PTK MODEL STAD SDN JIMAMUN

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Matematika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang sudah berkembang pesat pada saat sekarang ini, baik materi maupun kegunaannya. Dengan menguasai pengetahuan Matematika khususnya siswa di sekolah Dasar, memungkinkan siswa akan lebih mudah dalam menerima pengetahuan ini. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang semakin pesat, baik langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan. Oleh karena itu mutu pendidikan harus ditingkatkan terutama ilmu ”berhitung” atau ”Matematika”, peranan Matematika dalam kehidupan telah membawa kehidupan manusia ke zaman teknologi modern.
Begitu pentingnya peranan Matematika terhadap masa depan bangsa, maka pemerintah telah berusaha untuk meningkatkan mutu pelajaran Matematika dengan berbagai upaya misalnya dengan pemberian alat peraga, buku paket, olympiade Matematika, serta penyempurnaan kurikulum. siswa sebagai individu yang potensial tidak dapat berkembang banyak tanpa bantuan dan bimbingan. Berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan maka perlu adanya perbaikan, pembaharuan, serta perubahan dalam segala aspek diantaranya kurikulum, sarana dan prasarana, guru, siswa serta metode dan model pembelajaran. Berbagai aspek yang berkaitan dengan pendidikan dasar diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, dimana di dalamnya mengatur tentang pendidikan dasar.
Dalam proses pendidikan yang berkualitas, diharapkan menghasilkan produk pendidikan yang bermutu, yang diantara karakteristik hasilnya bercirikan sebagai berikut:
1.         Peserta didik menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar (learning tasks) yang harus dikuasai sesuai dengan tujuan dan sasaran pendidikan.
2.         Hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik sehingga dengan belajar peserta didik bukan hanya mengetahui sesuatu melainkan terampil melakukan sesuatu.
3.         Hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan lingkungan khususnya lingkungan kerja (Taufik.2008). merujuk hal diatas perlunya pembelajaran diantaranya mata pelajaran matematika.
Dalam mencapai tingkat keberhasilan yang optimal dalam pembelajaran sangat dibutuhkan penerapan metode yang bervariasi. Hal ini di dasarkan oleh tingkat kematangan siswa secara individual berbeda-beda.
Sebagaimana kita ketahui sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihapal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan dan ceramah menjadi pilihan metode belajar.
Berbagai upaya telah dilaksanakan untuk memperbaiki pembelajaran baik proses maupun hasil, akan tetapi hasil dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran masih rendah, sebagaimana yang terjadi pada siswa SD Negeri  Jimamun Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan, hasil belajar siswa mata pelajaran Matematika pada Perpangkatan dan akar pangkat dua  44 %  masih di bawah Standar Ketuntasan Minimal (SKM) dan rata-rata kelas 59,7. Dari 16 orang siswa, hanya 9  orang yang dinyatakan tuntas.
Dari hasil pembelajaran yang telah dilakukan selama ini ternyata terungkap beberapa permasalahan yang terjadi yaitu:
1.         Siswa merasa bosan dengan pembelajaran yang dilakukan, karena proses pembelajaran lebih didominasi oleh guru, akibatnya siswa bersifat pasif.
2.         Metode dan teknik yang kurang tepat sehingga  kurang menarik bagi siswa.
Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, maka dikhawatirkan para siswa akan terus mengalami ketertinggalan. Merujuk pada hal-hal tersebut, maka guru harus berinisiatif mengubah dan menerapkan strategi pembelajaran, antara lain dengan menggunakan model pembelajaran.
Oleh karena itu untuk memberikan pengalaman baru bagi siswa dalam kegiatan belajar mengajar, maka penulis mencoba melaksanakan perbaikan pembelajaran  mata pelajaran Matematika dalam Perpangkatan dan akar pangkat dua dengan menggunakan Model Kooperatif tipe STAD. Dimana siswa bekerja sama dalam kelompok, dan setiap siswa dalam kelompok bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya. Anggota kelompok yang sudah mengerti dapat menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti. Sehingga pembelajaran ini dapat memicu keaktifan siswa, dan juga dapat menyenangkan bagi siswa.
Selain itu dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD diberikan penghargaan kelompok berdasarkan rata-rata nilai peningkatan yang diperoleh masing-masing kelompok, sehingga pembelajaran ini menarik bagi siswa.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merasa perlu melakukan penelitian tentang Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas V Dalam Perpangkatan Dan Akar Pangkat Dua Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD SDN Jimamun Kabupaten Balangan

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.        Bagaimana pelaksanaan pembelajaran perpangkatan dan akar pangkat dua melalui pendekatan kooperatif Tipe STAD pada siswa kelas V SDN Jimamun Kabupaten Balangan?
2.        Bagaimana peningkatan hasil belajar perpangkatan dan akar pangkat dua melalui pendekatan kooperatif Tepe STAD pada siswa kelas V SDN Jimamun Kabupaten Balangan?
3.        Bagaimanakah aktivitas guru dan siswa selama kegiatan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD?

C.      Rencana Pemecahan
Permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran pada materi perpangkatan dan akar pangkat dua di kelas V SDN Jimamun Kabupaten Balangan dapat dielemenir dengan merencanakan suatu tindakan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD,  dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Persiapan
a.    Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD.
b.    Menyiapkan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang memuat soal atau tugas.
c.    Menyiapkan alat-alat atau bahan-bahan yang diperlukan siswa.
d.   Menyiapkan alat ukur (instrumen) untuk menentukan keberhasilan pelaksanaan penelitian berupa : (1) Soal tes hasil belajar/formatif terhadap materi perpangkatan dan akar pangkat dua (2) Menyusun lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi proses kegiatan belajar mengajar menurut skenario pembelajaran yang diterapkan baik lembar observasi untuk guru maupun lembar observasi untuk murid.

