A. Judul
Penelitian
UPAYA MENINGKATKAN
KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL WORD SQUARE
SISWA KELAS I SDN TELAGA
PURUN KABUPATEN BALANGAN
B. Bidang
Kajian : Bahasa Indonesia
C. Latar
Belakang
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, dalam mencapai
tujuan institusional yang dibebankan kepadanya, sekolah mengemban tugas yang
berat, khususnya sekolah dasar. Sekolah dasar adalah lembaga pendidikan pada
jenjang pendidikan dasar, yang berfungsi untuk meletakkan dasar bagi lulusannya
untuk mengembangkan diri ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Karena itu
sekolah dasar mengemban tugas dan peranan yang penting dan berat. Untuk
melaksanakan tugas dan peranannya tersebut sekolah dasar melaksanakan kegiatan
pokoknya yaitu kegiatan belajar mengajar.
Proses belajar mengajar merupakan satu
kesatuan dari dua kegiatan yang searah. Situasi yang memungkinkan terjadinya
kegiatan belajar mengajar yang optimal adalah satu situasi dimana siswa dapat
membentuk interaksi dengan guru dengan melibatkan komponen-komponen yang
membentuk interaksi belajar mengajar selain guru dan siswa, yaitu antara lain; (1) tujuan, (2) isi/bahan
pembelajaran, (3) metode, (4) media dan alat pembelajaran,
(5) penilaian hasil belajar.
Selain itu proses
belajar merupakan masalah yang kompleks sifatnya. Disebut
demikian karena proses belajar terjadi pada seseorang yang melakukan kegiatan
belajar tanpa bisa terlihat secara nyata.
Hal ini dinamakan proses intern dari dalam diri siswa yang belajar
sehingga akan mempengaruhi kemampuan dari tidak tahu menjadi mengerti dan
memahami materi pembelajaran.Secara umum proses belajar dimulai dengan dengan
keinginan siswa untuk mengetahui suatu hal didasarkan pada motivasi siswa.
Hal yang
menyebabkan tidak seimbangnya kemampuan kognitif siswa antara tingkat pemahaman
dengan tingkat penalaran adalah adanya metode pembelajaran yang kurang efektif
dan efisien, misalnya metode
pembelajaran yang monoton dari waktu ke waktu, guru yang bersifat otoriter dan
kurang bersahabat dengan siswa sehingga siswa merasa bosan dan kurang minat
belajar.
Maka untuk mengoptimalkan hasil belajar anak perlu diupayakan
berbagai kiat agar proses belajar mengajar terus-menerus dapat berlangsung
secara efektif dan efesien. Upaya
menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien pada dasarnya adalah
menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar yang
kondusif, sehingga tercipta
suasana pembelajaran yang dinamis dan menghasilkan siswa yang lebih
efektif dan lebih mudah menangkap materi
pebelajaran.yang pada gilirannya menghasilkan yang diharapkan. Dan salah satu kunci keberhasilan
pembelajaran ditentukan oleh ketetapan guru dalam memilih metode dan teknik
yang sesuai dan menarik bagi siswa serta sesuai dengan materi pembelajaran dan
mampu menciptakan situasi pembelajaran yang dinamis, sehingga siswa lebih aktif dan kreatif dalam mengikuti
pembelajaran yang diberikan guru. Kegiatan
belajar akan efektif apabila strategi
pembelajaran/perencanaan yang dipilih mampu mengoptimalkan kegiatan belajar
mengajar menjadi suatu proses komunikasi
dan proses komunikasi yang berlangsung akan sangat efektif bila sumber
informasi (guru) memberikan informasi melalui kegiatan yang menyenangkan dan
memberikan pengalaman langsung yang
mendorong siswa untuk memperjelas dan membangun sendiri konsep abstrak, serta dapat meningkatkan daya serap
atau retensi siswa.
Bahasa
Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan disemua jenjang pendidikan dari
pendidikan dasar dann menengah sehingga pendidikan tinggi memegang peranan
penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Namun kenyataan pengajaran
Bahasa Indonesia di sekolah dasar khusunya di kelas 1 dalam hal membaca
permulaan perlu perhatian sehingga ketika berada di kelas 2 masih dapat membaca
dengan baik. Oleh sebab itu, peranan guru kelas 1 memegang peranan penting
dalam pengajaran Bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain. Memiliki kemampuan
membaca akan memperoleh pengetahuan yang bermanfaat dan perkembangan daya
nalar, sosial, dan emosinya (Depdikbud, 1996:2).
Bahasa
memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional
siswa dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua mata
pelajaran. Menyadari peranan tersebut, pembelajaran diharapkan membantu siswa
mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan
perasaan berpartisipasi dalam masyarakat
yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan
kemampuan analisis dan imaginatif yang ada dalam dirinya (Depdiknas, 2006:317).
Pembelajaran
Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi
dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis,
serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesasteraan masyarakat
Indonesia (Depdiknas, 2006:231).
Dalam
kebijakan pendidikan kita, Bahasa Indonesia diajarkan sejak usia dini. Hal ini
disebabkan pengajaran tersebut dapat diberikan pengetahuan dasar berbahasa
Indonesia dengan baik dan benar. Salah aspek pengajaran Bahasa Indonesia di
sekolah dasar yang memegang peranan penting adalah membaca, khususnya membaca
permulaan. Membaca permulaan merupakan kegiatan awal untuk mengenal
simbol-simbol fonetis (Arifin, 2004:11). Pada sisi lain, pentinya pengajaran
membaca permulaan pada anak diberikan sejak usia dini juga bertolak dari
kenyataan masih terdapat sebelas juta anak Indonesia dengan usia 7-8 tahun
tercatat masih buta huruf (Pattiha, 2006).
Pada tingkat
membaca permulaan, pembaca belum memiliki keterampilan kemampuan membaca yang
sesungguhnya, tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh
keterampilan/kemampuan membaca. Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan
belajar mengenal bahasa tulis. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat
menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut, untuk memperoleh kemampuan
membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang
tulis, (b) penguasaan kosa kata untuk memberi arti, (c) memasukkan makna dalam
kemahiran bahasa.
Membaca
permulaan merupakan proses keterampilan dan kognitif. Proses keterampilan
menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang fonem, sedangkan proses
kognitif menunjuk pada penggunaan lambang-lambang fonem yang sudah dikenal
untuk memahami makna suatu kata atau kalimat.
Keterampilan
membaca harus segera dikuasai oleh oleh para siswa SD karena keterampilan ini
secara langsung berkaitan dengan seluruh proses belajar siswa di SD.
Keberhasilan belajar siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar di sekolah
sangat ditentukan oleh kemampuan penguasaan kemampuan membaca mereka. Siswa
yang tidak mampu membaca dengan baik akan mengalami kesulitan dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Siswa akan mengalami
kesulitan dalam menangkap dan memahami informasi yang disajikan dalam berbagai
buku pelajaran. Akibatnya kemajuan belajarnya juga lamban dibandingkan dengan
teman-temannya yang tidak mengalami kesulitan membaca.
Berdasarkan
hasil wawancara dengan beberapa guru kelas di SDN Telaga Purun diperoleh
informasi kondisi kemampuan membaca siswa dibeberapa tingkatan kelas.
Berdasarkan informasi tersebut diketahui masih ada beberapa siswa di kelas 4,
5, dan 6 (kelas tinggi) masih membaca dengan cara mengeja. Hal ini terlihat
pada nilai nilai siswa pada aspek membaca tidak tuntas. Padahal pada kelas
tersebut seharusnya kemampuan membaca siswa tidak lagi mengenal tulisan tapi
mulai memaknai dan memahami arti tulisan, sebagaimana dikatakan Slamet
(2007:42), bahwa siswa yang duduk di kelas 4 sampai dengan kelas 2 SMP membaca
tidak lagi pada pengenalan tulisan tetapi pemahaman. Mengetahui adanya kondisi
tersebut peneliti mencoba menelaah apa penyebab tidak tercapaiannya tujuan
pembelajaran membaca di SDN Telaga Purun. Dari hasil observasi diketahui bahwa
tidak tercapainya tujuan pembelajaran tersebut antara lain disebakan kurang
menariknya pembelajaran membaca permulaan di kelas rendah khususnya di kelas 1
dan minimnya kreativitas guru untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan.
Guru yang menggunakan metode yang kurang menarik minat siswa untuk belajar
membaca. Guru langsung mengajak siswa untuk membaca teks atau menulis di papan
tulis. Menurut pengamatan peneliti, metode pembelajaran seperti ini dianggap
kurang efektif dan mengakibatkan hasil belajar siswa kurang maksimal.
Dalam
pembelajaran membaca permulaan, ada beberapa metode yang dapat digunakan antara
lain: (1) SAS, (2) metode abjad dan bunyi, (3) metode kupas rangkai suku kata,
(4) metode kata lembaga, dan (5) metode global (Slamet, 2007:62). Berpijak dari
keberhasilan metode-metode tersebut peneliti mencoba menggunakan salah satu
bagian dari pendekatan kooperatif tipe word
square untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan di kelas 1 SDN Telaga
Purun. Teknik ini dapat digunakan dapat digunakan dalam pembelajaran membaca
permulaan karena dapat meningkatkan kemampuan motorik, integensi, dan
kemandirian anak.
