BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Matematika
merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang sudah berkembang pesat pada saat
sekarang ini, baik materi maupun kegunaannya. Dengan menguasai pengetahuan
Matematika khususnya siswa di sekolah Dasar, memungkinkan siswa akan lebih
mudah dalam menerima pengetahuan ini. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang
berkembang semakin pesat, baik langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh
terhadap perkembangan pendidikan. Oleh karena itu mutu pendidikan harus
ditingkatkan terutama ilmu ”berhitung” atau ”Matematika”, peranan Matematika
dalam kehidupan telah membawa kehidupan manusia ke zaman teknologi modern.
Begitu
pentingnya peranan Matematika terhadap masa depan bangsa, maka pemerintah telah
berusaha untuk meningkatkan mutu pelajaran Matematika dengan berbagai upaya
misalnya dengan pemberian alat peraga, buku paket, olympiade Matematika, serta
penyempurnaan kurikulum. siswa sebagai individu yang potensial tidak dapat
berkembang banyak tanpa bantuan dan bimbingan. Berkaitan dengan peningkatan
mutu pendidikan maka perlu adanya perbaikan, pembaharuan, serta perubahan dalam
segala aspek diantaranya kurikulum, sarana dan prasarana, guru, siswa serta
metode dan model pembelajaran. Berbagai aspek yang berkaitan dengan pendidikan
dasar diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional, dimana di dalamnya mengatur tentang pendidikan dasar.
Dalam
proses pendidikan yang berkualitas, diharapkan menghasilkan produk pendidikan
yang bermutu, yang diantara karakteristik hasilnya bercirikan sebagai berikut:
1.
Peserta
didik menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar
(learning tasks) yang harus dikuasai sesuai dengan tujuan dan sasaran
pendidikan.
2.
Hasil
pendidikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik sehingga dengan belajar
peserta didik bukan hanya mengetahui sesuatu melainkan terampil melakukan
sesuatu.
3.
Hasil
pendidikan sesuai dengan kebutuhan lingkungan khususnya lingkungan kerja
(Taufik.2008). merujuk hal diatas perlunya pembelajaran diantaranya mata
pelajaran matematika.
Dalam mencapai tingkat keberhasilan yang optimal
dalam pembelajaran sangat dibutuhkan penerapan metode yang bervariasi. Hal ini
di dasarkan oleh tingkat kematangan siswa secara individual berbeda-beda.
Sebagaimana kita ketahui sejauh ini pendidikan
kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat
fakta-fakta yang harus dihapal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber
utama pengetahuan dan ceramah menjadi pilihan metode belajar.
Berbagai
upaya telah dilaksanakan untuk memperbaiki pembelajaran baik proses maupun
hasil, akan tetapi hasil dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran masih
rendah, sebagaimana yang terjadi pada siswa SD Negeri Jimamun Kecamatan Lampihong Kabupaten
Balangan, hasil belajar siswa mata pelajaran Matematika pada Perpangkatan dan
akar pangkat dua 44 % masih di bawah Standar Ketuntasan Minimal
(SKM) dan rata-rata kelas 59,7. Dari 16 orang siswa, hanya 9 orang yang dinyatakan tuntas.
Dari hasil
pembelajaran yang telah dilakukan selama ini ternyata terungkap beberapa
permasalahan yang terjadi yaitu:
1.
Siswa merasa bosan dengan pembelajaran yang
dilakukan, karena proses pembelajaran lebih didominasi oleh guru, akibatnya
siswa bersifat pasif.
2.
Metode dan teknik yang kurang tepat sehingga kurang menarik bagi siswa.
Jika hal ini
dibiarkan berlarut-larut, maka dikhawatirkan para siswa akan terus mengalami
ketertinggalan. Merujuk pada hal-hal tersebut, maka guru harus berinisiatif
mengubah dan menerapkan strategi pembelajaran, antara lain dengan menggunakan
model pembelajaran.
Oleh karena itu untuk memberikan pengalaman baru
bagi siswa dalam kegiatan belajar mengajar, maka penulis mencoba melaksanakan
perbaikan pembelajaran mata pelajaran Matematika dalam Perpangkatan dan akar pangkat
dua dengan menggunakan Model Kooperatif tipe STAD. Dimana siswa bekerja
sama dalam kelompok, dan setiap siswa dalam kelompok bertanggung jawab atas
segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya. Anggota kelompok yang sudah
mengerti dapat menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam
kelompok itu mengerti. Sehingga pembelajaran ini dapat memicu keaktifan siswa,
dan juga dapat menyenangkan bagi siswa.
Selain itu dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD
diberikan penghargaan kelompok berdasarkan rata-rata nilai peningkatan yang
diperoleh masing-masing kelompok, sehingga pembelajaran ini menarik bagi siswa.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis
merasa perlu melakukan penelitian tentang “Peningkatan
Hasil Belajar Siswa Kelas V Dalam Perpangkatan Dan Akar Pangkat
Dua Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD SDN Jimamun Kabupaten Balangan”
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1.
Bagaimana pelaksanaan pembelajaran perpangkatan
dan akar pangkat dua melalui pendekatan kooperatif Tipe STAD pada siswa kelas V
SDN Jimamun Kabupaten Balangan?
2.
Bagaimana peningkatan hasil belajar perpangkatan
dan akar pangkat dua melalui pendekatan kooperatif Tepe STAD pada siswa kelas V SDN Jimamun Kabupaten Balangan?
3.
Bagaimanakah aktivitas guru dan siswa selama
kegiatan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD?
C.
Rencana
Pemecahan
Permasalahan yang dihadapi dalam
pembelajaran pada materi perpangkatan dan akar pangkat dua di kelas V SDN
Jimamun Kabupaten Balangan dapat dielemenir dengan merencanakan suatu tindakan
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Persiapan
a.
Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD.
b.
Menyiapkan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang memuat
soal atau tugas.
c.
Menyiapkan alat-alat atau bahan-bahan yang
diperlukan siswa.
d.
Menyiapkan alat ukur (instrumen) untuk menentukan
keberhasilan pelaksanaan penelitian berupa : (1) Soal tes hasil belajar/formatif terhadap materi
perpangkatan dan akar pangkat dua (2) Menyusun lembar
observasi untuk melihat bagaimana kondisi proses kegiatan belajar mengajar
menurut skenario pembelajaran yang diterapkan baik lembar observasi untuk guru
maupun lembar observasi untuk murid.
2.
Pelaksanaan
a.
Menyampaikan
tujuan pembelajaran dan hasil belajar yang akan dicapai oleh setiap siswa.
b.