2.    Pelaksanaan
a.    Menyampaikan tujuan pembelajaran dan hasil belajar yang akan dicapai oleh setiap siswa.
b.    Menjelaskan tata cara pembelajaran STAD
c.    Menjelaskan materi pelajaran dengan metode ceramah dan tanya jawab.
d.   Memberikan tes awal kepada setiap siswa secara individu untuk memperoleh nilai awal kemampuan siswa.
e.    Membagi kelompok yang anggotanya 4 orang secara hiterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan lain-lain).
f.     Memberikan tugas kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok.
g.    Anggota yang sudah mengerti dapat menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
h.    Mempresentasikan hasil diskusi kelompok.
i.      Memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
j.      memberikan penghargaan kepada kelompok melalui nilai penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan individual dari nilai dasar ke nilai berikutnya setelah mereka melaui kerja kelompok.
3.    Tindak lanjut
a.    Menyimpulkan penilaian proses dan pelaksanaan
b.    Mendiskusikan dengan teman sejawat permasalahan-permasalahan dalam pelaksanaan untuk langkah-langkah tindakan selanjutnya.

D.      Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam kegiatan penelitian ini dirancang bertujuan untuk :
a.       Meningkatkan motivasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.
b.      Meningkatan hasil belajar siswa dalam perpangkatan dan akar pangkat dua  dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas V SD Negeri Jimamun Kabupaten Balangan.
c.       Meningkatkan keaktifana siswa dalam menentukan perpangkatan dan akar pangkat dua.

2.      Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan berguna:
a.      Bagi Siswa
1)      Minat belajar siswa terhadap pembelajaran Matematika lebih tinggi dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe STAD.
2)      Hasil belajar lebih meningkat dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
3)      Siswa lebih aktif  dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
b.      Bagi Guru
Sebagai bahan masukan dalam upaya memilih strategi pembelajaran yang efektif untuk dijadikan solusi mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi.
c.       Bagi Kepala Sekolah
Sebagai informasi yang berharga guna menentukan alternatif dalam memecahkan masalah pembelajaran dan mendorong aktivitas siswa guna meningkatkan mutu sekolah yang bersangkutan.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.      Kerangka Teori
1.      Pentingnya Memahami Karakteristik Anak Didik
Sebelum seorang pendidik menentukan langkah bagaimana menangani anak didik dalam proses belajar mengajar agar terciptanya suatu tujuan belajar yang benar maka sebelumnya perlu kiranya seorang pendidik tersebut mengetahui dan memahami karakteristik anak didik.
Seorang guru maupun pendidik setelah mengetahui karakteristik dari anak didiknya diharapkan dapat melakukan suatu tindakan-tindakan untuk menciptakan proses belajar yang kondusif bagi siswa tersebut. Jika disuatu ketika seorang pendidik dihadapkan pada permasalahan belajar anak didiknya maka pendidik tersebut dapat mengambil langkah-langkah penyelesaian dengan mengacu pada karakteristik anak didiknya yang telah dipelajari sebelumnya.

2.      Karakteristik Anak Didik Sekolah Dasar
Menurut Nasution dalam buku Syaiful Bahri Djamarah (2002:89) usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira sebelas atau dua belas tahun. Pada usia ini anak pertama kali mengalami pendidikan formal dan bisa juga dikatakan bahwa usia ini adalah merupakan usia yang matang untuk anak menerima pelajaran-pelajaran yang merupakan tingkat pertama dalam pendidikan untuk anak dikemudian hari meniti jenjang pendidikan tingkat selanjutnya. Seperti yang kita ketahui bahwa diusia kanak-kanak merupakan basic awal dalam menentukan perkembangan anak dimasa-masa yang akan datang. Oleh karena itu kita sebagai seorang pendidik diharapkan dapat memberikan lingkungan yang baik dimana dapat membantu anak didik dalam berkembang optimal dan dalam menjalani proses belajar.
Masa sekolah dasar menurut Suryobroto seperti dikutif  oleh Syaiful Bahri (2002:90) dapat diperinci menjadi menjadi dua fase:            (a) Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar, kira-kira umur 6 atau 7 tahun sampai umur 9 atau 10 tahun dan (b) Masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar, kira-kira umur 9 atau 10 tahun sampai kira-kira umur 12 atau 13 tahun.
a.      Masa Kelas-kelas Rendah Sekolah Dasar
Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini antara lain adalah seperti yang disebutkan dibawah ini:
1)   Adanya korelasi positif yang sangat tinggiantara keadaan kesehatan pertumbuhan jasmani dengan prestasi sekolah.
2)   Adanya sikap yang cenderung untuk mematuhi peraturan-peraturan permainan yang tradisional.
3)   Ada kecendrungan memuji diri sendiri.
4)   Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain kalau hal itu dirasanya menguntungkan untuk meremehkan anak lain.
5)   Kalau tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggapnya tidak penting.
6)   Pada masa ini (terutama pada umur 6-8) anak menghendaki nilai  (angka rapor) yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.
b.      Masa Kelas-kelas Tinggi Sekolah Dasar
Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini adalah sebagai berikut:
1)      Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret, hal ini menimbulkan adanya kecendrungan untuk membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang praktis.
2)      Amat realistic, ingin tahu dan ingin belajar.
3)      Menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, yang oleh para ahli ditafsirkan sebagai mulai menonjolkan faktor-faktor.
4)      Sampai kira-kira umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang-orang dewasa lainnya.
5)      Anak-anak pada masa usia ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk dapat bermain bersama-sama. Didalam permainan ini biasanya anak tidak lagi terikat pada aturan permainan tradisional, mereka membuat aturan sendiri.