Rendahnya kemampuan membaca permulaan di
kelas 1 SDN Telaga Purun
disebabkan:
a.
siswa kelas 1 sangat emerlukan latihan membaca permulaan,
b.
guru kurang mampu mengelola pembelajaran yang dapat membangkitkan minat
belajar membaca permulaan siswa kelas 1 SD, dan
c.
guru belum menguasai strategi pembelajaran yang inovatif untuk dapat
meningkatkan minat dan hasil belajar siswa.
Berdasarkan uraian di atas maka dirumuskan permasalahan yang
akan diteliti adalah “Apakah dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model word square dapat meningkatkan
kemampuan membaca permulaan
di kelas 1 SDN Telaga Purun Kabupaten
Balangan?”
2. Rencana
Pemecahan Masalah
Pelaksanaan penelitian ini direncanakan tindakan kelas dalam
beberapa kali pertemuan atau tatap muka di kelas 1 semester I pada SDN Telaga Purun dengan kegiatan belajar
mengajar.
a.
Menerapkan pembelajaran kooperatif model word square, siswa belajar membaca permulaan melalui
mengenal huruf, menggunakan huruf untuk membentuk kata dan membacanya.
b. Penelitian ini direncanakan dalam dua siklus, dan setiap siklus terdiri dua pertemuan.
c. Salah satu
alasan mengapa peneliti menggunakan pembelajaran kooperatif model word square untuk meningkatkan kemampuan membaca
permulaan di kelas 1, karena model ini dapat
meningkatkan kemampuan motorik, intelegensi, dan kemandirian siswa, sambil
belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.
Teknik ini dapat digunakan pada semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan
usia anak didik (Saputra, 2005:13).
Langkah-langkah
pembelajaran kooperatif tipe word square:
1) Guru menyampaikan
kompetensi yang ingin dicapai.
2) Guru membagikan lembar kegiatan yang berisi
kumpulan huruf.
3) Siswa menjawab pertanyaan kemudian mengarsir
huruf dalam kotak sesuai jawaban.
4)
Berikan poin setiap jawaban dalam
kotak.
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1.
untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas 1 menyangkut kemampuan mengenal huruf,
menggunakan huruf untuk membentuk kata dan membacanya,
2.
meningkatkan kemampuan guru mengelola proses pembelajaran sehingga minat
belajar siswa meningkat, khususnya pembelajaran membaca permulaan, dan
3.
menerapkan pembelajaran kooperatif model word square untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa di kelas 1
Adapun manfaat dari
Penelitian Tindakan Kelas ini adalah :
1.
Bagi siswa, hasil penelitian
diharapkan dapat bermanfaat dan mampu membaca untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia.
2.
Bagi guru/peneliti, hasil
penelitian diharapkan dapat menambah wawasan dan sebagai bahan kajian materi
dalam mengefektifkan dan mensukseskan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas.
3. Bagi kepala sekolah dapat
menambah serta meningkatkan kemampuannya dalam membimbing dan mensupervisi
guru-guru di sekolahnya agar lebih kreatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
G. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian
Belajar dan Hakekat Belajar.
Para pedagog dan psikolog
berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses perubahan perilaku. Prilaku
mengandung arti yang sangat luas meliputi pengetahuan kemampuan berpikir,
skill/keterampilan, penghargaan terhadap sesuatu, sikap, minat dan semacanya
(Salam, 2008:3).
Morgan (Purwanto,
1990:84) menjelaskan pengertian belajar
merupakan setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi
sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
Dari 2 definisi di atas dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1) Belajar adalah suatu proses
perubahan perilaku
2) Untuk dapat disebut belajar,
maka perubahan itu harus relatif mantap
Belajar lebih
membutuhkan kegiatan yang disadari, suatu aktivitas, latihan-latihan dan
konsentrasi dari orang yang bersangkutan, kegiatan belajar mempunyai tujuan
yang berada pada masa depan. Faktor-faktor yang sangat erat hubungannya dengan
proses belajar yaitu penyesuaian diri, mengingat, berpikir, latihan,
pengertian.
Belajar pada
hakekatnya adalah “perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah
berakhirnya malakukan aktivitas belajar (Djamarah dan Zain, 2006:38).
Perubahan tingkah
laku meliputi perubahan pengetahuan, daya nalar, skill dan sikap. Selama proses
belajar berlangsung akan terjadi interaksi antara individu yang belajar dengan
sumber belajar yang bisa menyampaikan sesuatu kepada individu yang belajar.
Belajar tidak mesti
harus memerlukan kehadiran seorang guru, banyak berbagai aktivitas yang
dilakukan seseorang tanpa melibatkan guru. Belajar itu bersifat individu yang
berhubungan dengan aspek khusus tertentu, misalnya kebiasaan membaca, waktu
belajar dan lain-lain.
Tidak semua
perubahan termasuk kategori belajar, misalnya perubahan fisik, gila dan
sebagainya.
2.
Hakekat Belajar Mengajar
Belajar mengajar merupakan
dua konsep yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.Belajar menunjukkan apa
yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek yang menerima pembelajaran(
sasaran didik), sedangkan mengajar menunjukkan apa yang harus dilakukan oleh
guru sebagai pengajar.
Dua konsep tesebut menjadi
terpadu didalam satu kegiatan manakala
terjadi interaksi antara guru-siswa, siswa-siswa pada saat pengajaran itu
berlangsung.Inilah makna belajar dan mengajar sebagai suatu proses .Interaksi
guru dan siswa sebagai makna utama proses pengajaran memegang peranan penting
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif.Mengingat kedudukan siswa yang
merupakan subjek sekaligus objek didalam pengajaran, maka inti dari proses
pembelajaran adalah kegiatan siswa dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran.
Belajar bukanlah kegiatan
menghapal dan bukan pula kegiatan mengingat.Belajar adalah merupakan proses
yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang.Perubahan sebagai
hasil dari proses belajar tersebut dapat ditunjukkan dalam beberapa bentuk,
seperti perbahan dalam sikap dan tingkah lakunya,keterampilannya, kecakapan dan
kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan lain-lain aspek yang ada
pada individu.
Oleh sebab itu belajar
adalah proses yang aktif,belajar adalah proses mereaksi terhadap semua situasi
yang ada disekitar individu. Belajar adalah proses yang diarahkan pada tujuan
tertentu yang ingin dicapai,proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar
adalah proses melihat, mengamati, memahami sesuatu.
Selanjutnya Jerome S.Bruner
mengemukakan bahwa “Mengajar adalah menyajikan ide, problem, atau pengetahuan
dalam bentuk sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa” (Usman,
2001:5). Teknik untuk menyederhanakan bahan yang disajikan tersebut menurut
Bruner adalah dengan cara enactive, iconic, dan symbolic. Enactive
yaitu penyajian suatu bahan pelajaran dalam bentuk gerak atau dalam bentuk
psikomotor. Iconic penyajiannya melibatkan penggunaan grafik dalam
penyajian suatu ide, objek atau prinsip. Symbolic yaitu dengan
menggunakan bahasa dan penyajiannya hendaknya mengikuti perkembangan jiwa anak.
Sama halnya
belajar,mengajar pada hakekatnya juga merupakan suatu proses,yakni proses
mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar siswa sehingga dapat
menumbuhkan dan mendorong siswa untuk melakukan proses belajar.pada tahap
selanjutya mengajar adalah proses
memberi imbingan/bantuan kepada siswa yang melakukan proses belajar.
Didalam konsep tesebut
tersirat bahwa peran guru adalah sebagai learning manager dan fasilitator
belajar. Belajar bukanlah menyampaikan pelajaran,melainkan suatu proses
membelajarkan siswa.
3.
Kondisi Belajar Mengajar yang
Efektif.
Menurut Usman (2001) dalam menciptakan
kondisi belajar-mengajar yang efektif dengan beracuan pada teori perkembangan
kognitif diatas,sedikitnya ada lima jenis variabel yang menentukan keberhasilan
belajar siswa, sebagai berikut:
a.
Pembelajaran Melibatkan Siswa
Secara Aktif
Aktivitas murid sangat diperlukan dalam kegiatan
belajar-mengajar sehingga muridlah yang seharusnya aktif, sebab murid sebagai
subjek didik adalah yang merencanakan, dan ia sendiri yang melaksanakan
belajar. Betapa pentingnya aktivitas belajar murid dalam proses belajar-mengajar
sehingga John Dewey, sebagai tokoh pendidikan, mengemukakan pentingnya prinsip
ini melalui metode proyeknya dengan learning by doing.
Aktivitas belajar murid dapat digolongkan ke dalam beberapa
hal.
1)
Aktivitas visual (visual
activities)
2)
Aktivitas lisan (oral
activities)
3)
Aktivitas mendengarkan (listening
activities)
4)
Aktivitas gerak (motor
activities)
5)
Aktivitas menulis (writing
activities)
b.
Pembelajaran Menarik Minat dan
Perhatian Siswa
Kondisi belajar-mengajar yang efektif adalah adanya minat dan
perhatian siswa dalam belajar. Minat merupakan suatu sifat yang relative
menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap
belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya.