Menjelaskan
tata cara pembelajaran STAD
c.
Menjelaskan
materi pelajaran dengan metode ceramah dan tanya jawab.
d.
Memberikan
tes awal kepada setiap siswa secara individu untuk memperoleh nilai awal
kemampuan siswa.
e.
Membagi
kelompok yang anggotanya 4 orang secara hiterogen (campuran menurut prestasi,
jenis kelamin, suku dan lain-lain).
f.
Memberikan
tugas kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok.
g.
Anggota yang
sudah mengerti dapat menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota
dalam kelompok itu mengerti.
h.
Mempresentasikan
hasil diskusi kelompok.
i.
Memberikan
tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
j.
memberikan
penghargaan kepada kelompok melalui nilai penghargaan berdasarkan perolehan
nilai peningkatan individual dari nilai dasar ke nilai berikutnya setelah
mereka melaui kerja kelompok.
3.
Tindak
lanjut
a. Menyimpulkan
penilaian proses dan pelaksanaan
b. Mendiskusikan dengan
teman sejawat permasalahan-permasalahan dalam pelaksanaan untuk langkah-langkah
tindakan selanjutnya.
D.
Tujuan
dan Manfaat Penelitian
1.
Tujuan
Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) dalam kegiatan penelitian ini dirancang bertujuan untuk :
a. Meningkatkan
motivasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.
b. Meningkatan hasil belajar
siswa dalam perpangkatan dan akar pangkat dua dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD di
kelas V SD Negeri Jimamun Kabupaten Balangan.
c. Meningkatkan keaktifana siswa dalam menentukan
perpangkatan dan akar pangkat dua.
2.
Manfaat
Penelitian
Hasil penelitian ini
diharapkan berguna:
a. Bagi Siswa
1) Minat belajar siswa terhadap pembelajaran Matematika lebih tinggi dengan
menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe STAD.
2) Hasil belajar lebih meningkat
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
STAD.
3) Siswa lebih
aktif dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD.
b. Bagi Guru
Sebagai bahan masukan dalam upaya memilih
strategi pembelajaran yang efektif untuk dijadikan solusi mengatasi berbagai
permasalahan yang dihadapi.
c. Bagi Kepala
Sekolah
Sebagai informasi yang berharga guna
menentukan alternatif dalam memecahkan masalah pembelajaran dan mendorong
aktivitas siswa guna meningkatkan mutu sekolah yang bersangkutan.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Kerangka
Teori
1.
Pentingnya
Memahami Karakteristik Anak Didik
Sebelum
seorang pendidik menentukan langkah bagaimana menangani anak didik dalam proses
belajar mengajar agar terciptanya suatu tujuan belajar yang benar maka
sebelumnya perlu kiranya seorang pendidik tersebut mengetahui dan memahami
karakteristik anak didik.
Seorang
guru maupun pendidik setelah mengetahui karakteristik dari anak didiknya
diharapkan dapat melakukan suatu tindakan-tindakan untuk menciptakan proses
belajar yang kondusif bagi siswa tersebut. Jika disuatu ketika seorang pendidik
dihadapkan pada permasalahan belajar anak didiknya maka pendidik tersebut dapat
mengambil langkah-langkah penyelesaian dengan mengacu pada karakteristik anak
didiknya yang telah dipelajari sebelumnya.
2.
Karakteristik
Anak Didik Sekolah Dasar
Menurut
Nasution dalam buku Syaiful Bahri Djamarah (2002:89) usia sekolah dasar sebagai
masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira
sebelas atau dua belas tahun. Pada usia ini anak pertama kali mengalami
pendidikan formal dan bisa juga dikatakan bahwa usia ini adalah merupakan usia
yang matang untuk anak menerima pelajaran-pelajaran yang merupakan tingkat
pertama dalam pendidikan untuk anak dikemudian hari meniti jenjang pendidikan
tingkat selanjutnya. Seperti yang kita ketahui bahwa diusia kanak-kanak
merupakan basic awal dalam menentukan perkembangan anak dimasa-masa yang akan
datang. Oleh karena itu kita sebagai seorang pendidik diharapkan dapat
memberikan lingkungan yang baik dimana dapat membantu anak didik dalam berkembang
optimal dan dalam menjalani proses belajar.
Masa
sekolah dasar menurut Suryobroto seperti dikutif oleh Syaiful Bahri (2002:90) dapat diperinci
menjadi menjadi dua fase: (a)
Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar, kira-kira umur 6 atau 7 tahun sampai
umur 9 atau 10 tahun dan (b) Masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar, kira-kira
umur 9 atau 10 tahun sampai kira-kira umur 12 atau 13 tahun.
a.
Masa
Kelas-kelas Rendah Sekolah Dasar
Beberapa
sifat khas anak-anak pada masa ini antara lain adalah seperti yang disebutkan
dibawah ini:
1)
Adanya
korelasi positif yang sangat tinggiantara keadaan kesehatan pertumbuhan jasmani
dengan prestasi sekolah.
2)
Adanya
sikap yang cenderung untuk mematuhi peraturan-peraturan permainan yang
tradisional.
3)
Ada
kecendrungan memuji diri sendiri.
4)
Suka
membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain kalau hal itu dirasanya
menguntungkan untuk meremehkan anak lain.
5)
Kalau
tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggapnya tidak penting.
6)
Pada masa
ini (terutama pada umur 6-8) anak menghendaki nilai (angka rapor) yang baik, tanpa mengingat
apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.
b.
Masa
Kelas-kelas Tinggi Sekolah Dasar
Beberapa sifat khas
anak-anak pada masa ini adalah sebagai berikut:
1)
Adanya
minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret, hal ini menimbulkan
adanya kecendrungan untuk membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang praktis.
2)
Amat
realistic, ingin tahu dan ingin belajar.
3)
Menjelang
akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, yang
oleh para ahli ditafsirkan sebagai mulai menonjolkan faktor-faktor.
4)
Sampai
kira-kira umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang-orang dewasa lainnya.
5)
Anak-anak
pada masa usia ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk dapat
bermain bersama-sama. Didalam permainan ini biasanya anak tidak lagi terikat
pada aturan permainan tradisional, mereka membuat aturan sendiri.
3.
Karakteristik
belajar siswa
a.