3.      Karakteristik belajar siswa
a.      Pengertian Belajar
James O.Whittaker, merumuskan belajar sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
Cronbach berpendapat bahwa learning is shown by change in behaviour as a result of experience. Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Slameto juga merumuskan pengertian tentang belajar. Menurutnya belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar yang dikemukakan di atas dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Gerak raga yang ditunjukkan harus sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan perubahan. Tentu saja perubahan yang didapatkan itu bukan perubahan fisik, tetapi perubahan jiwa dengan sebab masuknya kesan-kesan baru. Perubahan sebagai hasil dari dari proses belajar adalah perubahan jiwa yang mempengaruhi tingkah laku seseorang.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.




b.      Ciri-Ciri Belajar
Pada hakikatnya belajar adalah perubahan tingkah laku, sehingga ada beberapa perubahan tertentu yang dimasukkan kedalam ciri-ciri belajar.
1)      Perubahan yang terjadi secara sadar
Individu yang belajar menyadari terjadinnya perubahan itu atau sekurang-kurangnya individu merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.
2)      Perubahan dalam belajar bersifat fungsional
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan atau proses belajar berikutnya.
3)      Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu selalu bertambah dan tertuju untuk memperoleh suatu yang lebih baik dari sebalumnya. Dengan demikian, makin banyak usaha belajar itu dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu sendiri.
4)      Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Perubahan yang bersifat sementara (temporer) yang terjadi hanya untuk beberapa saat saja tidak dapat digolongkan sebagai perubahan dalam pengertian belajar. Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen.
5)      Perubahan dalam belajar bertujuan atau berarah
Perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai, perubahan belajar terarah pada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari.
6)      Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan, keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya.

4.      Pembelajaran Matematika di SD
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit.  Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama.
Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian.
Banyak pakar matematika percaya bahwa orang belajar matematika hanya akan berhasil dengan baik jika disertai dengan mengerjakan soal-soal. Pendapat demikian sesuai dengan teori konstruktivisme. Menurut pandangan konstruktivisme yang dinyatakan oleh Glasersfeld bahwa siswa membangun pengetahuannya sendiri. Mereka tidak hanya menangkap dan memantulkan kembali apa yang diceritakan pada mereka atau apa yang mereka baca. Siswa berusaha menemukan arti dan akan mencari keteraturan dan kecendrungan dari gejala-gejala alam pada saat informasi yang lengkap dan penuh tersedia.
Berdasarkan hal diatas dipercaya bahwa pembelajaran hanya akan berhasil jika siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran itu. Untuk pembelajaran matematika, keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dapat dibentuk pemusatan-pemusatan perhatian terhadap apa yang dijelaskan guru, yang disertai dengan perenungan serta penerapan dalam bentuk penyelesaian soal-soal.
Pembelajaran yang menyenangkan merupakan dambaan dari setiap peserta didik. Karena proses belajar yang menyenangkan bisa meningkatkan motivasi belajar yang tinggi bagi siswa guna menghasilkan produk belajar yang berkualitas. Untuk mencapai keberhasilan proses belajar, faktor motivasi merupakan kunci utama. Seorang guru harus mengetahui secara pasti mengapa seorang siswa memiliki berbagai macam motif dalam belajar. Ada empat katagori yang perlu diketahui oleh seorang guru yang baik terkait dengan motivasi “mengapa siswa belajar”, yaitu (1) motivasi intrinsik (siswa belajar karena tertarik dengan tugas-tugas yang diberikan), (2) motivasi instrumental (siswa belajar karena akan menerima konsekuensi: reward atau punishment), (3) motivasi sosial (siswa belajar karena ide dan gagasannya ingin dihargai), dan (4) motivasi prestasi (siswa belajar karena ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa dia mampu melakukan tugas yang diberikan oleh gurunya).
Mata pelajaran matematika SD bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
a.       Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.
b.      Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan  matematika.
c.       Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
d.      Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
e.       Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran Matematika di SD ditempuh berbagai pendekatan seperti pendekatan lingkungan, pendekatan konsep, pendekatan pemecahan masalah, pendekatan keterampilan proses, pendekatan deduktif/induktif, pendekatan inkueri, dan pendekatan belajar tuntas. Sedangkan metode pembelajaran yang dapat digunakan di SD, diantaranya penugasan, diskusi, tanya jawab, latihan, ceramah, simulasi, demonstrasi dan eksprimen. Salah satu model yang dikembangkan pakar pendidik untuk menerapkan pendekatan-pendekatan dan metode-metode di atas adalah model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning).
Untuk melaksanakan pembelajaran kooperatif di sekolah dasar               (Ellisa 2003) menegaskan bahwa guru harus memperhatikan tingkat perkembangan kognitif siswa. Penyesuaian tingkat perkembangan kognitif siswa sekolah dasar antara lain meliputi pemilihan media, strategi, dan setting kelas dalam pembelajaran kooperatif di tingkat dasar. Media yang digunakan harus menarik sehingga dapat lebih memotivasi siswa dalam proses pembelajaran. Strategi yang digunakan dapat berupa permainan-permainan dengan aturan-aturan yang mudah dipahami dan mudah dilaksanakan. Sedangkan setting kelas yang digunakan tidak boleh menyulitkan guru dalam memantau mobilitas siswa tingkat dasar yang relatif tinggi. Hal ini dimaksudkan agar tujuan pembelajaran yang ingin di capai benar-benar diraih.