Sebaliknya tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu.
Perhatian bersifat lebih sementara dan ada hubungannya dengan
minat. Perbedaannya adalah minat sifatnya menetap sedangkan perhatian sifatnya
sementara, adakalanya menghilang. Apabila kita perhatikan, dalam kegiatan belajar-mengajar
akan didapat dua macam tipe perhatian yaitu perhatian terpusat (terkonsentrasi)
dan perhatian terbagi (tidak terkonsentrasi).
c.
Pembelajaran Membangkitkan
Motivasi Siswa
Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif
menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan
dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat
sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
Motivasi dapat di bedakan menjadi dua:
1)
Motivasi Intrinsik yaitu dari
dalam diri individu sendiri
2)
Motivasi Ekstrinsik yaitu pengaruh
dari luar individu
d.
Pembelajaran Memperhatikan Prinsip
Individualitas.
Tidak ada dua orang individu yang sama baik dari segi psikis
maupun dari segi fisik. Kemampuan siswa sebagai individu berbeda satu sama
lainnya. Mengingat adanya perbedaan-perbedaan tersebut maka menyamaratakan
semua siswa ketika guru mengajar secara klasikal pada hakekatnya kurang sesuai
dengan prinsip individualitas.
Pengajaran individual bukanlah semata-mata pengajaran yang
hanya ditujukan kepada seorang saja, melainkan dapat saja ditujukan kepada
sekelompok siswa atau kelas, namun dengan mengakui dan melayani
perbedaan-perbedaan siswa sehingga pengajaran itu memungkinkan berkembangnya
potensi masing-masing siswa secara optimal.
e.
Peragaan dalam Pengajaran
Alat peraga pengajaran adalah alat yang digunakan guru ketika
mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikan. Belajar
yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung atau pengalaman konkret dan
menuju kepada pengalaman yang lebih abstrak. Belajar akan lebih efektif jika
dibantu dengan alat peraga pengajaran dari pada bila siswa belajar tanpa
dibantu dengan alat peraga.
4.
Bahasa
dan Penguasaan Bahasa
Dalam
arti luas bahasa adalah alat yang dipakai manusia utuk member bentuk kepada
sesuatu yang hidup dijiwanya, sehingga diketahui orang. Termasuk juga mimik
(gerak muka), panhomimik (gerak anggota), dan menggambar. Dan dalam arti umum
bahasa diartikan sebagai perasaan jiwa dengan kata yang dilisankan atau
dituliskan. (Tarigan, 2001).
Penguasaan
bahasa adalah mengerti apa yang dikatakan orang lain dan digunakan sendiri
bahasa itu. Penguasaan bahasa ada dua macam, yaitu
a. Penguasaan
bahasa pasif mengerti apa yang dikatakan orang lain kepadanya, dan
b. Penguasaan
bahasa aktif dapat mengatakan isi hati sendiri kepada orang lain.
5. Perbendaharaan
Bahasa dan Tujuan Pembelajaran Bahasa
Tujuan
pengajaran bahasa yang terpenting adalah membentuk pengertian, yang erarti
mengajar perkataan-perkataan yang baru dengan artinya sekaligus kepada
anak-anak. Pada saat anak belajar membaca permulaan, jangan mulai dari
menghafal huruf, tetapi mulai pola kalimat sederhana dan lembaga kata. Biasakan
anak mendengar, membaca dan menuliskan yang mempunyai arti ganda (Yulaelawati,
2002).
Lebih
lanjut Yulaelawati (2002) menjelaskan maksud berbendaharaan bahasa adalah
sekalian perkataan yang diketahui artinya oleh anak-anak. Perbendaharaan bahasa
ini terus menerus pada anak-anak atau orang dewasa. Penambahan perbendaharaan
bahasa ini telah mulai sejak kelas 1, pada saat anak telah dapat menuliskan apa
yang didengar. Contohnya mulai dari huruf a – abu, aku, adik, aci, acar, dan
seterusnya.
Untuk
menambah perbendaharaan bahasa anak-anak, yang penting bukan isi dan arti,
melainkan bentuk bahasa itu sendiri. Meskipun sesungguhnya isi dan bentuknya
sukar diuraikan, karena bentuk ini menentukan isi. Jadi tujuan pembelajaran
berbahasa adalah:
a. Belajar
memahami pikiran dan perasaan orang lain dengan teliti, jadi menangkap bahasa,
mendengarkan dan membaca.
b. Menyatakan
pikiran dan perasaan sendiri atau menggunakan bahasa, berbicara/bercakap-cakap
dan menulis.
Perkembangan
bahasa pada anak dapat disingkat sebagai berikut: (1) mula-mula gerak-gerik
saja, (2) mengerti akan kata-kata dan kesatuan-kesatuan bahasa, dan (3)
mengucapkan kata-kata dan kesatuan-kesatuan bahasa.
Untuk
anak-anak sekolah yang pertama ini lebih mudah dari yang kedua dan yang kedua
lebih mudah dari yang ketiga. Pada anak usia SD terdapat tiga bentuk pemakaian
bentuk bahasa. Tetapi jika salah satu bentuk menimbulkan kesukaran, maka kita
carilah bantuan pada bentuk yang lebih mudah.
Jadi
hendaknya kita selalu ingat bahwa perkembangan bahasa pada anak-anak mulai dari
pasif dulu kemudian menjadi aktif. Artinya anak dilatih dahulu melalui
pendengarannya. Oleh karena itu ibu yang baik adalah ibu yang sering mengajak
bayinya bicara. Bahkan ada pendapat sejak prinatalpun telah dapat didengarkan
perkataan yang bermakna.
7.
Aspek
Pengajaran Bahasa Indonesia
a. Kemampuan
Membaca
Pendidikan dasar bertujuan memberikan bekal
kemampuan dasar pada siswa untuk mengembangkan kehidupan sebagai pribadi,
anggota masyarakat, warga negara, dan anggota umat manusia serta mempersiapkan
siswa untuk mengikuti pendidikan menengah (Depdikbud, 1996).
Pendidikan dasar yang diselenggarakan di SD
bertujuan memberikal bekal kemampuan dasar ‘baca hitung’ yaitu pengetahuan dan
keterampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkatan
perkembangannya. Sejalan dengan pendapat Tarigan (1994) yang mengemukakan bahwa
kemampuan dasar membaca memiliki alokasi waktu jam pelajaran terbanyak disetiap
minggu, untuk itu kemampuan membaca diarahkan ke kurikulum adalah kegiatan
membaca untuk memahami makna kata, keterampilan studi, dan pemahaman kalimat.
Memahami makna kata mengandung makna
melampaui kemampuan membaca bunyi dan memahami makna. Dikatakan oleh Ella
Yulaelawati (2002) sebagai mahir membaca yaitu kemampuan memahami makna wahana
bacaan selera mendalam disertai dengan kemampuan membaca dan menafsirkan konteks
dari wacana tersebut.
Beberapa kendala yang dihadapi oleh guru
dalam mengajar kata dan kalimat di tingkat permulaan SD menurut Ella
Yulaelawati (2002) siswa lebih dikenalkan dengan membaca binyi dari pada
membaca makna. Fokus pelajaran membaca menulis sangat menarik. Siswa kurang
dilatih pada pemahaman makna berdasarkan konteks melainkan telah dilatih pada
penguasaan-penguasaan huruf, sehingga guru cenderung memberikan pelatihan untuk
menjawab perttanyaan-pertanyaan, dengan melengkapi data atau kartu kata yang
terdapat dalam bacaan.
b. Mendengarkan
Mendengarkan
adalah mengarahkan perhatian dengan sengaja kepada suatu suara, atau menangkap
pikiran orang yang berbicara dengan alat pendengaran dengan tepat dan teratur.
Mendengar
dan mendengarkan berbeda, mendengar dapat dilakukan setiap orang yang alat
pendengarannya normal dengan kata lain jika orang tersebut tidak tuli.
Sedangkan mendengarkan membutuhkan kecakapan yang harus dipelajari dengan
latihan-latihan yang berulang-ulang. Kecakapan yang tidak sesuai dengan cukup
oleh setiap orang. Untuk mendengarkan dengan baik, haruslah: (1) mengerti akan
kata-kata yang dipakai, (2) memahami dan mengenal bentuk kalimatnya, dan (3)
menangkap isi dan maksud percakapan itu dengan teratur.
a. Membaca
1.
Membaca dan Mendengarkan
Membaca
dan mendengarkan keduanya termasuk penguasaan bahasa pasif. Tujuan membaca
ialah menangkap bahasa yang tertulis dengan tepat dan teratur.
Mendengarka
berlangsung secara spontan dan diajarkan secara spontan pula sedangkan membaca
ialah menangkap pikiran dan perasaan orang lain dengan perantara tulisan. Jadi
pada mendengarkan dengan langsung ditangkap melalui pengertian tentang
tanda-tanda. Untuk ini haruslah menguasai teknik membaca.
2. Kaidah dan
Nilai Membaca
a. Di sekolah,
membaca mengambil tempat sebagai pembantu guru bagi seluruh mata pelajaran.
b. Mempunyai
nilai praktis, sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Bagi
perorangan membaca itu merupakan alat untuk menambah pengetahuan.
c. Sebagai
penghibur, untuk mengisi waktu luang seperti membaca syair-syair, sajak-sajak,
Koran, roma, majalah, dll.
d.