Pengertian
Belajar
James
O.Whittaker, merumuskan belajar sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan
atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
Cronbach
berpendapat bahwa learning is shown by change in behaviour as a result of
experience. Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Slameto
juga merumuskan pengertian tentang belajar. Menurutnya belajar adalah suatu
proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Dari
beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar yang dikemukakan di atas
dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan
melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Gerak raga yang ditunjukkan harus
sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan perubahan. Tentu saja perubahan
yang didapatkan itu bukan perubahan fisik, tetapi perubahan jiwa dengan sebab
masuknya kesan-kesan baru. Perubahan sebagai hasil dari dari proses belajar
adalah perubahan jiwa yang mempengaruhi tingkah laku seseorang.
Akhirnya
dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu
dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan
psikomotor.
b.
Ciri-Ciri
Belajar
Pada
hakikatnya belajar adalah perubahan tingkah laku, sehingga ada beberapa
perubahan tertentu yang dimasukkan kedalam ciri-ciri belajar.
1)
Perubahan
yang terjadi secara sadar
Individu
yang belajar menyadari terjadinnya perubahan itu atau sekurang-kurangnya
individu merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.
2)
Perubahan
dalam belajar bersifat fungsional
Sebagai
hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus
menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan
perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan atau proses belajar
berikutnya.
3)
Perubahan
dalam belajar bersifat positif dan aktif
Dalam
perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu selalu bertambah dan tertuju untuk
memperoleh suatu yang lebih baik dari sebalumnya. Dengan demikian, makin banyak
usaha belajar itu dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang
diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak
terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu sendiri.
4)
Perubahan
dalam belajar bukan bersifat sementara
Perubahan
yang bersifat sementara (temporer) yang terjadi hanya untuk beberapa saat saja
tidak dapat digolongkan sebagai perubahan dalam pengertian belajar. Perubahan
yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen.
5)
Perubahan
dalam belajar bertujuan atau berarah
Perubahan
tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai, perubahan belajar
terarah pada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari.
6)
Perubahan
mencakup seluruh aspek tingkah laku
Jika
seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah
laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan, keterampilan, pengetahuan, dan
sebagainya.
4.
Pembelajaran
Matematika di SD
Matematika
merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern,
mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir
manusia. Perkembangan pesat di bidang
teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan
matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan
matematika diskrit. Untuk menguasai dan
mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat
sejak dini.
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada
semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik
dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif,
serta kemampuan bekerjasama.
Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam
pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal,
masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara
penyelesaian.
Banyak
pakar matematika percaya bahwa orang belajar matematika hanya akan berhasil
dengan baik jika disertai dengan mengerjakan soal-soal. Pendapat demikian
sesuai dengan teori konstruktivisme. Menurut pandangan konstruktivisme yang
dinyatakan oleh Glasersfeld bahwa siswa membangun pengetahuannya sendiri.
Mereka tidak hanya menangkap dan memantulkan kembali apa yang diceritakan pada
mereka atau apa yang mereka baca. Siswa berusaha menemukan arti dan akan
mencari keteraturan dan kecendrungan dari gejala-gejala alam pada saat
informasi yang lengkap dan penuh tersedia.
Berdasarkan
hal diatas dipercaya bahwa pembelajaran hanya akan berhasil jika siswa berperan
aktif dalam proses pembelajaran itu. Untuk pembelajaran matematika, keaktifan
siswa dalam proses pembelajaran dapat dibentuk pemusatan-pemusatan perhatian
terhadap apa yang dijelaskan guru, yang disertai dengan perenungan serta
penerapan dalam bentuk penyelesaian soal-soal.
Pembelajaran yang
menyenangkan merupakan dambaan dari setiap peserta didik. Karena proses belajar
yang menyenangkan bisa meningkatkan motivasi belajar yang tinggi bagi siswa
guna menghasilkan produk belajar yang berkualitas. Untuk mencapai keberhasilan
proses belajar, faktor motivasi merupakan kunci utama. Seorang guru harus
mengetahui secara pasti mengapa seorang siswa memiliki berbagai macam motif
dalam belajar. Ada empat katagori yang perlu diketahui oleh seorang guru yang
baik terkait dengan motivasi “mengapa siswa belajar”, yaitu (1) motivasi
intrinsik (siswa belajar karena tertarik dengan tugas-tugas yang diberikan),
(2) motivasi instrumental (siswa belajar karena akan menerima konsekuensi:
reward atau punishment), (3) motivasi sosial (siswa belajar karena ide dan
gagasannya ingin dihargai), dan (4) motivasi prestasi (siswa belajar karena
ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa dia mampu melakukan tugas yang
diberikan oleh gurunya).
Mata pelajaran matematika SD bertujuan agar peserta
didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
a. Memahami konsep matematika,
menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma,
secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.
b. Menggunakan penalaran pada
pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi,
menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
c. Memecahkan masalah yang
meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan
model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
d. Mengomunikasikan gagasan
dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau
masalah.
e. Memiliki sikap menghargai
kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian,
dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam
pemecahan masalah.
Untuk mencapai tujuan
pembelajaran Matematika di SD ditempuh berbagai pendekatan seperti pendekatan
lingkungan, pendekatan konsep, pendekatan pemecahan masalah, pendekatan
keterampilan proses, pendekatan deduktif/induktif, pendekatan inkueri, dan
pendekatan belajar tuntas. Sedangkan metode
pembelajaran yang dapat digunakan di SD, diantaranya penugasan, diskusi, tanya
jawab, latihan, ceramah, simulasi, demonstrasi dan eksprimen. Salah satu model
yang dikembangkan pakar pendidik untuk menerapkan pendekatan-pendekatan dan
metode-metode di atas adalah model pembelajaran kooperatif (Cooperative
Learning).
Untuk
melaksanakan pembelajaran kooperatif di sekolah dasar (Ellisa 2003) menegaskan bahwa
guru harus memperhatikan tingkat perkembangan kognitif siswa. Penyesuaian
tingkat perkembangan kognitif siswa sekolah dasar antara lain meliputi
pemilihan media, strategi, dan setting kelas dalam pembelajaran kooperatif di
tingkat dasar. Media yang digunakan harus menarik sehingga dapat lebih
memotivasi siswa dalam proses pembelajaran. Strategi yang digunakan dapat
berupa permainan-permainan dengan aturan-aturan yang mudah dipahami dan mudah
dilaksanakan. Sedangkan setting kelas yang digunakan tidak boleh menyulitkan
guru dalam memantau mobilitas siswa tingkat dasar yang relatif tinggi. Hal ini
dimaksudkan agar tujuan pembelajaran yang ingin di capai benar-benar diraih.
5.