5.      Konsep Perpangkatan dan akar Pangkat dua dalam Pembelajaran Matematika di SD



Perhatikan gambar di samping.
Sedang bermain apakah mereka?
Berapa banyak petak kecil pada papan catur?

a.        Pangkat Dua Suatu Bilangan
Papan catur mempunyai 8 X 8 petak kecil
8 X 8 dapat ditulis 82 dan dibaca depalan pangkat dua atau delapan kuadrat








Tabel Bilangna Kuadrat
12    =  1
112  =  121 
22    =  4
122  =  144
32    =  9
132  =  169
42    =  16
142  =  196
52    =  25
152  =  225
62    =  36
162  =  256
72    =  49
172  =  289
82    =  64
182  =  324
92    =  81
192  =  361
102  =  100
202  =  400

Ada sifat khusus untuk kuadrat bilangan dengan satuan 5
252  =  6 25                             752  =  56 25
                           2 X (2+1)                                           7 X (7 + 1)  
                                          1252  =  156 25
                                                                         12 X (12 + 1)           

b.        Akar Pangkat Dua
Akar pangkat dua merupakan kebalikan dari pangkat dua (akar kuadrat) dilambangkan dengan tanda 
82 = 64
berarti
 = 8

  = 8  dibaca akar pangkat dua dari enam puluh empat sama dengan
              delapan atau akar kuadrat dari enam puluh empat sama dengan
              delapan.
    Akar kuadrat suatu bilangan dapat dicari dengan cara seperti berikut
 = ….

1)   Pisahkan dua angka disebelah kanan dengan tanda titik menjadi 6.25
2)   Carilah akar terbesar dari bilangan di sebelah kiri titik (6) yaitu 2
3)   22 = 4, angka 4 ditulis dibawah angka 6 kemudian dikurangkan, yaitu 6 - 4 = 2
25

 
     2 x 2    =    4       -
                       2 25
    4n x n
   45 x 5  =      ­­­2 25   -
                           0

4)   Turunkan angka 25 melengkapi sisa 2 menjadi 2.25
5)   Hasil penarikan akar tadi ( 2 ) kalikan dengan 2 menjadi 4.
6)   Carilah bilangan n yang memenuhi 4n x n sehingga hasil kalinya 225  atau akar terbesar dibawah 225
Pada contoh nilai n yang sesuai yaitu 5 sehingga  45 x 5 = 225
7)   Angka 5 ini diletakkan melengkapi 2 hasil penarikan akar tadi menjadi 25
8)   Oleh karena 225 – 225 = 0 maka 25 merupakan hasil akhir penarikan akar kuadrat. Bila hasil pengurangannya belum nol maka dilakukan penurunan angka berikutnya seperti langkah d dan e. jadi  = 25

6.      Pengukuran dan Penilaian Hasil Belajar Matematika
Penilaian merupakan salah satu sub sistem yang penting dalam setiap sistem pendidikan karena mencerminkan perkembangan atau kemajuan hasil pendidikan dari satu waktu ke waktu lain. Disamping itu, berdasarkan penilaian, tingkat pencapaian prestasi pendidikan antara satu sekolah dengan sekolah lain atau satu wilayah dengan wilayah lain dapat dibandingkan.
Dalam membahas masalah penilaian di bidang pendidikan, ada tiga istilah yang penting dipakai yaitu, pengukuran, penilaian dan pengambilan keputusan / kebijakan. Ketiga istilah itu memiliki arti yang sangat berbeda karena tingkat penggunaan yang berbeda. Pengukuran adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan informasi atau data secara kuantitatif, sedangkan penilaian adalah kegiatan untuk mengetahui apakah suatu program telah berhasil dan efsien. Pengambilan keputusan atau kebijakan adalah tindakan yang diambil oleh sesorang atau informasi yang diperoleh.
Suryabrata (1997:4), memberikan pengertian tes sebagai berikut : tes adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan atau perintah-perintah yang harus dijalankan, yang mendasarkan harus bagaimana testee pertanyaan-pertanyaan atau melakukan perintah-perintah itu menyelidiki mengambil kesimpulan dengan cara membandingkan dengan standar atau testee yang lain.
Berdasarkan fungsinya, tes dapat dibedakan dalam empat jenis yaitu:
a.       tes penempatan
b.      tes formatif
c.       tes diagnostik
d.      tes sumatif.

7.      Model Pembelajaran Kooperatif
a.      Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Beberapa tipe pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain Slavin (1985), Lazarowitz (1988), atau Sharan (1990) adalah tipe Jigsaw, tipe NHT (Number Heads Together), tipe TAI (Team Assited Individualization), dan tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions). Dalam penelitian ini, akan dipilih pembelajaran kooperatif tipe STAD. Alasan dipilih pembelajaran kooperatif tipe STAD karena pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Selain itu, dapat digunakan untuk memberikan pemahaman konsep materi yang sulit kepada siswa dimana materi tersebut telah dipersiapkan oleh guru melalui lembar kerja atau perangkat pembelajaran yang lain. Pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan oleh Slavin dkk. Langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut.
1)        Guru menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. Guru dapat menggunakan berbagai pilihan dalam menyampaikan materi pembelajaran ini kepada siswa. Misal, antara lain dengan metode penemuan terbimbing atau metode ceramah. Langkah ini tidak harus dilakukan dalam satu kali pertemuan, tetapi dapat lebih dari satu.
2)        Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu sehingga akan diperoleh nilai awal kemampuan siswa.
3)        Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 anggota, dimana anggota kelompok mempunyai kemampuan akademik yang berbeda-beda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin, anggota kelompok  berasal dari budaya atau suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
4)        Guru memberikan tugas kepada kelompok berkaitan dengan materi yang telah diberikan, mendiskusikannya secara bersama-sama, saling membantu antaranggota lain, serta membahas jawaban tugas yang diberikan guru. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa setiap kelompok dapat menguasai konsep dan materi. Bahan tugas untuk kelompok dipersiapkan oleh guru agar kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai.
5)        Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu.
6)        Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
7)        Guru memberi penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari nilai awal ke nilai kuis berikutnya.