Memperbaiki akhlak dan bernilai agama, jika
yang dibaca buku-buku yang bernilai etika ataupun keagamaan.
e.
Bernilai fungsional, dalam arti berguna bagi
pembentukan fungsi-fungsi kejiwaan seperti membentuk daya ingat, daya fanttasi,
daya piker, berbagai jenis perasaan, dan sebagainya.
8.
Membaca
Permulaan
Pembelajaran
membaca di SD diselenggarakan dalam rangka pengembangan kemampuan membaca yang
mutlak dimilki oleh setiap warga agar dapat mengembangkan diri secara
berkelanjutan. Melalui pembelajaran di SD, siswa diharapkan memperoleh
dasar-dasar kemampuan membaca disamping kemampuan menulis dan menghitung, serta
kemampuan esensial lainnya. Dengan dasar kemampuan itu, siswa dapat menyerap
berbagai pengetahuan yang sebagian besar disampaikan melalui tulisan.
Pembelajaran membaca di SD terdiri dari dua bagian, yakni (a) membaca permulaan
di kelas 1 dan 2. Melalui membaca permulaan ini diharapkan siswa mampu
mengenali huruf, suku kata, kata, kalimat, dan mampu membaca dalam konteks, (b)
membaca lanjut mulai dari kelas 3 dan seterusnya (Zulela, 2008:3.19).
Pembelajaran
fonem/huruf pada membaca permulaan dimulai dari yang mudah ke yang sukar, yang
sederhana ke yang kompleks. Di kelas rendah (kelas satu dan dua) dimulai dari
fonem-fonem vocal dan konsunan yang bilabial dan labiodentals, misalnya fonem/huruf
a, i, u, e, o, m, n, b, p, disesuaikan dengan kemampuan perkembangan siswa
(mulai kelas I). pada akhir kelas satu diharapkan siswa telah mengenal semua
huruf yang melambangkan fonem-fonem/bunyi-bunyi bahasa,bahasa Indonesia.
Pembelajaran
dilaksanakan secara tematik, khususnya di kelas rendah. Pembelajaran terpadu
disini terutama terpadu antar aspek bahasa itu sendiri (connected), namun dalam setiap tatap muka, guru member penekanan
pada satu aspek (yang menjadi focus) pembelajaran misalnya melalui aspek
membaca permulaan. Kegiatan pembelajaran fonem di kelas rendah SD (I, II),
mulai dari membaca kalimat sederhana, kata, suku kata yang mengandung fonem i,
a, n, m dilanjutkan dengan latihan
ucapan/lafal yang benar, intonasi yang wajar, dan seterusnya dapat dilanjutkan
dengan menuliskan fonem-fonem/huruf tersebut dengan bentuk dan ukuran yang
benar.
Menurut
Yulaelawati (2002) membaca permulaan mengutamakan hal-hal berikut:
a. Memberikan
kecakapan kepada para siswa untuk mengubah rangkaian-ragkaian huruf menjadi
rangkaian-rangkaian bunyi yang bermakna.
b. Melancarkan
teknik membaca pada anak-anak, sama halnya seperti perhitungan permulaan yang
mengutamakan penanaman pengertian bilangan dan mengajarkan angka maka membaca
permulaan mengutamakan pengajaran huruf dan rangkaiannya, serta melancarkan
teknik membaca.
Keberhasilan membaca permulaan tidak saja
menentukan permulaan membaca siswa pada tahap berikutnya, tetapi juga
menimbulkan minat baca anak. Oleh karena itu, pada saat membaca permulaan harus
dikenalkan kata atau kalimat yang bermakna, misalnya:
Bacaan yang ditulis di atas hendaknya
berkaitan dengan diri anak. Nama yang dituliskan guru adalah nama yang ada di
lingkungan anak. Supaya anak cepat membaca, seringkali mengulang huruf yang
telah dikenalkan dalam kata-kata ataupun pola kalimat misalnya:
ini ani ini
kuku
ini nana ini
kaki
ini ana kuku
kaki
ini nani kuku
kiki
ini nina kuku
aki
ini nana ini
ikan
ini aan ikan
katak
a. Proses
Membaca Permulaan
Proses membaca permulaan menurut Mulyati
(2004:103) dimulai dari penanaman kesanggupan mengidentifikasi huruf (lambang
bunyi dengan bunyinya), menuju kemampuan mengidentifikasi struktur kata dengan
struktur bunyi.
Lebih lanjut Mulyati (2004:104) menjelaskan.
Untuk
meningkatkan kualitas keterampilan MMP diperlukan banyak ulangan (khususnya
mengulang penggunaan kata-kata yang baru diajarkan) dengan banyak ulangan akan
dicapai:
a. Pemercepatan waktu fiksasi (fixation time) pemahaman kata, kelomok kata.
Anak akan dilatih dengan lompatan-lompatan pandangan mata dari kata/kelompok
kata yang satu ke lain makin cepat.
b. Pemerluasan jarak fiksasi (fixation span) pemahaman kata/kelompok
kata/kalimat. Anak akan dilatih untuk memahami makna kata/kelompok kata yang
satu ke yang lainnya sehingga pengertian yang difahami semakin luas.
Membaca
merupakan suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses yang bersifat
fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual, pembaca mengenal dan
membedakan gambar-gambar bunyi serta kombinasinya. Melalui proses decoding,
pembaca mengasosiasikan gambar-gambar bunyi beserta kombinasinya dengan
bunyi-bunyinya. Dengan proses tersebut, rangkaian tulisan yang dibacanya
menjelma menjadi rangkaian unyi bahasa dalam kombinasi kata, dan kalimat yang
bermakna. Disamping itu pembaca mengamati tanda-tanda baca untuk membantu
memahami maksud baris-baris tulisan. Proses psikologis berupa kegiatan berpikir
dalam mengolah informasi. Melalui proses decoding, gambar-gambar bunyi dan
kombinasinya diidentifikasi, diuraikan kemudian diberi makna. Proses ini melibatkan
knowlodge of the world dalam skemata yang berupa kategorisasi sejumlah
pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam gudang ingatan (Rahim, 2007:7).
Menurut
La Barge dan Samuels (Mueller, 2006) proses membaca permulaan melibatkan tiga
komponen, yaitu (a) visual memory (ZM), (b)phonological memory (PM), (c)
sematic memory (SM). Lambang-lambang fonem tersebut adalah kata, dan kata
dibentuk menjadi kalimat. Proses pembentukkan terjadi pada ketiganya. Pada
tingkat VM hurut, kata, dan kalimat terlibat sebagai lambang grafis, sedangkan pada tingkat PM terjadi
proses pembunyian lambang. Lambang tersebut juga dalam bentuk kata dan kalimat.
Proses pada tingkat ini juga bersumber dari PM. Akhirnya pada tingkat SM terjadi
proses pemahaman pada kata dan kalimat. Selanjutnya dikemukakan untuk
memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan
membunyikan (a) lambang-lambang tulis, (b) penguasaan kosa kata untuk memberi
arti, dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa.
b. Metode Membaca Permulaan
Dalam
pembelajaran membaca permulaan, ada beberapa metode yang dapat digunakan antara
lain: (1) SAS, (2) metode abjad dan bunyi, (3) metode kupas rangkai suku kata,
(4) metode kata lembaga, dan (5) metode global (Slamet, 2007:62).
Secara garis besar pendekatan dan metode
pembelajaran MMP dapat digambarkan dalam carta berikut.
|
Pendekatan
|
Metode
|
|
1. Harfiyah
|
1. ABJAD
2. BUNYI
|
|
2. Suku kata
|
3. KUPAS
RANGKAI
|
|
4. Kata
|
4.
KATA LEMBAGA
|
|
5. Kalimat
|
5.
GLOBAL
6.
SAS (Struktur Analitik Sintetik)
7. GASIP (Global Analisis Intensif Ponem)
|
|
6. Linguistik
|
8.
DENGAR-UCAP (Audio-lingua)
9. AURAL-ORAL (dengar, tiru, substitusi,
aplikasi)
|
9.
Pembelajaran Kooperatif
Anita (Saputra dan
Rudyanto, 2005:50) menjelaskan tentang pembelajaran kooperatif atau
pembelajaran gotong royong adalah sistem pembelajaran yang memberi kesempatan
kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas
berstruktur.
Menurut Johnson dan
Johnson (Saputra dan Rudyanto, 2005:50) sistem pembelajaran gotong royong atau
pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai kerja atau belajar kelompok
yang terstruktur termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok yaitu saling
ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian
bekerjasama dan proses kelompok.
Dari dua definisi
di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif selain
menitik beratkan pada kerja sama kelompok siswa
juga proses pelaksanaannya secara berstruktur.
Pembelajaran
kooperatif berusaha menelaah kegiatan
belajar siswa dan guru. Pembelajaran koooperatif sebagai suatu metode yang
dianggap mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan siswa baik dari segi
intelektual maupun emosional.
Pembelajaran
kooperatif merupakan suatu model pengajaran, dimana siswa belajar dalam
kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam
penyusunan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerjasama dan membantu untuk
memahami suatu bahan pembelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman
dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran.