Konsep
Perpangkatan dan akar Pangkat dua dalam Pembelajaran Matematika di SD
|
Perhatikan gambar di samping.
Sedang bermain apakah mereka?
Berapa banyak petak kecil pada papan catur?
|
|
a.
Pangkat
Dua Suatu Bilangan
Papan catur mempunyai 8 X 8 petak kecil
8 X 8 dapat ditulis 82 dan dibaca
depalan pangkat dua atau delapan kuadrat
Tabel Bilangna Kuadrat
|
12 =
1
|
112 =
121
|
|
22 =
4
|
122 =
144
|
|
32 =
9
|
132 =
169
|
|
42 =
16
|
142 =
196
|
|
52 =
25
|
152 =
225
|
|
62 =
36
|
162 =
256
|
|
72 =
49
|
172 =
289
|
|
82 =
64
|
182 =
324
|
|
92 =
81
|
192 =
361
|
|
102 =
100
|
202 =
400
|
Ada sifat khusus untuk kuadrat bilangan
dengan satuan 5
b.
Akar
Pangkat Dua
Akar pangkat dua merupakan kebalikan dari
pangkat dua (akar kuadrat) dilambangkan dengan tanda
|
82 = 64
|
berarti
|
|
delapan atau akar kuadrat dari
enam puluh empat sama dengan
delapan.
Akar kuadrat suatu bilangan dapat dicari
dengan cara seperti berikut
|
|
|
1) Pisahkan dua angka disebelah kanan dengan
tanda titik menjadi 6.25
2) Carilah akar terbesar dari bilangan di
sebelah kiri titik (6) yaitu 2
3) 22 = 4, angka 4 ditulis dibawah
angka 6 kemudian dikurangkan, yaitu 6 - 4 = 2
|
2 x 2 = 4 -
2 25
4n x n
45 x 5
= 2 25 -
0
|
||
|
4) Turunkan angka 25 melengkapi sisa 2 menjadi
2.25
5) Hasil penarikan akar tadi ( 2 ) kalikan
dengan 2 menjadi 4.
6) Carilah bilangan n yang memenuhi 4n x n
sehingga hasil kalinya 225 atau akar
terbesar dibawah 225
Pada contoh nilai
n yang sesuai yaitu 5 sehingga 45 x 5
= 225
7) Angka 5 ini diletakkan melengkapi 2 hasil
penarikan akar tadi menjadi 25
8) Oleh karena 225 – 225 = 0 maka 25 merupakan
hasil akhir penarikan akar kuadrat. Bila hasil pengurangannya belum nol maka
dilakukan penurunan angka berikutnya seperti langkah d dan e. jadi
|
|||
6.
Pengukuran
dan Penilaian Hasil Belajar Matematika
Penilaian
merupakan salah satu sub sistem yang penting dalam setiap sistem pendidikan
karena mencerminkan perkembangan atau kemajuan hasil pendidikan dari satu waktu
ke waktu lain. Disamping itu, berdasarkan penilaian, tingkat pencapaian
prestasi pendidikan antara satu sekolah dengan sekolah lain atau satu wilayah
dengan wilayah lain dapat dibandingkan.
Dalam
membahas masalah penilaian di bidang pendidikan, ada tiga istilah yang penting
dipakai yaitu, pengukuran, penilaian dan pengambilan keputusan / kebijakan.
Ketiga istilah itu memiliki arti yang sangat berbeda karena tingkat penggunaan
yang berbeda. Pengukuran adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan informasi atau
data secara kuantitatif, sedangkan penilaian adalah kegiatan untuk mengetahui
apakah suatu program telah berhasil dan efsien. Pengambilan keputusan atau
kebijakan adalah tindakan yang diambil oleh sesorang atau informasi yang diperoleh.
Suryabrata
(1997:4), memberikan pengertian tes sebagai berikut : tes adalah
pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan atau perintah-perintah yang harus
dijalankan, yang mendasarkan harus bagaimana testee pertanyaan-pertanyaan atau
melakukan perintah-perintah itu menyelidiki mengambil kesimpulan dengan cara
membandingkan dengan standar atau testee yang lain.
Berdasarkan
fungsinya, tes dapat dibedakan dalam empat jenis yaitu:
a.
tes
penempatan
b.
tes
formatif
c.
tes
diagnostik
d.
tes
sumatif.
7.
Model
Pembelajaran Kooperatif
a.
Pengertian
Pembelajaran Kooperatif
Beberapa tipe pembelajaran kooperatif yang
dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain Slavin (1985), Lazarowitz (1988),
atau Sharan (1990) adalah tipe Jigsaw, tipe NHT (Number Heads Together),
tipe TAI (Team Assited Individualization), dan tipe STAD (Student
Teams Achievement Divisions). Dalam penelitian ini, akan dipilih
pembelajaran kooperatif tipe STAD. Alasan dipilih pembelajaran
kooperatif tipe STAD karena pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan
pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Selain itu, dapat digunakan
untuk memberikan pemahaman konsep materi yang sulit kepada siswa dimana materi
tersebut telah dipersiapkan oleh guru melalui lembar kerja atau perangkat
pembelajaran yang lain. Pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan
oleh Slavin dkk. Langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD
adalah sebagai berikut.
1)
Guru
menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan
dicapai. Guru dapat menggunakan berbagai pilihan dalam menyampaikan materi
pembelajaran ini kepada siswa. Misal, antara lain dengan metode penemuan
terbimbing atau metode ceramah. Langkah ini tidak harus dilakukan dalam satu
kali pertemuan, tetapi dapat lebih dari satu.
2)
Guru
memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu sehingga akan diperoleh
nilai awal kemampuan siswa.
3)
Guru
membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 anggota, dimana
anggota kelompok mempunyai kemampuan akademik yang berbeda-beda (tinggi, sedang,
dan rendah). Jika mungkin, anggota kelompok
berasal dari budaya atau suku yang berbeda serta memperhatikan
kesetaraan jender.
4)
Guru
memberikan tugas kepada kelompok berkaitan dengan materi yang telah diberikan,
mendiskusikannya secara bersama-sama, saling membantu antaranggota lain, serta
membahas jawaban tugas yang diberikan guru. Tujuan utamanya adalah memastikan
bahwa setiap kelompok dapat menguasai konsep dan materi. Bahan tugas untuk
kelompok dipersiapkan oleh guru agar kompetensi dasar yang diharapkan dapat
dicapai.
5)
Guru
memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu.
6)
Guru
memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan
penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
7)
Guru
memberi penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan
hasil belajar individual dari nilai awal ke nilai kuis berikutnya.
b.