b.      Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Beberapa tipe pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain Slavin (1985), Lazarowitz (1988), atau Sharan (1990) adalah tipe Jigsaw, tipe NHT (Number Heads Together), tipe TAI (Team Assited Individualization), dan tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions). Dalam penelitian ini, akan dipilih pembelajaran kooperatif tipe STAD. Alasan dipilih pembelajaran kooperatif tipe STAD karena pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Selain itu, dapat digunakan untuk memberikan pemahaman konsep materi yang sulit kepada siswa dimana materi tersebut telah dipersiapkan oleh guru melalui lembar kerja atau perangkat pembelajaran yang lain. Pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan oleh Slavin dkk. Langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut.
1)        Guru menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. Guru dapat menggunakan berbagai pilihan dalam menyampaikan materi pembelajaran ini kepada siswa. Misal, antara lain dengan metode penemuan terbimbing atau metode ceramah. Langkah ini tidak harus dilakukan dalam satu kali pertemuan, tetapi dapat lebih dari satu.
2)        Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu sehingga akan diperoleh nilai awal kemampuan siswa.
3)        Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 anggota, dimana anggota kelompok mempunyai kemampuan akademik yang berbeda-beda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin, anggota kelompok  berasal dari budaya atau suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
4)        Guru memberikan tugas kepada kelompok berkaitan dengan materi yang telah diberikan, mendiskusikannya secara bersama-sama, saling membantu antaranggota lain, serta membahas jawaban tugas yang diberikan guru. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa setiap kelompok dapat menguasai konsep dan materi. Bahan tugas untuk kelompok dipersiapkan oleh guru agar kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai.
5)        Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu.
6)        Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
7)        Guru memberi penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari nilai awal ke nilai kuis berikutnya.
c.       Pembentukan dan Penghargaan Kelompok
Salah satu cara pembentukan kelompok berdasarkan kemampuan hasil nilai siswa adalah seperti berikut ini.

Kemampuan
No
Nama
Rangking
Kelompok
Tinggi
1
Rahmidayani
1
A
2
Abdul Rasyad
2
B
3
Rifa Nurahmi
3
C
4
Nadia Lestari
4
D
Sedang
5
Siti Aisyah
5
D
6
M. Hanapi
6
C
7
Rahmawati
7
B
8
Siti Patimah
8
A
9
Supi Hadi
9
A
10
Halida Pitriani
10
B
11
A, Ibrahim
11
C
12
Patimatul Aulia
12
D
Rendah
13
Rika Rosalita
13
D
14
Salamiah
14
C
15
Mildawati
15
B
16
Jarkiah
16
A

Kelompok A Terdiri dari Rahmidayani, Siti Patimah, Supi Hadi, dan Jarkiah. Kelompok B terdiri dari Abdul Rasyad, Rahmawati, Halida Pitriani, dan Mildawati. Kelompok C terdiri dari Rifa Nurahmi, M. Hanapi, A. Ibrahim, dan Salamiah. Kelompok D terdiri dari Nadia Lestari, Siti Aisyah, Patimatul Aulia, dan Rika Rosalita.
Menurut Slavin (1995), guru memberikan penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar dari nilai dasar (awal) ke nilai kuis/tes setelah siswa bekerja dalam kelompok. Cara-cara penentuan nilai penghargaan kepada kelompok dijelaskan sebagai berikut.
Langkah-langkah memberi penghargaan kelompok:
(1)   Menentukan nilai dasar (awal) masing-masing siswa. Nilai dasar (awal) dapat berupa nilai tes/kuis awal atau menggunakan nilai ulangan sebelumnya;
(2)   Menentukan nilai tes/kuis yang telah dilaksanakan setelah siswa bekerja dalam kelompok, misal nilai kuis I, nilai kuis II, atau rata-rata nilai kuis I dan kuis II kepada setiap siswa, yang kita sebut dengan nilai kuis terkini;
(3)   Menentukan nilai peningkatan hasil belajar yang besarnya ditentukan berdasarkan selisih nilai kuis terkini dan nilai dasar (awal) masing-masing siswa dengan menggunakan kriteria berikut ini.

Kriteria
Nilai Peningkatan
Nilai kuis/tes terkini turun lebih dari 10 poin di bawah nilai awal
5
Nilai kuis/tes terkini turun 1 sampai dengan 10 poin di bawah nilai awal
10
Nilai kuis/tes terkini sama dengan nilai awal sampai dengan 10 di atas nilai awal
20
Nilai kuis/tes terkini lebih dari 10 di atas nilai awal
30

Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rata-rata nilai peningkatan yang diperoleh masing-masing kelompok dengan memberikan predikat cukup, baik, sangat baik, dan sempurna
Kriteria untuk status kelompok (Muslimin dkk, 2000):
1)      Cukup, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok kurang dari 15 (rata-rata nilai peningkatan kelompok < 15)
2)      Baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok antara 15 dan 20 (15 < rata-rata nilai peningkatan kelompok < 20)
3)      Sangat baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok antara 20 dan 25 (20 < rata-rata nilai peningkatan kelompok < 25)
4)      Sempurna, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok lebih atau sama dengan 25 (rata-rata nilai peningkatan kelompok ≥ 25).
Contoh proses penentuan penghargaan kelompok
Kelompok/
No
Nama Siswa
Tes Awal
Nilai Kuis I
Nilai Kuis II
Rata-Rata Nilai Kuis I dan
Nilai Kuis II
Nilai Peningkatan
Nilai Penghargaan Kelompok
I