Unsur-unsur
pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
1) Siswa dalam kelompoknya
haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama.”
2) Siswa bertanggungjawab atas
segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
3) Siswa haruslah melihat bahwa
semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4) Siswa haruslah membagi tugas
dan tanggungjawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
5) Siswa akan diberikan evaluasi
atau hadiah/penghargaan yang juga akan diberikan untuk semua anggota kelompok.
6) Siswa berbagi kepemimpinan
dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses
belajarnya.
7) Siswa akan diminta
mempertanggungjawabkan secara individual materi yang akan ditangani dalam
kelompok kooperatif.(Rachmadiarti, 2003:6).
Metode pembelajaran
kooperatif merupakan suatu metode alternatif yang diterapkan untuk
mengantisipasi dari perubahan zaman yang menuntut adanya peningkatan kualitas
sumber daya manusianya.
10.
Pendekatan Kooperatif
Tipe Word Square
Sebagai seorang
profesional, guru harus mempunyai pengetahuan dan menguasai strategi-strategi
pembelajaran. Guru yang ingin maju dan berkembang perlu memiliki ketarampilan
dalam malaksanakan pembelajaran dengan strategi dan teknik-teknik pembelajaran.
Yang pasti akan bermanfaat dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar
sehari-hari. Guru yang baik tidak akan terpaku pada satu strategi saja.
Salah satu
keunggulan model word square adalah dapat meningkatkan
kemampuan motorik, intelegensi, dan kemandirian siswa, sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik
dalam suasana yang menyenangkan. Teknik ini dapat digunakan pada semua mata
pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik (Saputra, 2005:13).
Langkah-langkah
pembelajaran kooperatif tipe word square:
1) Guru menyampaikan
kompetensi yang ingin dicapai.
2) Guru membagikan lembar kegiatan yang berisi
kumpulan huruf.
3) Siswa menjawab pertanyaan kemudian mengarsir
huruf dalam kotak sesuai jawaban.
4)
Berikan
poin setiap jawaban dalam kotak.
H. Kerangka
Berpikir
Menurut Prakoso (2008:2.3) pembelajaran bahasa yang
seharusnya menyenangkan dan mengasyikkan ternyata jauh dari harapan. Ini
disebabkan karena di sekolah, bahasa diajarkan secara terpisah-pisah. Pada
umumnya guru mengajarkan keterampilan berbahasa dan komponen bahasa secara
terpisah. Membaca diajarkan pada jam yang berbeda dengan menulis. Demikian pula
pelajaran tentang struktur bahasa dan kosa kata atau kesusastraan. Tidak jarang
kita temui siswa ditugasi membuat kalimat-kalimat lepas untuk melatih pola
kalimat tertentu. Dengan sistem mengajar seperti ini, siswa tidak mendapatkan
pelajaran bahasa yang utuh, seperti yang mereka pelajari sebelum mereka
sekolah.
Para ahli berkeyakinan bahwa bahasa merupakan satu
kesatuan (whole) yang tidak dapat
dipisahkan dipisah-pisahkan (Prakoso, 2008:2.3). Oleh karena itu pengajaran
keterampilan berbahasa dan komponen bahasa seperti tata bahasa dan kosa kata
disajikan secara utuh bermakna dan dalam situasi nyata atau otentik.
Dalam dunia pendidikan muncul beberapa istilah yang sejalan
dengan gagasan ini, antara lain adalah pembelajaran kooperatif model word
square. Pembelajaran kooperatif
berusaha menelaah kegiatan belajar siswa
dan guru. Pembelajaran koooperatif tipe word square sebagai suatu metode yang dianggap mampu memberikan dampak positif bagi
perkembangan siswa baik dari segi intelektual maupun emosional.
Pembelajaran kooperatif merupakan
suatu model pengajaran, dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang
memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam penyusunan tugas kelompok, setiap
anggota saling bekerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan
pembelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum
menguasai bahan pembelajaran .
Kenyataan yang ada di sekolah-sekolah masih menerapkan
pembelajaran dengan gaya
konvensional. Siswa dianggap sebagai kertas putih yang sama dan bias diisi
sesuai selera guru. Pembelajaran di kelas terasa kering akan makna dan kurang
menggairahkan bagi peserta didik. Pembelajaran kooperatif tipe word square
merupakan suatu model yang berisi cara-cara praktis untuk meningkatkan
prestasi siswa dengan pembelajaran yang
mengakomodasi dan potensi kecerdasan siswa yang dilakukan secara
menggembirakan.
I.
Hipotesis Penelitian
Dengan konsep yang
makin mantap fungsi model word square dapat
meningkatkan kemampuan motorik, intelegensi, dan kemandirian siswa, sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik
dalam suasana yang menyenangkan. Langkah-langkah model
ini juga menggunakan media pembelajaran yang tidak hanya sekedar alat bantu guru, melainkan sebagai pembawa informasi
atau pesan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Dengan demikian
guru dapat memusatkan tugasnya pada aspek-aspek lain seperti pada kegiatan
bimbingan dan penyuluhan individuan dalam kegiatan pembelajaran (Susilana &
Riayana, 2008:8).
Berdasarkan kerangka berpikir tersebut, maka hipotesis
penelitian dapat dirumuskan “Jika
digunakan pembelajaran kooperatif model word square maka kemampuan menulis permulaan
pada pembelajaran bahasa Indonesia di kelas I SDN Telaga Purun dapat meningkat”.
J. Metodologi penelitian.
1. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan
metode tindakan kelas yaitu bentuk pembelajaran yang bersifat reflektif untuk
memperbaiki kondisi pembelajaran dan meningkatkan kemantapan rasional dari
tindakan melaksanakan tugas dengan proses pengkajian berdaur, yaitu
merencanakan, melakukan tindakan, mengamati, dan merefleksi (Winardi, 2004:6).
Berdasarkan pengertian
tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah
studi sistematis terhadap praktek pembelajaran di kelas dengan tujuan untuk
memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar
siswa dengan melakukan tindakan tertentu.
Ada beberapa ahli yang
mengemukakan model penelitian tindakan dengan bagan yang berbeda, namun secara
garis besara terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi (Arikonto, 2006:6). Adapun model untuk
masing-masing tahap dapat digambarkan pada bagan sebagai berikut:
Perencanaan
Tindakan
Refleksi
Siklus I
Observasi
Pelaksanaan
Tindakan
Perencanaan
Kembali
Refleksi
Siklus I
Observasi
Pelaksanaan
Tindakan
Gambar 1 : Alur Kegiatan dalam Siklus
PTK
Adapun penjelasan untuk
masing-maisng tahap adalah sebagai berikut:
Tahap 1:
Perencanaan
Dalam tahap ini peneliti
menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana
tindakan tersebut dilakukan. Dalam tahap penyusunan rancangan ini peneliti
menentukan titik atau focus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus
untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk membantu
peneliti merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung.
Tahap 2:
Pelaksanaan
Tahap ke-2 dari penelitian
tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi
rancangan, yaitu mengenakan tindakan di kelas. Hal yang perlu diingat adalah
bahwa dalam tahap ini pelaksana guru harus ingat dan berusaha menaati apa yang
sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak
dibuat-buat.
Tahap 3:
Pengamatan
Tahap ke-3 yaitu kegiatan
pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Sebetulnya sedikit kurang tepat kalau
pengamatan ini dipisahkan dengan pelaksanaan tindakan karena seharusnya
pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya
berlangsung dalam waktu yang sama.
Tahap 4:
Refleksi
Tahap ini merupakan
kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Kegiatan refleksi
ini sangat tepat dilakukan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan
tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi
rancangan tindakan.
Keempat tahap dalam
penelitian tindakan tersebut adalah unsur untuk membentuk sebuah siklus, yaitu
satu putaran kegiatan beruntun, yaitu kembali ke langkah semula. Jadi satu
siklus adalah dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan refleksi, yang
tidak lain adalah evaluasi.
2. Setting
Penelitian.
Tindakan Kelas ini dilaksanakan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia tentang
membaca permulaan di kelas 1 Sekolah Dasar Negeri Telaga Purun Kecamatan
Paringin Selatan Kabupaten
Balangan pada semester ganjil
tahun 2010/2011.
Keterampilan
membaca harus segera dikuasai oleh para siswa SD karena keterampilan ini secara
langsung berkaitan dengan seluruh proses belajar siswa di SD. Membaca merupakan
keterampilan berbahasa yang sangat penting dikuasai untuk mengikuti proses
belajar. Untuk mempercepat kemampuan membaca di SD maka perlu penelitian di
kelas 1, karena kelas 1 secara awal perlu penguasaan membaca.
3.
Faktor Yang Akan Diteliti
Faktor-faktor yang akan diteliti
dalam tindakan kelas ini adalah:
a.
Faktor Siswa, yaitu mengamati kegiatan belajar siswa
dalam membaca permulaan.
b.
Faktor Guru, yaitu melalui bantuan guru observer
untuk pengamatan kegiatan belajar mengajar sesuai alokasi waktu yang ditetapkan
melalui tahapan apersepsi, motivasi, tes awal, proses mengajar, tes
akhir dan kesimpulan.
c.