Pembelajaran
Kooperatif Tipe STAD
Beberapa tipe pembelajaran kooperatif yang
dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain Slavin (1985), Lazarowitz (1988),
atau Sharan (1990) adalah tipe Jigsaw, tipe NHT (Number Heads Together),
tipe TAI (Team Assited Individualization), dan tipe STAD (Student
Teams Achievement Divisions). Dalam penelitian ini, akan dipilih
pembelajaran kooperatif tipe STAD. Alasan dipilih pembelajaran
kooperatif tipe STAD karena pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan
pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Selain itu, dapat digunakan
untuk memberikan pemahaman konsep materi yang sulit kepada siswa dimana materi
tersebut telah dipersiapkan oleh guru melalui lembar kerja atau perangkat
pembelajaran yang lain. Pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan
oleh Slavin dkk. Langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD
adalah sebagai berikut.
1)
Guru
menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan
dicapai. Guru dapat menggunakan berbagai pilihan dalam menyampaikan materi
pembelajaran ini kepada siswa. Misal, antara lain dengan metode penemuan
terbimbing atau metode ceramah. Langkah ini tidak harus dilakukan dalam satu
kali pertemuan, tetapi dapat lebih dari satu.
2)
Guru
memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu sehingga akan diperoleh
nilai awal kemampuan siswa.
3)
Guru
membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 anggota, dimana
anggota kelompok mempunyai kemampuan akademik yang berbeda-beda (tinggi,
sedang, dan rendah). Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari budaya atau suku yang berbeda
serta memperhatikan kesetaraan jender.
4)
Guru
memberikan tugas kepada kelompok berkaitan dengan materi yang telah diberikan,
mendiskusikannya secara bersama-sama, saling membantu antaranggota lain, serta
membahas jawaban tugas yang diberikan guru. Tujuan utamanya adalah memastikan
bahwa setiap kelompok dapat menguasai konsep dan materi. Bahan tugas untuk
kelompok dipersiapkan oleh guru agar kompetensi dasar yang diharapkan dapat
dicapai.
5)
Guru
memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu.
6)
Guru
memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan
penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
7)
Guru
memberi penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan
hasil belajar individual dari nilai awal ke nilai kuis berikutnya.
c.
Pembentukan
dan Penghargaan Kelompok
Salah satu cara pembentukan kelompok
berdasarkan kemampuan hasil nilai siswa adalah seperti berikut ini.
|
Kemampuan
|
No
|
Nama
|
Rangking
|
Kelompok
|
|
Tinggi
|
1
|
Rahmidayani
|
1
|
A
|
|
2
|
Abdul Rasyad
|
2
|
B
|
|
|
3
|
Rifa Nurahmi
|
3
|
C
|
|
|
4
|
Nadia Lestari
|
4
|
D
|
|
|
Sedang
|
5
|
Siti Aisyah
|
5
|
D
|
|
6
|
M. Hanapi
|
6
|
C
|
|
|
7
|
Rahmawati
|
7
|
B
|
|
|
8
|
Siti Patimah
|
8
|
A
|
|
|
9
|
Supi Hadi
|
9
|
A
|
|
|
10
|
Halida Pitriani
|
10
|
B
|
|
|
11
|
A, Ibrahim
|
11
|
C
|
|
|
12
|
Patimatul Aulia
|
12
|
D
|
|
|
Rendah
|
13
|
Rika Rosalita
|
13
|
D
|
|
14
|
Salamiah
|
14
|
C
|
|
|
15
|
Mildawati
|
15
|
B
|
|
|
16
|
Jarkiah
|
16
|
A
|
Kelompok A Terdiri dari Rahmidayani, Siti
Patimah, Supi Hadi, dan Jarkiah. Kelompok B terdiri dari Abdul Rasyad,
Rahmawati, Halida Pitriani, dan Mildawati. Kelompok C terdiri dari Rifa
Nurahmi, M. Hanapi, A. Ibrahim, dan Salamiah. Kelompok D terdiri dari Nadia
Lestari, Siti Aisyah, Patimatul Aulia, dan Rika Rosalita.
Menurut Slavin (1995), guru memberikan
penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar
dari nilai dasar (awal) ke nilai kuis/tes setelah siswa bekerja dalam kelompok.
Cara-cara penentuan nilai penghargaan kepada kelompok dijelaskan sebagai
berikut.
Langkah-langkah memberi penghargaan
kelompok:
(1)
Menentukan
nilai dasar (awal) masing-masing siswa. Nilai dasar (awal) dapat berupa nilai
tes/kuis awal atau menggunakan nilai ulangan sebelumnya;
(2)
Menentukan
nilai tes/kuis yang telah dilaksanakan setelah siswa bekerja dalam kelompok,
misal nilai kuis I, nilai kuis II, atau rata-rata nilai kuis I dan kuis II
kepada setiap siswa, yang kita sebut dengan nilai kuis terkini;
(3)
Menentukan
nilai peningkatan hasil belajar yang besarnya ditentukan berdasarkan selisih
nilai kuis terkini dan nilai dasar (awal) masing-masing siswa dengan
menggunakan kriteria berikut ini.
|
Kriteria
|
Nilai
Peningkatan
|
|
Nilai kuis/tes terkini turun lebih dari 10 poin di bawah nilai
awal
|
5
|
|
Nilai kuis/tes terkini turun 1 sampai
dengan 10 poin di bawah nilai awal
|
10
|
|
Nilai kuis/tes terkini sama dengan nilai
awal sampai dengan 10 di atas nilai awal
|
20
|
|
Nilai kuis/tes terkini lebih dari 10 di
atas nilai awal
|
30
|
Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan
rata-rata nilai peningkatan yang diperoleh masing-masing kelompok dengan
memberikan predikat cukup, baik, sangat baik, dan sempurna
Kriteria untuk status kelompok (Muslimin
dkk, 2000):
1)
Cukup,
bila rata-rata nilai peningkatan kelompok kurang dari 15 (rata-rata nilai
peningkatan kelompok < 15)
2)
Baik, bila
rata-rata nilai peningkatan kelompok antara 15 dan 20 (15 < rata-rata nilai
peningkatan kelompok < 20)
3)
Sangat
baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok antara 20 dan 25 (20 <
rata-rata nilai peningkatan kelompok < 25)
4)
Sempurna,
bila rata-rata nilai peningkatan kelompok lebih atau sama dengan 25 (rata-rata
nilai peningkatan kelompok ≥ 25).