1
Rahmidayani
96
97
96
96
20
25
2
Siti Patimah
76
100
96
98
30
Sempurna
3
Supi Hadi
88
95
94
94
20

4
Jarkiah
45
72
62
67
30


100
Rata-rata
= 100:4
= 25

Penghargaan Kelompok I adalah sempurna
II







1
Abdul Rasyad
100
96
94
92
10
20
2
Rahmawati
73
94
50
72
10
Sangat baik
3
Halida Pitriani
71
83
96
89
30

4
Mildawati
40
80
85
82
30


80
Rata-rata
= 80:4
= 20

Penghargaan Kelompok II adalah sangat baik

Keterangan:
Nilai dasar (awal) = nilai tes awal
Nilai kuis/tes terkini = rata-rata nilai kuis I dan kuis II
Nilai penghargaan kelompok = rata-rata nilai peningkatan di kelompok

B.       Kerangka Berpikir dan Hipotesis
1.      Kerangka Berpikir
Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage dan Berliner, 1984:335). Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Sedang motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni datang dari orang lain.
Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri. John Dewey misalnya mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sebagai pembimbing dan pengarah.
Perkembangan kognitif anak sekolah dasar berada dalam taraf berfikir intuitif dan konkret operasional. Kemampuan berfikir formal dengan menggunakan gagasan-gagasan abstrak baru tercapai pada akhir masa sekolah dasar (usia 12 tahun ke atas). Atas dasar ini, perkembangan belajar anak sekolah dasar dimulai dengan belajar secara intuitif, kemudian belajar hal-hal secara konkret, dan selanjutnya belajar abstrak pada kelas-kelas akhir sekolah dasar. 
Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekedar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Pentingnya keterlibtan langsung dalam belajar dikemukakan Jhon Dewey dengan “Learning By Doing”. Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung. Belajar harus dilakukan siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok, dengan cara memecahkan masalah (problem solving). Guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator.
Siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil yang baik merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namun dengan dorongan belajar itu menurut B.F. Skinner tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan. Atau dengan kata lain penguatan positif atau negatifdapat memperkuat belajar (Gage dan Berliner, 1994:272).
Sebagai pengetahuan, matematika mempunyai ciri-ciri khusus antara lain abstrak, deduktif, konsisten, hierarkis, dan logis. Soedjadi (1999) menyatakan bahwa keabstrakan matematika karena objek dasarnya abstrak, yaitu fakta, konsep, operasi dan prinsip. Ciri keabstrakan matematika beserta ciri lainnya yang tidak sederhana menyebabkan matematika tidak mudah untuk dipelajari, dan pada akhirnya banyak siswa yang kurang tertarik terhadap matematika (masih lebih untuk daripada membenci atau “alergi” terhadap matematika). Ini berarti perlu ada “jembatan” yang dapat menghubungkan keilmuan matematika tetap terjaga dan matematika lebih mudah dipahami.
Persoalan mencari jembatan merupakan tantangan, yaitu tantangan pendidikan matematika untuk mencari dan memilih model matematika yang menarik, mudah dipahami siswa, menggugah semangat, menantang terlibat, dan pada akhirnya menjadikan siswa cerdas matematika. Pencarian dan pemilihan model pembelajaran matematika perlu berorientasi pada perkembangan mutakhir di dunia, dengan terus berusaha memperpendek kesenjangan antara kemajuan di dunia dan keadaan nyata di Indonesia. Perkembangan dan kemajuan pembelajaran matematika di dunia tidak bisa diabaikan karena dapat menyebabkan kita semakin sulit mengejar kemajuan negara lain.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yang bertujuan mendorong siswa berdiskusi, saling bantu menyelesaikan tugas, menguasai dan pada akhirnya menerapkan keterampilan yang diberikan. Dengan pembelajaran kooperati tipe STAD ini diharapkan anak tertarik, aktif dalam mengikuti pelajaran dan terlibat dalam proses pembelajaran serta mengalami apa yang dia pelajari., sehingga memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar yang dapat menarik perhatian siswa, menimbulkan rasa senang, tidak cepat bosan dalam mengikuti pelajaran.
2.      Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teori dan kerangka berpikir di atas, dikemukakan hipotesis penelitian sebagai berikut: “Dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V dalam materi perpangkatan dan akar pangkat dua di SDN Jimamun Kabupaten Balangan”.


BAB  III
METODOLOGI PENELITIAN
A.      Desain Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas ini menekankan kepada kegiatan (tindakan) dengan menujicobakan suatu ide ke dalam praktek atau situasi nyata dalam skala mikro, yang diharapkan kegiatan tersebut mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dengan empat kali pertemuan. Tiap siklusnya dua kali pertemuan. Diharapkan dalam dua siklus tersebut, hasil belajar siswa kelas V SDN Jimamun Kabupaten Balangan dalam menyelesaikan soal-soal pada materi perpangkatan dan akar pangkat dua dapat ditingkatkan.
Menurut Arikunto (2007:74) setiap siklus pada penelitian tindakan terdiri dari tahapan-tahapan, yaitu: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan tindakan (acting), (3) pengamatan (observasi), (4) refleksi (reflecting).

1.         Perencanaan
a.    Mengkaji silabus matematika untuk SD kelas V
b.    Membuat skenario pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
c.    Membuat instrumen penelitian, tes awal dan tes akhir pembelajaran dan Lembar Kerja Siswa (LKS).
d.   Membuat lembar observasi aktivaitas guru dan siswa.