Faktor hasil belajar,yaitu pengukuran hasil belajar siswa setelah
melakukan kegiatan belajar mata
pelajaran Bahasa Indonesia melalui tes tertulis,yaitu tes awal,tes dalam
proses dan tes akhir dan tes formatif.
4. Skenario Tindakan.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Perencanaan.
1) Menyusun rencana pembelajaran membaca permulaan dengan
pembelajaran kooperatif model word square
untuk meningkatkan kemampuan
membaca permulaan.
2) Membuat lembar observasi untuk mengamati
kegiatan siswa melakukan aktivitas menjawab dan mengarsir huruf.
3) Mempersiapkan lembar kerja berupa lembar berisi huruf yang
disusun acak.
4) Membuat alat evaluasi untuk mengukur hasil
belajar siswa.
b. Pelaksanaan Tindakan.
Tindakan Kelas ini dilaksanakan dengan dua siklus terdiri dari empat kali pertemuan dengan
langkah-langkah kerja sebagai berikut:
1.
Siklus I
Pertemuan I
Pada pertemuan ini untuk menyajikan
pembelajaran
a)
Siswa memperhatikan penjelasan
guru.
b) Guru menyampaikan
kompetensi yang ingin dicapai.
c) Guru membagikan lembar kegiatan yang berisi
kumpulan huruf.
d) Siswa menjawab pertanyaan kemudian mengarsir
huruf dalam kotak sesuai jawaban.
e) Guru memberikan poin setiap jawaban dalam
kotak.
f)
Guru melakukan tes dan refleksi
hasil tindakan.
Pertemuan II
Pada pertemuan ini untuk
menyajikan pembelajaran
a)
Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
b) Guru membagikan lembar kegiatan yang berisi
kumpulan huruf.
c) Siswa menjawab pertanyaan kemudian mengarsir
huruf dalam kotak sesuai jawaban.
d) Guru memberikan poin setiap jawaban dalam
kotak.
e)
Guru melakukan tes dan refleksi
hasil tindakan
J. Teknik Pengumpulan Data.
1.
Sumber Data.
Data penelitian tndakan kelas ini diperoleh dari Pembelajaran
Bahasa Indonesia Kelas 1 di SDN Telaga Purun, Kabupaten Balangan pada semester genap
tahun 2009/2010.
2.
Jenis Data.
Data yang dianalisis dalam peneltian tindakan kelas ini adalah
berupa data kuantitatif dan kualitatif yang terdiri dari:
a. Data Kualitatif.
Data yang bersipat
kata-kata atau kreteria prilaku dengan alat penggali data berupa data
observasi proses siswa memecahkan
masalah/menyelesaikan pembelajaran.
b. Data Kuantitatif.
Yaitu data-data berupa angka-angka hasil dari pengukuran
hasil belajar dengan alat penggali data tes tertulis dalam bentuk tes akhir dan
tes formatif.
3.
Cara Pengambilan Data.
a.
Data kegiatan siswa mengarsi huruf diambil dengan alat observasi berupa,lembar
observasi dengan indikator:
1) Ketepatan dalam mengarsir huruf.
2) Ketepatan dalam
mengeja/membaca (lafal,
intonasi, merangkai huruf).
3) Menuntaskan tugas
sesuai dengan waktu yang ditetapkan.
4)
Rentang nilai untuk
kriteria jelas/sesuai = 11
sampai 20. Rentang
nilai untuk kriteria tidak/tidak sesuai = 6 sampai 10. Skor nilai 30
≤ skor kemampuan siswa ≤ 45 kurang
46 ≤ skor
kemampuan siswa ≤ 60 cukup
61≤
skor kemampuan siswa ≤ 100 mampu/jelas
(Sugito, 2008).
b. Data kegiatan guru melaksanakan
tahapan-tahapan kegiatan mengajar diambil selama proses pembelajaran 2 x 35 menit, dengan indikator sebagai berikut:
1) Apersepsi
2) Motivasi
3) Tes awal
4) Proses beajar
mengajar
5) Tes akhir
6) Kesimpulan
c. Data diperoleh
dengan alat penggali data berupa tes tertulis yakni,tes awal,tes dalam
proses,tes akhir dan tes formatif.
d. Observer dalam penelitian ini adalah seorang
guru yang menjadi wali kelas II SDN Telaga Purun Kecamatan Paringin Selatan
yang bernama Laila Olfah, S.Pd. NIP 19850928 200801 2 003 dengan latar
pendidikan S-1.
Hasil
temuan observasi dan tes formatif pada masing-masing pertemuan dilakukan
refleksi tindakan. Kemudian analisis hasil penelitian digunakan indikator
keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah apabila hasil belajar siswa
mencapai kualifikasi baik berdasarkan tes tertulis.
K. Indikator Keberhasilan
Untuk mengukur keberhasilan
penelitian tindakan kelas adalah:
1. Apabila hasil belajar secara individu
mendapat kualifikasi nilai hasil tes tertulis menunjukkan lebih dari atau sama
dengan KKM Indikator Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 1 SDN Telaga Purun
tentang membaca permulaan adalah 66,67.
2. Hasil belajar
klasikal mencapai nilai tuntas belajar hingga 85 % berdasarkan konsep
belajar tuntas. Indikasi ini menunjukan kemampuan siswa dalam membaca pemulaan sudah baik.
L. Jadwal
Penelitian
|
No
|
Kegiatan
|
Bulan
|
|
||
|
Juni
|
Juli
|
Agustus
|
|||
|
1
|
Penyusunan Proposal PTK
|
X
|
|
|
|
|
2
|
Konsultasi
|
X
|
|
|
|
|
3
|
Penyusunan Desain PTK
|
X
|
|
|
|
|
4
|
Persiapan Tindakan
|
X
|
|
|
|
|
5
|
Pelaksanaan Tindakan
|
X
|
|
|
|
|
6
|
Siklus 1
|
X
|
|
|
|
|
7
|
Pelaksanaan Tindakan
|
X
|
|
|
|
|
8
|
Observasi/Evaluasi
|
|
X
|
|
|
|
9
|
Analisis/Refleksi
|
|
X
|
|
|
|
10
|
Siklus 2
|
|
X
|
|
|
|
11
|
Pelaksanaan Tindakan
|
|
X
|
|
|
|
12
|
Observasi/Evaluasi
|
|
|
X
|
|
|
13
|
Analisis/Refleksi
|
|
|
X
|
|
|
14
|
Penyusunan Laporan PTK
|
|
|
X
|
|
M. Daftar
Pustaka
Arifin, S. 2004. Penggunaan
Metode Motessori dalam Pengajaran Membaca Permulaan di Sekolah Dasar Negeri
Kodya Banjarmasin. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri
Malang.
Arikunto, S. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Modul Pelatihan Guru.
Jakarta: Dirjen dikdasmen.
Depdikbud. 1996. Petunjuk
Teknis Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud.
Depdiknas. 2006. Model
Penilaian Kelas KTSP SD/MI. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas. 2006. Pengembangan
Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) SD kelas I – VI.
Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas. 2006. Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional RI No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas.
Djamarah & Zain.
2006. Sttrategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka cipta
Mueller, S. 2006. Panduan
Belajar Membaca Jilid 1 dengan Benda-benda Disekitar Kita untuk Anak Usia 3-8
Tahun. Jakarta: Erlangga
Mueller, S. 2006. Panduan
Belajar Membaca Jilid 2 dengan Benda-benda Disekitar Kita untuk Anak Usia 3-8
Tahun. Jakarta: Erlangga
Mulyati, Y. 2004. Membaca
dan Menulis Permulaan. Jakarta:Universitas Terbuka
Pattiha, H. 2006. Penerapan
Strategi Think-Pair-Share dalam Meningkatkan Pelaksanaan Pembelajaran Membaca
Permulaan Pada
Siswa Kelas II SDN Sumbesari II Malang. Thesis tidak diterbitkan. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Purwanto, M. Ngalim. 1990. Psikologi
Pendidikan. Jakarta :
Remaja Rosdakarya Offset
Prakoso. S.T. 2008. Pendekatan
Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD. Jakarta:Iniversitas
Terbuka.
Rachmadiarti, Fida. 2003. Pembelajaran
Kooperatif. Jakarta : Depdiknas
Rahim, F. 2007. Pengajaran
Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Salam, B. 2008. Cara
Belajar yang Sukses di Perguruan Tinggi. Jakarta: Rineka Cipta
Saputra, Yudha M dkk. Pembelajaran
Kooperatif untuk Meningkatkan Keterampilan Anak TK. Jakarta :
Depdiknas
Slamet, St. Y. 2007. Dasar-dasar
Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Dasar. Surakarta:
LPP UNS dan UNS Press.
Sugito, E. 2008. Penilaian
Pembelajaran Keterampilan Berbahasa di SD. Jakarta:Universitas Terbuka.
Susilana
R & Riyana C. 2008. Media Pembelajaran. Bandung: CV
Wacana Prima
Tarigan. 2003. Pengajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas
Terbuka.
