajar pada kegiatan pertemuan 3 berdasarkan nilai test di atas  berada di atas standar ketuntasan 85%. Ini berarti bahwa pembelajaran dikatakan berhasil dengan baik.

 c.  Refleksi Tindakan
Berdasarkan temuan dari hasil penelitian tindakan kelas pertemuan ketiga pada materi drama pendek dengan  tema pahlawan tanpa tanda jasa dapat direfleksikan sebagai berikut:
1)      Secara keseluruhan siswa sudah dapat menentukan dalam hal pemilihan peran. Jadi guru tidak mengalami kesulitan untuk membagi siswa sesuai dengan peran yang diharapkan.
2)      Siswa yang ditunjuk sebagai pengamat sudah memahami fungsinya dengan baik.
3)      Siswa sudah tidak ada masalah lagi dalam menentukan tahap-tahap dalam bermain peran.
4)      Semua siswa tidak merasa ragu lagi akan kemampuannya dalam bermain peran.
Dari paparan data berdasarkan nilai yang diperoleh pada kegiatan pertemuan ke-1, pertemuan ke-2, dan pertemuan ke-3 dapat diuraikan perbandingan hasil belajar siswa sebagai berikut:
        Tabel  4.5 Perbandingan Hasil Belajar Pertemuan 1, 2, dan 3
Kegiatan
Pertemuan 1
Pertemuan 2
Pertemuan 3
Nilai Hasil Belajar
57,8
78,3
87,8
Ketuntasan
78
100
100

                        Gbr. 4.1 Grafik Perbandingan Hasil Belajar Siswa
Perbandingan hasil belajar siswa dalam keterampilan berbicara melalui kegiatan bermain peran, dimana pada pertemuan pertama diperoleh rata-rata nilai 57,8 dengan ketuntasan klasikal 78%, pada pertemuan kedua diperoleh rata-rata nilai 78,3 dengan ketuntasan klasikal 100%, sedangkan pada pertemuan ketiga diperoleh rata-rata nilai 87,8 dengan ketuntasan klasikal 100%.
Pembelajaran bermain peran yang dilakukan siswa secara berkelompok dimulai dari pertemuan pertama hasil yang dicapai siswa masih jauh berada di bawah indikator minimal, namun setelah dilakukan pertemuan kedua, dan ketiga keterampilan berbicara siswa sudah baik. Peran yang disajikan siswa sudah terarah, sesuai dengan apa yang diharapkan. Oleh karena penampilan masing-masing kelompok baik, maka memberikan kontribusi yang positif terhadap pencapaian nilai hasil belajar siswa.

D.    Pembahasan
Berdasarkan uraian dan paparan data di atas siswa secara bertahap memiliki kemampuan dalam hal keterampilan berbicara. Bila memperhatikan kemampuan siswa dari hasil penilaian yang dilakukan guru pada pertemuan pertama diperoleh rata-rata 57,8 dengan ketuntasan 78%, pada pertemuan kedua diperoleh rata-rata 78,3 dengan ketuntasan 100%, dan pertemuan ketiga diperoleh rata-rata 87,8 dengan ketuntasan klasikal 100%.
Peningkatan kemampuan keterampilan siswa yang diperoleh dari kemampuan individu dalam memerankan tokoh sesuai dengan perannya masing-masing pada tiap kelompok terlihat dari hasil penilaian yang diberikan guru, dimana kemampuan siswa dalam hal keterampilan berbicara sudah baik. Pada pertemuan pertama siswa masih malu-malu untuk memainkan peran sesuai dengan tema drama yang dimainkan, namun setelah penjelasan guru  tentang bagaimana memainkan peran yang baik, siswa mulai antusias mengikuti latihan-latihan, sehingga setelah penampilan di depan kelas secara keseluruhan siswa sudah menguasai perannya masing. Dan pada pertemuan ketiga diperoleh hasil yang maksimal, karena siswa benar-benar telah mampu menunjukkan keterampilan berbicaranya di depan kelas dengan baik.
Apabila dikaitkan dengan hipotesis penelitian yang menyatakan dengan menggunakan kegiatan bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang. Hasil penelitian menunjukkan hasil yang mendukung hipotesis tersebut. Dengan demikian hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis penelitian.















BAB  V
PENUTUP


A.  Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: Keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara dapat ditingkatkan melalui kegiatan bermain peran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan kegiatan bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Baru Kecamatan Danau Panggang.

B.  Saran-Saran
1.      Hendaknya para guru, khususnya guru Bahasa Indonesia di SD kelas V dapat menggunakan pembelajaran melalui bermain peran khususnya materi meningkatkan keterampilan berbicara siswa,  karena metode ini dapat memotivasi siswa, siswa lebih antusias dalam belajarnya.
2.      Untuk siswa, hendaknya kegiatan bermain peran ini dijadikan suatu permainan drama yang menarik, dan jangan merasa malu untuk tampil, karena sebenarnya bila permainan ini dihayati akan menambah pengetahuan kita dalam bermain peran.
3.      Kepada pihak sekolah, hendaknya hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan kajian untuk perbaikan pengajaran, khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA



Anipudin, dkk. 2005. Cermat Berbahasa 1 Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk kelas V SD. Solo : Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Arikunto. 2006.  Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.  Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah, S.B dan Zain, Aswan. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Depdiknas. 2002. Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta.

Depdiknas. 2006. Model Silabus Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP. Jakarta : Dirjen Dikdasmen.

Djamarah. 2002.  Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Dimyati. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Gintings, 2008. Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Humaniora.

Karsana. Ano. 1986. Keterampilan Menulis. Jakarta : Universitas Terbuka.

Karsidi. 2008. Inilah Bahasa Indonesiaku untuk SD Kelas V. Solo: Platinum.

Kridalaksana, Harimukti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Musaba, Zulkifli. 1989. Penuntun Tulis Menulis. Banjarmasin : Aulia.

Musaba, Zulkifli. 1989. Terampil Menulis dalam Bahasa Indonesia yang Benar. Banjarmasin : Sarjana Indonesia.

Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Panduan, 2008. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi) Khusus Untuk Penelitian Tindakan Kelas. Banjarmasin: Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Roestiyah, N.K. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Sukidin, Basrowi, dan Suranto.2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Insan Cendekia.

Sardiman. 2004. Interaksi Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta :PT Raja Grafindo Persada.

Sukidin, Basrowi, dan Suranto.2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Insan Cendekia.

Suriansyah. 2002. Inovasi Pendidikan di Sekolah. Banjarmasin : Proyek Peningkatan Mutu SLTP Kalsel.

Tarigan. 1986. Buku Materi Pokok Berbicara I. Jakarta: Universitas Terbuka

Tarigan, Henry Guntur. 1984. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.

Tim Penyusun. 2008. Buku Penunjang Mata Pelajaran Ujian Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SD. Klaten: Cempaka Putih.

Usman. 2008. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Edisi Kedua. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Usman, Moh. Uzer. 2001. Upaya Optimalisasi Belajar Mengajar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Wardani. 2002. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka.

Wiriaatmadja, Rochiati. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.







Komentar