2.      Pelaksanaan
Pelaksanaan penelitian ini direncanakan dalam 2 siklus, tiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Alokasi waktu 1 kali pertemuan 2 x 35 menit.
3.      Observasi dan Evaluasi
Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data, dan evaluasi untuk melihat keberhasilan yang dilakukan.
4.      Analisis dan Refleksi
Perencanaan
Analisis dilakukan untuk mendeskipsikan temuan data di lapangan, dan refleksi dilakukan untuk mengkaji, dan memahami kelebihan dan kelemahan tindakan yang dilaksanakan guna perbaikan untuk pertemuan berikutnya.
Pelaksanaan
Pengamatan
SIKLUS II
Pengamatan
Refleksi
Pelaksanaan
Perencanaan
Refleksi
SIKLUS I
 









     


Gambar. 3.1 Bagan Desain Penelitian

B.       Setting Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas V SDN Jimamun Kabupaten Balangan dimana  merupakan tempat peneliti mengajar sehingga dapat memudahkan berkomunikasi dengan teman sejawat sebagai kolaborator. Adapun jumlah siswa 16 orang yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 12 orang perempuan.

C.      Faktor yang diteliti
Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, maka faktor yang diteliti meliputi:
1.        Faktor Siswa
Pada penelitian ini faktor siswa yang diteliti meliputi sejauhmana siswa kelas V SDN Jimamun Kabupaten Balangan menguasai pembelajaran perpangkatan dan akar pangkat dua menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
2.      Faktor Guru
Dalam hubungannya dengan faktor guru, akan dilihat bagaimana materi pelajaran dipersiapkan dan teknik pembelajaran yang diterapkan guru dalam mentransfer materi pelajaran perpangkatan dan akar pangkat dua saat pembelajaran kooperatif tipe STAD.
D.      Skenario Tindakan
Mengacu pada Sukidin (2002) dan Arikunto (2006), penelitian ini dilakukan tahapan-tahapan bersiklus sesuai dengan karakteristik penelitian tindakan kelas. Adapun tahapan untuk siklus tersebut adalah sebagai berikut:

1.         Perencanaan
Tahap awal pelaksanaan penelitian tindakan kelas adalah tahap perencanaan. Pada tahap ini semua alat dan bahan-bahan serta dokumen-dokumen yang diperlukan untuk pelaksanaan penelitian disiapkan. Adapun hal-hal yang dilakukan pada tahap ini  adalah sebagai brikut :
a.         Menyiapkan perangkat pembelajaran berupa (1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP); (2) Lembar Kegiatan Siswa (LKS); (3) Tugas-tugas
b.        Menyiapkan alat ukur (Instrumen) untuk menentukan keberhasilan pelaksanaan penelitian kelas berupa  :  (1) Soal ulangan; (2) Lembar observasi aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD.

2.         Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan  model pembelajaran kooperatif tipe STAD  sesuai dengan perencanaan sebelumnya.
a.    Siklus I
1)      Pertemuan Ke 1  (2 x 35 menit)
a)      Kegiatan awal (10 menit)
(1)     Guru menginformasikan tujuan pembelajaran dan hasil belajar yang akan dicapai oleh setiap siswa.
(2)     Guru memotivasi siswa dan menginformasikan cara belajar yang akan ditempuh (pembelajaran kooperatif tipe STAD.
b)     Kegiatan inti (50 menit)
(1)     Guru menyampaikan materi pelajaran dengan metode ceramah dan tanya jawab mengenai perpangkatan dan akar pangkat dua.
(2)     Guru memberikan tes awal setelah menyampaikan materi pelajaran mengenai perpangkatan dan akar pangkat dua untuk mendapatkan skor dasat atau skor awal sesuai tahapan dalam model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
(3)     Guru menginformasikan pengelompokan siswa dimana setiap kelompok terdiri dari 4 sampai dengan 5 siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
(4)     Guru memberikan tugas kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok.
(5)     Anggota yang sudah mengerti dapat menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
(6)     Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan guru bertindak sebagai fasilitator.
(7)     Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
(8)     Guru memberikan penghargaan kepada kelompok melalui nilai penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan individual dari nilai dasar ke nilai berikutnya setelah mereka melaui kerja kelompok.
c)      Kegiatan akhir (10 menit)
(1)     Guru bersama siswa menyimpulkan pelajaran.
(2)     Guru memberikan refleksi dengan cara menunjuk dengan cara menunjuk siswa secara acak untuk mengkomunikasikan pengalamannya selama diskusi kelompok dan selam menyelesaikan kuis secara individual.
(3)     Guru sebelum menutup pelajaran memberikan nasehat atau pesan moral.
2)      Pertemuan Ke 2 (2 x 35 menit)
a)      Kegiatan awal (10 menit)
(1)     Guru memotivasi siswa dan menginformasikan cara belajar yang akan ditempuh (pembelajaran kooperatif tipe STAD).
(2)     Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
b)     Kegiatan inti (50 menit)
(1)     Membentuk kelompok yang aggotanya 4 atau 5 siswa secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan lain-lain).
(2)     Guru menyajikan pelajaran sambil bertanya jawab, kemudian membagikan tugas kelompok (LKS) untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok.
(3)      Anggota yang sudah mengerti dapat menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
(4)     Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan guru bertindak sebagai fasilitator.
(5)     Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
(6)     Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
(7) Guru memberikan penghargaan kepada kelompok
c)      Kegiatan akhir (10 menit)
(1)     Guru bersama siswa menyimpulkan pelajaran.
(2)     Guru melakukan refleksi pembelajaran yang telah dilaksanakannya.
(3)     Guru sebelum menutup pelajaran memberikan nasehat atau pesan moral.

b.   Siklus II
1)      Pertemua ke 3 (2 x 35 menit)
a)      Kegiatan awal (10 menit)
(1)     Appersepsi: Mengingat  kembali  pelajaran  yang  telah  lalu dan dihubungkan  dengan materi yang akan disampaikan.
(2)     Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
b)     Kegiatan inti (50 menit)
(1)     Membentuk kelompok yang aggotanya 4 atau 5 siswa secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan lain-lain).
(2)     Guru menyajikan pelajaran sambil bertanya jawab, kemudian membagikan tugas kelompok (LKS) untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok.
(3)     Anggota yang sudah mengerti dapat menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
(4)     Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan guru bertindak sebagai fasilitator.
(5)     Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
(6)     Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
(7)     Guru memberikan penghargaan kepada kelompok
c)      Kegiatan akhir (10 menit)
(1)     Guru bersama siswa menyimpulkan pelajaran.
(2)     Guru melakukan refleksi pembelajaran yang telah dilaksanakannya.
(3)     Guru sebelum menutup pelajaran memberikan nasehat atau pesan moral.