Contoh proses penentuan penghargaan kelompok
|
Kelompok/
No
|
Nama Siswa
|
Tes Awal
|
Nilai Kuis I
|
Nilai Kuis II
|
Rata-Rata Nilai Kuis I dan
Nilai Kuis II
|
Nilai Peningkatan
|
Nilai Penghargaan Kelompok
|
|
I
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Rahmidayani
|
96
|
97
|
96
|
96
|
20
|
25
|
|
2
|
Siti Patimah
|
76
|
100
|
96
|
98
|
30
|
Sempurna
|
|
3
|
Supi Hadi
|
88
|
95
|
94
|
94
|
20
|
|
|
4
|
Jarkiah
|
45
|
72
|
62
|
67
|
30
|
|
|
|
100
Rata-rata
= 100:4
= 25
|
|
|||||
|
Penghargaan Kelompok I adalah sempurna
|
|||||||
|
II
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Abdul Rasyad
|
100
|
96
|
94
|
92
|
10
|
20
|
|
2
|
Rahmawati
|
73
|
94
|
50
|
72
|
10
|
Sangat baik
|
|
3
|
Halida Pitriani
|
71
|
83
|
96
|
89
|
30
|
|
|
4
|
Mildawati
|
40
|
80
|
85
|
82
|
30
|
|
|
|
80
Rata-rata
= 80:4
= 20
|
|
|||||
|
Penghargaan Kelompok II adalah sangat baik
|
|||||||
Keterangan:
Nilai dasar
(awal) = nilai tes awal
Nilai
kuis/tes terkini = rata-rata nilai kuis I dan kuis II
Nilai
penghargaan kelompok = rata-rata nilai peningkatan di kelompok
B.
Kerangka
Berpikir dan Hipotesis
1.
Kerangka
Berpikir
Dari
kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya
perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage dan Berliner, 1984:335). Perhatian
terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan
kebutuhannya. Sedang motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan
aktivitas seseorang. Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari
dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni datang dari orang lain.
Belajar
hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri. John Dewey misalnya
mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa
untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru
sebagai pembimbing dan pengarah.
Perkembangan
kognitif anak sekolah dasar berada dalam taraf berfikir intuitif dan konkret
operasional. Kemampuan berfikir formal dengan menggunakan gagasan-gagasan
abstrak baru tercapai pada akhir masa sekolah dasar (usia 12 tahun ke atas).
Atas dasar ini, perkembangan belajar anak sekolah dasar dimulai dengan belajar
secara intuitif, kemudian belajar hal-hal secara konkret, dan selanjutnya
belajar abstrak pada kelas-kelas akhir sekolah dasar.
Dalam
belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekedar mengamati secara
langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan
bertanggung jawab terhadap hasilnya. Pentingnya keterlibtan langsung dalam
belajar dikemukakan Jhon Dewey dengan “Learning By Doing”. Belajar
sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung. Belajar harus dilakukan siswa
secara aktif, baik individual maupun kelompok, dengan cara memecahkan masalah (problem
solving). Guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator.
Siswa
akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang
baik. Hasil yang baik merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik
bagi usaha belajar selanjutnya. Namun dengan dorongan belajar itu menurut B.F.
Skinner tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan.
Atau dengan kata lain penguatan positif atau negatifdapat memperkuat belajar
(Gage dan Berliner, 1994:272).
Sebagai
pengetahuan, matematika mempunyai ciri-ciri khusus antara lain abstrak,
deduktif, konsisten, hierarkis, dan logis. Soedjadi (1999) menyatakan bahwa
keabstrakan matematika karena objek dasarnya abstrak, yaitu fakta, konsep,
operasi dan prinsip. Ciri keabstrakan matematika beserta ciri lainnya yang
tidak sederhana menyebabkan matematika tidak mudah untuk dipelajari, dan pada
akhirnya banyak siswa yang kurang tertarik terhadap matematika (masih lebih
untuk daripada membenci atau “alergi” terhadap matematika). Ini berarti perlu
ada “jembatan” yang dapat menghubungkan keilmuan matematika tetap terjaga dan
matematika lebih mudah dipahami.
Persoalan
mencari jembatan merupakan tantangan, yaitu tantangan pendidikan matematika
untuk mencari dan memilih model matematika yang menarik, mudah dipahami siswa,
menggugah semangat, menantang terlibat, dan pada akhirnya menjadikan siswa
cerdas matematika. Pencarian dan pemilihan model pembelajaran matematika perlu
berorientasi pada perkembangan mutakhir di dunia, dengan terus berusaha
memperpendek kesenjangan antara kemajuan di dunia dan keadaan nyata di
Indonesia. Perkembangan dan kemajuan pembelajaran matematika di dunia tidak
bisa diabaikan karena dapat menyebabkan kita semakin sulit mengejar kemajuan
negara lain.
Pembelajaran
kooperatif tipe STAD merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yang
bertujuan mendorong siswa berdiskusi, saling bantu menyelesaikan tugas,
menguasai dan pada akhirnya menerapkan keterampilan yang diberikan. Dengan
pembelajaran kooperati tipe STAD ini diharapkan anak tertarik, aktif dalam
mengikuti pelajaran dan terlibat dalam proses pembelajaran serta mengalami apa
yang dia pelajari., sehingga memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar
yang dapat menarik perhatian siswa, menimbulkan rasa senang, tidak cepat bosan
dalam mengikuti pelajaran.
2.
Hipotesis
Tindakan
Berdasarkan
kerangka teori dan kerangka berpikir di atas, dikemukakan hipotesis penelitian
sebagai berikut: “Dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V dalam materi perpangkatan dan
akar pangkat dua di SDN Jimamun Kabupaten Balangan”.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Desain Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan
menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan
kelas ini menekankan kepada kegiatan (tindakan) dengan menujicobakan suatu ide
ke dalam praktek atau situasi nyata dalam skala mikro, yang diharapkan kegiatan
tersebut mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus
dengan empat kali pertemuan. Tiap siklusnya dua kali pertemuan. Diharapkan
dalam dua siklus tersebut, hasil belajar siswa kelas V SDN Jimamun Kabupaten
Balangan dalam menyelesaikan soal-soal pada materi perpangkatan dan akar
pangkat dua dapat ditingkatkan.
Menurut
Arikunto (2007:74) setiap siklus pada penelitian tindakan terdiri dari
tahapan-tahapan, yaitu: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan
tindakan (acting), (3) pengamatan (observasi), (4) refleksi (reflecting).
1.
Perencanaan
a.
Mengkaji
silabus matematika untuk SD kelas V
b.