Tarigan. 2006. Pendidikan Keterampilan
Berbahasa. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Usman, M.U 2001. Menjadi Guru Profesional.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wardhani, IGAK dkk. 2007. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka
Yulaelawati, E. 2002. Metode dan Teknik Pengembangan
Minat dan Kegemaran Membaca. Jakarta: Idetorial Buliten, Pusat
Perbukuan.
Zulela. 2008. Pengembangan Hasil Kajian Kurikulum Mata
Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar. Jakarta:Universitas Terbuka.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Kelas :
I
Tema :
Keluarga
Minggu / Hari :
Alokasi Waktu :
5 x 35 menit
A. Standar Kompetensi :
3.
Memahami teks pendek dengan membaca nyaring.
1. Melakukan penjulahan dan
pengurangan bilangan sampai 20.
1.
Mengenal anggota tubuh dan kegunaannya, serta cara perawatannya.
B. Kompetensi Dasar :
3.1 Membaca nyaring suku kata dan kata
dengan lafal yang tepat.
1.3 Melakukan penjulahan dan pengurangan
bilangan sampai 20.
1.2 Mengidentifikasi kebutuhan tubuh agar
tubuh sehat dan kuat (makanan, air, pakaian, udara, lingkungan sehat)
C. Indikator
:
Bahasa Indonesia
. Mengenal huruf-huruf dan membacanya
sebagai suku kata, kata-kata, dan kalimat sederhana.
. Membaca
nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang tepat.
Matematika
. Menterjemahkan bentuk penjumlahan dan
sampai 20 ke dalam kalimat sehari-hari
IPA
. Menunjukkan nama makanan sehat
yang berguna bagi tubuh.
. Menyebutkan guna air, makanan, pakaian, udara,
dan lingkungan untuk tumbuh sehat.
D. Tujuan
Pembelajaran :
. Siswa
melakukan kegiatan untuk mengenal huruf dan membacanya sebagai suku kata, kata-kata,
dan kalimat sederhana.
. Siswa membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang
tepat.
. Siswa mampu melakukan penjumlahan
dua angka.
. Siswa
dapat menyebutkan nama
makanan sehat yang berguna bagi tubuh.
. Siswa dapat
menyebutkan guna air,
makanan, pakaian, udara, dan lingkungan untuk tumbuh sehat.
E. Materi Ajar :
Bahasa Indonesia : Membaca bersuara
Matematika : Penjumlahan
IPA(SAINS) : Kebutuhan
manusia
F. Skenario Pembelajara :
Tematik
|
Tahap
|
Uraian Kegiatan Pembelajaran
|
Alat dan Media Pembelajaran
|
Estimasi waktu
|
|
Pendahuluan
|
. Berdoa bersama
. Menyanyi lagu “murid
budiman” sambil bertepuk
. Guru dan
siswa bertanyajawab tentang kegiatan yang dapat dilaksanakan bersama keluarga.
.
Guru membacakan cerita.
. Guru menampilkan gambar tentang keluarga
yang sedang makan, berolahraga, dll.
. Guru
bercerita tentang kebutuhan manusia utuk kelangsungan
hidupnya.
. Guru dan siswa bertanyajawab tentang cara menjaga kesehatan tubuh.
. Guru bercerita tentang perlunya energi bagi
tubuh, dan dilanjutkan dengan tanya jawab.
|
. Gambar anggota keluarga,
suasana keluarga makan, berolahraga dll.
. Lagu “murid budiman”
.
Teks cerita
|
2 x 35 menit
|
|
Kegiatan Inti
|
. Guru membagikan lembar kegiatan yang
berisi kumpulan huruf.
. Siswa menjawab pertanyaan kemudian
mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban.
. Setelah siswa berhasil merangkai satu kata,
siswa membacanya.
.
Guru memberikan poin setiap jawaban dalam kotak.
. Guru meminta siswa membentuk
kelompok
. Siswa ditugaskan menghitung anggota setiap
kelompok kemudian menjumlahkannya, misalnya 4 + 3 = 5
|
. Huruf-huruf (kartu huruf)
. Gambar himpunan benda (lampu,
sapu, meja dll)
|
2 x 35 menit
|
|
Penutup
|
. Pesan-pesan moral bagi anak, misalnya
tentang perlunya menjaga kesehatan
|
|
1 x 35 menit
|
G. Sumber Pembelajaran
1.
Buku Tematik kelas I semester 1 penerbit Erlangga. Bidang Studi Bahasa Indonesia, Matematika, IPA,
IPS.
2.
Silabus Tematik kelas I BNSP
H. Evaluasi
1. Teknik Penilaian : Tertulis dan Perbuatan
2. Bentuk Instrumen : essay, dan isian
Instrumen test :
- a. Bacalah
tulisan berikut
hari sudah malam
keluarga didi berkumpul di ruang keluarga
apa yang mereka lakukan
didi belajar
uun main boneka
ayah baca koran
ibu baca majalah
suasana sangat tenang
keluarga didi selalu rukun
b. Lakukan secara bergantian !
c. Perhatikan lafal dan intonasi saat membaca.
d. Siswa yang tampil membaca dinilai.
- Mari melengkapi
titik-titik dibawah ini !
3 + 4 = ....
1 + 8 = ....
4 + 8 = ....
5 + 2 = ....
- Jawablah
pertanyaan berikut !
- Sebutkan kegunaan air bagi kita ?
- Apa akibatnya apabila kita tidak
makan pagi?
Lembar Pengamatan Kegiatan Siswa
|
Nama Siswa
|
Mengarsir
huruf
|
Lafal
|
Intonasi
|
Kemampuan
merangkai huruf
|
Ketepatan
waktu
|
Skor
|
|
A
|
B
|
C
|
D
|
E
|
F
|
|
|
1.
2.
|
|
|
|
|
|
|
|
Rata-rata
|
|
|
|
|
|
|
|
Persen
|
|
|
|
|
|
|
Rentang nilai untuk kriteria jelas/sesuai
= 11 sampai 20
Rentang nilai untuk kriteria tidak/tidak
sesuai = 6 sampai 10
Nilai : F = A + B + C + D + E
Skor nilai 30
≤ skor kemampuan siswa ≤ 45 kurang
46
≤ skor kemampuan siswa ≤ 60 cukup
61 ≤ skor kemampuan
siswa ≤ 100 mampu/jelas (Sugito,
2008).
Kunci Jawaban :
Soal nomor
1. Diambil dari lembar
pengamatan siswa saat membaca
2.
3 + 4 = 7
1 + 8 = 9
4 + 8 = 12
5 + 2 = 7
3. a. untuk minum,
mandi, dll
b. tidak bertenaga/lemas,
sakit, dll
Paringin, Juli 2010
Mahasiswa,
Badrudin R
NIM A1E507750
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Kelas :
I
Tema :
Keluarga
Minggu / Hari :
Alokasi Waktu :
5 x 35 menit
A. Standar Kompetensi :
1.
Memahami identitas diri dan keluarga serta sikap saling menghormati
dalam kemajemukan keluarga.
3.
Memahami teks pendek dengan membaca nyaring.
1. Melakukan penjulahan dan
pengurangan bilangan sampai 10.
B. Kompetensi Dasar :
1.1 Mengidentifikasi identitas diri,
keluarga, dan kerabat.
3.1 Membaca nyaring suku kata dan kata
dengan lafal yang tepat.
1.3 Melakukan penjulahan dan pengurangan
bilangan sampai 10.
C. Indikator
:
Bahasa Indonesia
. Mengenal huruf-huruf dan membacanya
sebagai suku kata, kata-kata, dan kalimat sederhana.
. Membaca
nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang tepat.
Matematika
. Menterjemahkan bentuk pengurangan sampai 10
ke dalam kalimat sehari-hari
IPS
. Menyebutkan nama lengkap dan
panggilan beserta usia.
. Menceritakan
alamat tempat tinggal dan alamatt sekolah.
D. Tujuan
Pembelajaran :
. Siswa
melakukan kegiatan untuk mengenal huruf dan membacanya sebagai suku kata,
kata-kata, dan kalimat sederhana.
. Siswa membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang
tepat.
. Siswa mampu melakukan pengurangan
dua angka.
. Siswa
dapat menyebutkan nama lengkap dan panggilan beserta
usia.
. Siswa dapat
menceritakan alamat
tempat tinggal dan alamatt sekolah.
E. Materi Ajar :
Bahasa Indonesia : Membaca bersuara
Matematika : Pengurangan
IPS : Identitas diri, keluarga, dan kekerabatan.
F. Skenario Pembelajara :
Tematik
|
Tahap
|
Uraian Kegiatan Pembelajaran
|
Alat dan Media Pembelajaran
|
Estimasi waktu
|
|
Pendahuluan
|
. Berdoa bersama
. Menyanyi lagu “sayang
semua” sambil bertepuk
. Guru
menugaskan siswa memperkenalkan diri dan keluarganya secara bergantian.
. Guru dan
siswa bertanyajawab tentang kegiatan yang dapat dilaksanakan bersama keluarga.
. Siswa diajak menyebutkan anggota keluarga
dan peranan masing-masing anggota.
.
Menceritakan kasih saying antar anggota keluarga.
|
. Gambar anggota keluarga,
suasana keluarga yang rukun dll.
. Lagu “sayang semua”
.
Teks cerita
|
1 x 35 menit
|
|
Kegiatan Inti
|
.