2)      Pertemua ke 4 (2 x 35 menit)
a)      Kegiatan awal (10 menit)
(1)     Appersepsi: Mengingat  kembali  pelajaran  yang  telah  lalu dan dihubungkan  dengan materi yang akan disampaikan.
(2)     Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
b)     Kegiatan inti (50 menit)
(1)     Membentuk kelompok yang aggotanya 4 atau 5 siswa secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan lain-lain).
(2)     Guru menyajikan pelajaran sambil bertanya jawab, kemudian membagikan tugas kelompok (LKS) untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok.
(3)     Anggota yang sudah mengerti dapat menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
(4)     Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan guru bertindak sebagai fasilitator.
(5)     Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
(6)     Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
(7)     Guru memberikan penghargaan kepada kelompok
c.        Kegiatan akhir (10 menit)
(1)     Guru bersama siswa menyimpulkan pelajaran.
(2)     Guru melakukan refleksi pembelajaran yang telah dilaksanakannya.
(3)     Guru sebelum menutup pelajaran memberikan nasehat atau pesan moral.
Skenario pembelajaran siklus II ini disusun berdasarkan hasil refleksi siklus I. Hal-hal yang masih belum dikuasai pada siklus I akan diperbaiki dalam penyusunan skenario siklus II.

3.         Observasi dan Evaluasi
Observasi dan evaluasi dilakukan selama pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat,  selanjutnya dilakukan evaluasi terhadap kegiatan yang dilaksanakan dengan menggunakan instrumen tes hasil belajar yang telah disusun.

4.         Refleksi
Dalam tahap ini hasil yang diperoleh dalam tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan dan dianalisis. Dari hasil tersebut, guru dapat merefleksi dirinya dengan melihat data hasil observasi, apakah kegiatan yang telah dilaksanakan telah dapat meningkatkan kemampuan siswa memahami dan menguasai materi yang telah disampaikan, serta terampil dalam menyelesaikan soal-soal tersebut. Disamping data hasil observasi dan evaluasi, digunakan pula jurnal yang telah dibuat guru pada saat guru selesai melaksanakan kegiatan pembelajaran. Dari data jurnal ini guru bisa mempergunakan sebagai acuan untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Hasil analisa data yang dilaksanakan akan dipergunakan sebagai acuan untuk melaksanakan kegiatan tindakan selanjutnya.

E.       Data dan Alat Penggali Data
1.      Sumber Data
Sumber data dalam PTK ini adalah siswa kelas V SDN Jimamun  Kabupaten Balangan pada semester 1 tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah  16  orang siswa.
2.      Jenis Data
Pada panelitian tindakan kelas ini peneliti menggunakan 2 jenis data yaitu:
a.       Data kualitatif didapat dari hasil observasi yang dilakukan pengamat, yaitu data tentang aktivitas guru dan siswa.
b.      Data kuantitatif didapat dari tes hasil belajar siswa.
3.      Teknik Pengambilan Data
a.       Data diambil dari lembar observasi, dan dari tes formatif diakhir siklus I dan II data tersebut dianalisis.
b.      Data tingkat pemahaman siswa hasil belajar Matematika pada perpangkatan dan akar sederhana dengan dianalisis dengan teknik prosentasi  menggunakan rumus:
P (%) =  X 100 %
Keterangan
P      =   Persentasi
ƒ      =   Frekuensi
N   =   Jumlah Siswa
Tahap analisa data adalah dengan mengelompokkan siswa berdasarkan skor dengan menggunakan kualifikasi hasil belajar.
Tabel 3.1 Kualifikasi hasil belajar siswa menurut taraf penguasaan
No
Kualifikasi
Skor
1.
Baik sekali
86 – 100
2.
Baik
71 – 85
3.
Cukup
56 – 70
4.
Kurang
41 – 55
5.
Gagal
≤ 40
         
c.       Data aktivitas siswa dan guru yang relevan dan tidak relevan dengan kegiatan pembelajaran kooperatif tipe STAD dianalisis dengan cara dihitung frekuensi dan prosentasinya, yaitu dengan rumus:
P ( % )
Jumlah frekuensi aktivitas yang relevan
X 100 %
Jumlah seluruh aktivitas

Data aktivitas guru dan data aktivitas Siswa yang sudah diprosestasi, kemudian diinterpretasi dengan klasifikasi seperti pada tabel 3.2 berikut:
Tabel 3.2 Klasifikasi Aktivitas Siswa, Aktivitas Guru
Skala
Kriteria
81% - 100%
Tinggi
61% - 80%
Cukup
41% - 60%
Kurang dari cukup
21% - 40%
Rendah
0% - 20%
Sangat rendah



F.       Indikator Keberhasilan
Ukuran yang dijadikan indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:
a.    Ketuntasan belajar siswa secara individual, apabila seorang siswa tuntas belajarnya mencapai nilai minimal 65.
b.    Ketuntasan belajar secara klasikal, suatu kelas telah tuntas belajar apabila apabila kelas tersebut telah mencapai 88% dari jumlah siswa mencapai nilai 65.























Komentar