Membuat
skenario pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
STAD.
c.
Membuat
instrumen penelitian, tes awal dan tes akhir pembelajaran dan Lembar Kerja
Siswa (LKS).
d.
Membuat
lembar observasi aktivaitas guru dan siswa.
2.
Pelaksanaan
Pelaksanaan
penelitian ini direncanakan dalam 2 siklus, tiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Alokasi waktu
1 kali pertemuan 2 x 35 menit.
3.
Observasi
dan Evaluasi
Observasi
dilakukan untuk mengumpulkan data, dan evaluasi untuk melihat keberhasilan yang
dilakukan.
4.
Analisis
dan Refleksi
|
Perencanaan
|
|
Pelaksanaan
|
|
Pengamatan
|
|
SIKLUS
II
|
|
Pengamatan
|
|
Refleksi
|
|
Pelaksanaan
|
|
Perencanaan
|
|
Refleksi
|
|
SIKLUS
I
|
Gambar. 3.1 Bagan Desain Penelitian
B.
Setting
Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas V SDN Jimamun Kabupaten Balangan
dimana merupakan tempat peneliti mengajar sehingga
dapat memudahkan berkomunikasi dengan teman sejawat sebagai kolaborator. Adapun
jumlah siswa 16 orang yang terdiri dari 4 orang
laki-laki dan 12 orang perempuan.
C.
Faktor
yang diteliti
Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai dalam
penelitian ini, maka faktor yang diteliti meliputi:
1.
Faktor Siswa
Pada penelitian ini
faktor siswa yang diteliti meliputi sejauhmana siswa kelas V SDN Jimamun
Kabupaten Balangan menguasai pembelajaran perpangkatan dan akar pangkat dua
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
2.
Faktor Guru
Dalam hubungannya dengan
faktor guru, akan dilihat bagaimana materi pelajaran dipersiapkan dan teknik
pembelajaran yang diterapkan guru dalam mentransfer materi pelajaran perpangkatan
dan akar pangkat dua saat pembelajaran kooperatif tipe STAD.
D. Skenario Tindakan
Mengacu
pada Sukidin (2002) dan Arikunto (2006), penelitian ini dilakukan
tahapan-tahapan bersiklus sesuai dengan karakteristik penelitian tindakan
kelas. Adapun tahapan untuk siklus tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Perencanaan
Tahap awal pelaksanaan penelitian tindakan kelas adalah tahap
perencanaan. Pada tahap ini semua alat dan bahan-bahan serta dokumen-dokumen
yang diperlukan untuk pelaksanaan penelitian disiapkan. Adapun hal-hal yang
dilakukan pada tahap ini adalah sebagai
brikut :
a.
Menyiapkan
perangkat pembelajaran berupa (1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP); (2)
Lembar Kegiatan Siswa (LKS); (3) Tugas-tugas
b.
Menyiapkan
alat ukur (Instrumen) untuk menentukan keberhasilan pelaksanaan penelitian
kelas berupa : (1) Soal ulangan; (2) Lembar observasi
aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD.
2.
Pelaksanaan
Tindakan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah melaksanakan pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD sesuai
dengan perencanaan sebelumnya.
a.
Siklus I
1)
Pertemuan Ke
1 (2 x 35 menit)
a)
Kegiatan awal
(10 menit)
(1) Guru menginformasikan tujuan pembelajaran dan hasil
belajar yang akan dicapai oleh setiap siswa.
(2) Guru memotivasi siswa dan menginformasikan cara
belajar yang akan ditempuh (pembelajaran kooperatif tipe STAD.
b)
Kegiatan inti
(50 menit)
(1) Guru menyampaikan materi pelajaran dengan metode
ceramah dan tanya jawab mengenai perpangkatan dan akar pangkat dua.
(2) Guru memberikan tes awal setelah menyampaikan materi
pelajaran mengenai perpangkatan dan akar pangkat dua untuk mendapatkan skor
dasat atau skor awal sesuai tahapan dalam model pembelajaran kooperatif tipe
STAD.
(3) Guru menginformasikan pengelompokan siswa dimana
setiap kelompok terdiri dari 4 sampai dengan 5 siswa yang berkemampuan tinggi,
sedang, dan rendah.
(4) Guru memberikan tugas kelompok untuk dikerjakan oleh
anggota-anggota kelompok.
(5) Anggota yang sudah mengerti dapat menjelaskan kepada
anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
(6) Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan
guru bertindak sebagai fasilitator.
(7) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara
individual.
(8) Guru memberikan penghargaan kepada kelompok melalui
nilai penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan individual dari nilai
dasar ke nilai berikutnya setelah mereka melaui kerja kelompok.
c)
Kegiatan akhir
(10 menit)
(1) Guru bersama siswa menyimpulkan pelajaran.
(2) Guru memberikan refleksi dengan cara menunjuk dengan
cara menunjuk siswa secara acak untuk mengkomunikasikan pengalamannya selama
diskusi kelompok dan selam menyelesaikan kuis secara individual.
(3) Guru sebelum menutup
pelajaran memberikan nasehat atau pesan moral.
2)
Pertemuan Ke 2
(2 x 35 menit)
a)
Kegiatan awal
(10 menit)
(1) Guru memotivasi siswa dan menginformasikan cara
belajar yang akan ditempuh (pembelajaran kooperatif tipe STAD).
(2) Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran yang harus dicapai.
b)
Kegiatan inti
(50 menit)
(1) Membentuk kelompok yang aggotanya 4 atau 5 siswa
secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan
lain-lain).
(2) Guru menyajikan pelajaran sambil bertanya jawab,
kemudian membagikan tugas kelompok (LKS) untuk dikerjakan oleh anggota-anggota
kelompok.
(3) Anggota yang
sudah mengerti dapat menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota
dalam kelompok itu mengerti.
(4) Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan
guru bertindak sebagai fasilitator.
(5) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara
individual.
(6) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara
individual.
(7) Guru memberikan penghargaan kepada kelompok
c)
Kegiatan akhir
(10 menit)
(1) Guru bersama siswa menyimpulkan pelajaran.
(2) Guru melakukan refleksi pembelajaran
yang telah dilaksanakannya.
(3) Guru sebelum menutup
pelajaran memberikan nasehat atau pesan moral.
b.
Siklus II
1)
Pertemua ke 3
(2 x 35 menit)
a)
Kegiatan awal
(10 menit)
(1) Appersepsi: Mengingat kembali
pelajaran yang telah
lalu dan dihubungkan dengan
materi yang akan disampaikan.