Guru membacakan cerita.
. Guru membagikan lembar kegiatan yang
berisi kumpulan huruf.
. Siswa menjawab pertanyaan kemudian menyusun
huruf dalam kotak sesuai jawaban.
. Setelah siswa berhasil merangkai satu kata,
siswa membacanya.
.
Guru memberikan poin setiap jawaban dalam kotak.
. Guru meminta siswa membentuk
kelompok
. Siswa ditugaskan menghitung anggota setiap
kelompok kemudian memisahkan sebagian anggotanya.
.
Siswa diminta menghitung jumlah anggota kelompok yang tersisa, dan
guru mengarahkan pemahaman siswa pada proses pengurangan bilangan, misalnya 4 - 2 = 2
.
Siswa diajak berlatih menyelesaikan soal pengurangan
|
. Gambar himpunan benda (lampu,
sapu, meja dll)
|
3 x 35 menit
|
|
Penutup
|
. Guru memberikan
soal-soal untuk mengevaluasi hasil pembelajaran
. Pesan-pesan moral bagi anak, misalnya
tentang perlunya menghemat energi
|
|
1 x 35 menit
|
G. Sumber Pembelajaran
1.
Buku Tematik kelas I semester 1 penerbit Erlangga. Bidang Studi Bahasa Indonesia, Matematika, IPA,
IPS.
2.
Silabus Tematik kelas I BNSP
H. Evaluasi
1. Teknik Penilaian : Tertulis dan Perbuatan
2. Bentuk Instrumen : essay, dan isian
Instrumen test :
1.
a. Bacalah tulisan berikut!
Didi punya 2 permen
Uun minta 1 permen
Permen didi berkurang
b. Lakukan secara bergantian !
c. Perhatikan lafal dan intonasi saat membaca.
d. Siswa yang tampil membaca dinilai.
2. Mari melengkapi titik-titik
dibawah ini !
5 - 4 = ....
7 - 5 = ....
4 - 1 = ....
8 - 2 = ....
3. Jawablah pertanyaan
berikut !
a. Sebelum makan kita sebaiknya ….
b. Pada saat mengunyah makanan kita tidak boleh
sambil ….
Lembar Pengamatan Kegiatan Siswa
|
Nama Siswa
|
Mengarsir
huruf
|
Lafal
|
Intonasi
|
Kemampuan
merangkai huruf
|
Ketepatan
waktu
|
Skor
|
|
A
|
B
|
C
|
D
|
E
|
F
|
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
|
|
|
|
|
|
|
Rata-rata
|
|
|
|
|
|
|
|
Persen
|
|
|
|
|
|
|
Rentang nilai untuk kriteria jelas/sesuai
= 11 sampai 20
Rentang nilai untuk kriteria tidak/tidak
sesuai = 6 sampai 10
Nilai : F = A + B + C + D + E
Skor nilai 30
≤ skor kemampuan siswa ≤ 45 kurang
46
≤ skor kemampuan siswa ≤ 60 cukup
61 ≤ skor kemampuan
siswa ≤ 100 mampu/jelas (Sugito,
2008).
Kunci Jawaban :
Soal nomor
1. Diambil dari lembar
pengamatan siswa saat membaca
2. 5 - 4 = 1
7 - 5 = 2
4 - 1 = 3
8 - 2 = 6
3. a. relative (berdoa, cuci tangan)
b. bicara
Paringin, Juli 2010
Mahasiswa,
Badrudin R
NIM A1E507750
OBSERVASI
KEGIATAN GURU DALAM PEMBELAJARAN
Bidang Studi : Bahasa Indonesia
Tema :
Kelas : I
Pertemuan : 1 2
3 4
Siklus : I II
|
No
|
Indikator/aspek yang diamati
|
Skor Nilai
|
||||
|
0
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
I
|
Prapembelajaran
|
|
|
|
|
|
|
1. Kesiapan ruang, alat
dan media pembelajaran
|
|
|
|
|
|
|
|
2. Memeriksa kesiapan
siswa
|
|
|
|
|
|
|
|
II
|
Membuka pelajaran
|
|
|
|
|
|
|
1.
Kesesuaian kegiatan
appersepsi dengan materi ajar
|
|
|
|
|
|
|
|
2. Menyampaikan
kompetensi/tujuan yang akan dicapai
|
|
|
|
|
|
|
|
III
|
Kegiatan Inti Pembelajaran
|
|
|
|
|
|
|
A.
Penguasaan materi
pelajaran
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
Menunjukan
Penguasaan
materi pelajaran
|
|
|
|
|
|
|
|
2. Mengaitkan
materi dengan pengetahuan lain
|
|
|
|
|
|
|
|
3. Menyampaikan materi
ajar sesuai dengan hirarki belajar
|
|
|
|
|
|
|
|
4. Mengaitkan materi
dengan realitas kehidupan
|
|
|
|
|
|
|
|
B. Pendekatan/Strategi
Pembelajaran
|
|
|
|
|
|
|
|
1. Menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
|
|
|
|
|
|
|
|
2. Membagikan lembar kegiatan yang berisi
kumpulan huruf
|
|
|
|
|
|
|
|
3. Melaksanakan
pembelajaran secara runtut
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
Menguasai kelas
|
|
|
|
|
|
|
|
5. Membimbig siswa menjawab pertanyaan kemudian
mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban
|
|
|
|
|
|
|
|
6. Memberikan poin setiap jawaban dalam kotak
|
|
|
|
|
|
|
|
7. Melaksanakan
pembelajaran sesuai dengan waktu yang telah dialokasikan
|
|
|
|
|
|
|
|
C.
Pemanfatan media
pembelajaran
|
|
|
|
|
|
|
|
1. Menunjukkan
keterampilan dalam penggunaan media
|
|
|
|
|
|
|
|
2. Menghasilkan pesan
yang menarik
|
|
|
|
|
|
|
|
3. Menggunakan media
secara efektif dan efesien
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
Melibatkan siswa dalam
pemanfaatan media
|
|
|
|
|
|
|
|
D. Pembelajaran yang
menantang dan memacu keterlibatan siswa
|
|
|
|
|
|
|
|
1. Menumbuhkan
partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
Meraspon positif
partisipasi siswa
|
|
|
|
|
|
|
|
3. Memfasilitasi
terjadinya interaksi guru, siswa, dan sumber belajar
|
|
|
|
|
|
|
|
4. Menunjukan sikap
terbuka terhadap respon siswa
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
Menunjukkan hubungan
antar pribadi yang kondusif
|
|
|
|
|
|
|
|
6. Menumbuhkan
keceriaan dan antusiasme siswa dalam belajar
|
|
|
|
|
|
|
|
E. Penilaian Proses
dan Hasil Belajar
|
|
|
|
|
|
|
|
1. Memantau kemajuan
belajar
|
|
|
|
|
|
|
|
2. Melakukan penilaian
akhir sesuai dengan kompetensi
|
|
|
|
|
|
|
|
F. Penggunaan Bahasa
|
|
|
|
|
|
|
|
1. Menggunakan bahasa
lisan secara jelas dan lancar
|
|
|
|
|
|
|
|
2. Menggunakan bahasa
tulis yang baik dan benar
|
|
|
|
|
|
|
|
3. Menyampaikan pesan
dengan gaya yang sesuai
|
|
|
|
|
|
|
|
IV
|
Penutup
|
|
|
|
|
|
|
1. Melakukan refleksi
pembelajaran dengan melibatkan siswa
|
|
|
|
|
|
|
|
2. Menyusun rangkuman
dengan melibatkan siswa
|
|
|
|
|
|
|
|
3. Melaksanakan tindak
lanjut
|
|
|
|
|
|
|
|
Jumlah
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan
skor:
0 =
tidak dilaksanakan
1 =
sangat kurang maksimal
2
=
cukup maksimal
3
=
maksimal
4
=
sangat maksimal
Rata-rata (I+II+III+IV)
33
Paringin, 2010
Observer,
Laila Olfah, S.Pd.
NIP 19850928 200801 2
003
Format Penilaian Observasi Kegiatan Siswa
Bidang Studi : Bahasa Indonesia
Tema :
Kelas : I
Pertemuan : 1 2
3 4
Siklus : I II
Nama Siswa :
|
Nama Siswa
|
Mengarsir
huruf
|
Lafal
|
Intonasi
|
Kemampuan
merangkai huruf
|
Ketepatan
waktu
|
Skor
|
|
A
|
B
|
C
|
D
|
E
|
F
|
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
|
|
|
|
|
|
|
Rata-rata
|
|
|
|
|
|
|
|
Persen
|
|
|
|
|
|
|
Rentang nilai untuk kriteria jelas/sesuai
= 11 sampai 20
Rentang nilai untuk kriteria tidak/tidak
sesuai = 6 sampai 10
Nilai : F = A + B + C + D + E
Skor nilai 30
≤ skor kemampuan siswa ≤ 45 kurang
46
≤ skor kemampuan siswa ≤ 60 cukup
61
≤ skor kemampuan siswa ≤ 100 mampu/jelas
(Sugito, 2008).
Paringin, Juli 2010
Mahasiswa,
Badrudin R
NIM A1E507750
Komentar
Posting Komentar