(2) Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran yang harus dicapai.
b)
Kegiatan inti
(50 menit)
(1) Membentuk kelompok yang aggotanya 4 atau 5 siswa
secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan
lain-lain).
(2) Guru menyajikan pelajaran sambil bertanya jawab,
kemudian membagikan tugas kelompok (LKS) untuk dikerjakan oleh anggota-anggota
kelompok.
(3) Anggota yang sudah mengerti dapat menjelaskan kepada
anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
(4) Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan
guru bertindak sebagai fasilitator.
(5) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara
individual.
(6) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara
individual.
(7) Guru memberikan penghargaan kepada kelompok
c)
Kegiatan akhir
(10 menit)
(1) Guru bersama siswa menyimpulkan pelajaran.
(2) Guru melakukan refleksi pembelajaran
yang telah dilaksanakannya.
(3) Guru sebelum menutup
pelajaran memberikan nasehat atau pesan moral.
2)
Pertemua ke 4
(2 x 35 menit)
a)
Kegiatan awal
(10 menit)
(1) Appersepsi: Mengingat kembali
pelajaran yang telah
lalu dan dihubungkan dengan
materi yang akan disampaikan.
(2) Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran yang harus dicapai.
b)
Kegiatan inti
(50 menit)
(1) Membentuk kelompok yang aggotanya 4 atau 5 siswa
secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan
lain-lain).
(2) Guru menyajikan pelajaran sambil bertanya jawab,
kemudian membagikan tugas kelompok (LKS) untuk dikerjakan oleh anggota-anggota
kelompok.
(3) Anggota yang sudah mengerti dapat menjelaskan kepada
anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
(4) Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan
guru bertindak sebagai fasilitator.
(5) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara
individual.
(6) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara
individual.
(7) Guru memberikan penghargaan kepada kelompok
c.
Kegiatan akhir (10 menit)
(1) Guru bersama siswa menyimpulkan pelajaran.
(2) Guru melakukan refleksi pembelajaran
yang telah dilaksanakannya.
(3) Guru sebelum menutup
pelajaran memberikan nasehat atau pesan moral.
Skenario pembelajaran siklus II ini disusun
berdasarkan hasil refleksi siklus I. Hal-hal yang masih belum dikuasai pada
siklus I akan diperbaiki dalam penyusunan skenario siklus II.
3.
Observasi
dan Evaluasi
Observasi dan evaluasi dilakukan selama pelaksanaan tindakan dengan
menggunakan lembar observasi yang telah dibuat,
selanjutnya dilakukan evaluasi terhadap kegiatan yang dilaksanakan
dengan menggunakan instrumen tes hasil belajar yang telah disusun.
4.
Refleksi
Dalam tahap ini hasil yang diperoleh dalam tahap observasi dan evaluasi
dikumpulkan dan dianalisis. Dari hasil tersebut, guru dapat merefleksi dirinya
dengan melihat data hasil observasi, apakah kegiatan yang telah dilaksanakan
telah dapat meningkatkan kemampuan siswa memahami dan menguasai materi yang
telah disampaikan, serta terampil dalam menyelesaikan soal-soal tersebut.
Disamping data hasil observasi dan evaluasi, digunakan pula jurnal yang telah
dibuat guru pada saat guru selesai melaksanakan kegiatan pembelajaran. Dari
data jurnal ini guru bisa mempergunakan sebagai acuan untuk mengevaluasi
dirinya sendiri. Hasil analisa data yang dilaksanakan akan dipergunakan sebagai
acuan untuk melaksanakan kegiatan tindakan selanjutnya.
E. Data dan
Alat Penggali Data
1.
Sumber Data
Sumber data dalam PTK ini adalah siswa kelas V
SDN Jimamun Kabupaten Balangan pada semester 1 tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah
16 orang siswa.
2.
Jenis Data
Pada panelitian tindakan
kelas ini peneliti menggunakan 2 jenis data yaitu:
a. Data kualitatif
didapat dari hasil observasi yang dilakukan
pengamat, yaitu data tentang aktivitas guru dan siswa.
b. Data kuantitatif didapat
dari tes hasil belajar siswa.
3.
Teknik Pengambilan Data
a. Data diambil
dari lembar observasi, dan dari tes formatif diakhir siklus I dan II data
tersebut dianalisis.
b. Data tingkat pemahaman siswa hasil belajar
Matematika pada perpangkatan dan akar sederhana dengan dianalisis dengan teknik
prosentasi menggunakan rumus:
P (%) =
X 100 %
Keterangan
P =
Persentasi
ƒ =
Frekuensi
N
= Jumlah Siswa
Tahap analisa data adalah dengan
mengelompokkan siswa berdasarkan skor dengan menggunakan kualifikasi hasil
belajar.
Tabel 3.1 Kualifikasi hasil belajar siswa
menurut taraf penguasaan
|
No
|
Kualifikasi
|
Skor
|
|
1.
|
Baik sekali
|
86 – 100
|
|
2.
|
Baik
|
71 – 85
|
|
3.
|
Cukup
|
56 – 70
|
|
4.
|
Kurang
|
41 – 55
|
|
5.
|
Gagal
|
≤ 40
|
c. Data aktivitas siswa dan guru yang relevan dan
tidak relevan dengan kegiatan pembelajaran kooperatif tipe STAD dianalisis dengan
cara dihitung frekuensi dan prosentasinya, yaitu dengan rumus:
|
P ( % )
|
Jumlah frekuensi
aktivitas yang relevan
|
X 100 %
|
|
Jumlah seluruh
aktivitas
|
Data
aktivitas guru dan data aktivitas Siswa yang sudah diprosestasi, kemudian
diinterpretasi dengan klasifikasi seperti pada tabel 3.2 berikut:
Tabel 3.2
Klasifikasi Aktivitas Siswa, Aktivitas Guru
|
Skala
|
Kriteria
|
|
81% - 100%
|
Tinggi
|
|
61% - 80%
|
Cukup
|
|
41% - 60%
|
Kurang dari cukup
|
|
21% - 40%
|
Rendah
|
|
0% - 20%
|
Sangat rendah
|
F. Indikator
Keberhasilan
Ukuran yang
dijadikan indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:
a. Ketuntasan
belajar siswa secara individual, apabila seorang siswa tuntas belajarnya
mencapai nilai minimal 65.
b. Ketuntasan
belajar secara klasikal, suatu kelas telah tuntas belajar apabila apabila kelas
tersebut telah mencapai 88% dari jumlah siswa mencapai nilai 65.
Komentar
Posting Komentar